BENJAMIN Netanyahu, yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah modern Israel, telah lama dituding sebagai sosok yang bertanggung jawab atas berbagai kebijakan represif terhadap rakyat Palestina. Selama masa jabatannya yang panjang sebagai Perdana Menteri, Netanyahu mendorong perluasan permukiman ilegal di Tepi Barat, yang tidak hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga memperparah penderitaan rakyat Palestina yang harus kehilangan tanah dan rumah mereka. Kebijakan ini seringkali disertai dengan penggusuran paksa dan kekerasan yang melukai, bahkan membunuh warga sipil tak berdosa.
Selain itu, Netanyahu juga diduga terlibat dalam berbagai kejahatan perang melalui operasi militer Israel di Gaza yang memakan banyak korban sipil, termasuk wanita dan anak-anak. Setiap serangan besar, yang diklaim sebagai ‘operasi defensif’, kerap diwarnai dengan pemboman wilayah padat penduduk, penghancuran rumah sakit, sekolah, dan fasilitas kemanusiaan. Tindakan-tindakan ini dikritik keras oleh organisasi HAM internasional karena melanggar prinsip proporsionalitas dan perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata.
Tak hanya terhadap Palestina, kepemimpinan Netanyahu juga dipenuhi dengan skandal korupsi yang menggerogoti demokrasi Israel sendiri. Ia tercatat menjadi perdana menteri pertama yang diadili saat masih menjabat, dengan dakwaan penipuan, penyuapan, dan pelanggaran kepercayaan publik. Skandal ini memicu gelombang protes besar-besaran di dalam negeri, menambah daftar panjang kontroversi yang melekat pada namanya.
Namun di balik retorika “demokrasi” dan “keamanan nasional” yang kerap ia suarakan, warisan Netanyahu banyak diwarnai oleh kehancuran, ketidakadilan, dan luka mendalam bagi jutaan rakyat Palestina. Nama Netanyahu menjadi simbol dari kebijakan pendudukan yang brutal dan perlawanan keras terhadap setiap upaya perdamaian yang adil. Sejarah akan mencatat bahwa di balik klaim membela negerinya, kejahatan kemanusiaan tetap menjadi noda gelap dalam perjalanan kekuasaan Benjamin Netanyahu.
Netanyahu, Perdana Menteri Israel yang menjabat dalam beberapa periode sejak 1996, tak pelak, telah menjadi simbol dominasi militer dan penindasan terhadap rakyat Palestina, khususnya umat Islam yang tinggal di Jalur Gaza, Tepi Barat, dan wilayah Yerusalem Timur. Di bawah kepemimpinannya, agresi militer terhadap Palestina sering kali meningkat tajam, meninggalkan jejak penderitaan yang mendalam bagi rakyat yang tak bersenjata.
1. Serangan Brutal ke Gaza
Netanyahu tercatat memimpin serangan besar-besaran ke Jalur Gaza pada tahun 2008–2009, 2012, 2014, dan terbaru pada tahun 2021 dan 2023–2024. Ribuan warga sipil Palestina gugur, termasuk wanita dan anak-anak. Rumah sakit, masjid, dan sekolah menjadi target serangan, yang diduga kuat melanggar hukum internasional dan prinsip kemanusiaan.
2. Ekspansi Permukiman Ilegal
Selama masa kepemimpinannya, pembangunan permukiman Yahudi ilegal di wilayah Tepi Barat meningkat pesat, mengusir penduduk Palestina dari tanah mereka sendiri. Kebijakan ini menyalahi hukum internasional, namun tetap dijalankan dengan dalih “keamanan nasional,” mempersempit ruang hidup bagi rakyat Palestina.
3. Pengepungan Gaza
Netanyahu juga dikenal sebagai arsitek dari pengepungan ekonomi dan militer atas Jalur Gaza yang berlangsung sejak 2007. Blokade ini membuat dua juta penduduk Gaza hidup dalam keterbatasan air bersih, listrik, layanan kesehatan, dan kebebasan bergerak. Ini bukan hanya sebuah krisis politik, tapi juga tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung.
4. Penodaan Masjid Al-Aqsha
Di bawah kebijakan Netanyahu, penyerbuan rutin pasukan Israel ke dalam kompleks Masjid Al-Aqsha menjadi peristiwa yang sangat melukai hati umat Islam dunia. Di bulan Ramadhan, umat Islam yang sedang beribadah kerap diusir dengan gas air mata dan peluru karet. Hal ini memicu kemarahan dunia Islam, yang melihatnya sebagai pelecehan terhadap tempat suci.
BACA JUGA: Golda Meir di Hari Pembakaran Al-Aqsa
Renungan: Sampai Kapan Dunia Diam?
Apakah darah anak-anak Gaza belum cukup membuat hati nurani dunia tergerak? Apakah air mata para ibu Palestina belum cukup untuk mengoyak kemanusiaan? Dunia modern bicara soal hak asasi manusia, tapi mengapa suara Palestina dibiarkan tenggelam di balik propaganda dan politik kekuasaan?
Netanyahu mungkin kuat secara militer dan diplomasi, tapi sejarah mencatat: kezaliman tidak akan kekal. Sebagaimana Fir’aun yang ditenggelamkan, sebagaimana Namrud yang dibinasakan, kezaliman selalu punya akhir.
“Dan janganlah kamu mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak.” 📖 (QS. Ibrahim: 42) []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

