Jangan Seperti Ikan dalam Akuarium: Renungan untuk Muslimah yang Suka Posting Foto di Medsos!

Dini Koswarini
4 Min Read
Foto: Freepik

DI era digital ini, tidak sedikit di antara para muslimah yang sebenarnya sudah menjaga diri untuk tidak keluar rumah tanpa alasan syar’i, tidak bepergian kecuali ada kebutuhan mendesak, bahkan mengenakan hijab yang panjang dan pakaian yang syar’i. Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: foto-foto diri yang tetap diunggah dan dipublikasikan di media sosial.

Kita perlu merenung sejenak: apa gunanya seorang wanita telah berdiam diri di rumahnya, tetapi foto-foto dirinya bertebaran di internet dan bisa dilihat jutaan mata laki-laki?

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Setiap keindahan yang ditampakkan, akan membangkitkan syahwat yang ada di dalam dada.” (Al-Jawabul Kafi)

Seorang wanita, meskipun ia berada di balik tembok rumah, jika dirinya tetap menampakkan keindahan — baik secara langsung maupun melalui gambar, video, atau siaran langsung — maka sama saja ia menampakkan auratnya kepada khalayak ramai. Layaknya ikan dalam akuarium yang seolah-olah “di dalam”, tapi tetap bisa dinikmati pandangan siapa saja.

BACA JUGA:   Benarkah Medsos Menjauhkan Manusia dari Tuhan?

Media Sosial: Senjata Bermata Dua

Media sosial adalah alat, dan setiap alat tergantung bagaimana kita menggunakannya. Jika seorang muslimah menggunakannya untuk dakwah, berbagi ilmu, atau menyebarkan kebaikan, tentu menjadi pahala. Namun, jika digunakan untuk memamerkan keindahan diri, meski hanya “selfie” dengan jilbab syar’i, maka syariat tetap menilai itu sebagai bentuk tabarruj yang dilarang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Imam Asy-Syaukani dalam tafsir Fathul Qadir menjelaskan, ayat ini memerintahkan wanita mukminah untuk menahan diri agar tidak menampakkan perhiasan atau kecantikan di hadapan laki-laki non-mahram.

Bagaimana dengan foto? Bukankah “hanya” gambar?

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan:

“Termasuk dari tabarruj adalah wanita yang memamerkan foto dirinya kepada laki-laki non-mahram, meskipun ia menutup aurat, karena wajah dan penampilan juga termasuk fitnah.” (Al-Muntaqa)

Fitnah Pandangan

Rasulullah ﷺ bersabda: “Pandangan itu adalah panah beracun dari panah-panah Iblis.” (HR. Al-Hakim, hasan)

Foto seorang muslimah, apalagi yang menampakkan senyum, gaya, atau sekadar menoleh, tetap bisa menjadi panah beracun bagi hati laki-laki. Kita tidak pernah tahu siapa saja yang melihat foto itu, apa yang ada di benak mereka, dan bagaimana mereka menyalahgunakan foto tersebut.

Jangan sampai niat “sekadar update” atau “sekadar mengabadikan momen” menjadi sebab kita menanggung dosa yang mengalir setiap kali foto itu dilihat, disimpan, atau bahkan disebarkan.

Renungan: Kehormatan Itu Mahal

Hakekat hijab bukan hanya kain yang menutupi tubuh, tapi juga hijab digital — menjaga diri agar tidak menjadi konsumsi mata publik, termasuk lewat media sosial.

Dulu, para istri Nabi ﷺ adalah wanita yang paling mulia, paling bertakwa, tetapi mereka tetap diperintahkan untuk berbicara dari balik tabir. Bahkan, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha merasa sangat berat ketika terpaksa terlihat oleh laki-laki asing.

BACA JUGA:  10 Cara Menjaga Kehormatan Muslimah

Kita — yang jauh di bawah kemuliaan mereka — justru dengan ringan mengunggah foto, video, bahkan aktivitas sehari-hari, dan mengundang mata yang tidak berhak.

Menjadi Muslimah yang Tersembunyi

Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Sebaik-baik wanita adalah yang jika dipandang menyenangkan suaminya, dan jika diperintah ia taat, dan ia tidak menampakkan dirinya serta hartanya kepada orang yang tidak berhak.” (HR. Thabrani)

Maka, jadilah muslimah yang seperti mutiara tersembunyi: mahal, tidak mudah terlihat, dan tidak murah di hadapan dunia. Kehormatan dan rasa malu adalah kemuliaan terbesar seorang wanita.

Penutup

Jangan seperti ikan dalam akuarium. Meski di dalam rumah, foto yang tersebar membuat banyak mata tetap dapat memandang. Jadikan media sosial sebagai sarana kebaikan, bukan pintu fitnah. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *