Perjalanan Sel Darah Merah dalam Tubuh Manusia, Begitu Menakjubkan!

Yudi
By Yudi
8 Min Read
Foto: freepik

PERNAHKAH  kita membayangkan betapa sibuknya tubuh manusia setiap detik? Tanpa kita sadari, ada sebuah “angkutan kehidupan” yang terus berkeliling ke seluruh penjuru tubuh: sel darah merah (eritrosit). Mereka bekerja tanpa henti, membawa oksigen ke setiap jaringan dan mengambil karbon dioksida untuk dikeluarkan. Tanpa mereka, hidup manusia tidak akan berlangsung lebih dari beberapa menit saja.

Subhanallah, di balik kesibukan yang sunyi itu, tersimpan tanda kebesaran Allah. Bagaimana mungkin sel kecil yang ukurannya hanya sekitar 7–8 mikrometer ini mampu memikul tugas besar yang menentukan hidup dan mati manusia?

Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan pada diri kalian sendiri, apakah kalian tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)

Ayat ini mengajak kita merenung, bahwa tubuh manusia sendiri adalah bukti nyata kekuasaan Allah.

Penciptaan Sel Darah Merah: Anugerah yang Tak Terhitung

Setiap hari, sumsum tulang manusia memproduksi sekitar 200–250 miliar sel darah merah baru. Jumlah ini luar biasa, mengingat umur satu sel darah merah hanya sekitar 120 hari sebelum akhirnya hancur di limpa atau hati.

Prof. Guyton dalam bukunya Textbook of Medical Physiology menjelaskan bahwa sel darah merah tidak memiliki inti (nukleus), sehingga seluruh ruangnya bisa dipenuhi oleh hemoglobin. Hemoglobin inilah yang menjadi “pengangkut oksigen” paling efektif di dunia.

Tanpa sel darah merah, oksigen dari paru-paru tidak akan bisa sampai ke otak, jantung, atau otot kita. Bayangkan, jika tubuh kekurangan eritrosit, maka timbullah anemia: tubuh lemas, kepala pusing, konsentrasi menurun, bahkan bisa berujung pada gagal organ.

Perjalanan Menakjubkan Sel Darah Merah

Lahir di sumsum tulang

Sel darah merah bermula dari sel induk (stem cell) di sumsum tulang. Mereka melalui proses pematangan hingga akhirnya berbentuk cakram bikonkaf yang lentur. Bentuk ini bukan kebetulan, melainkan ciptaan Allah agar sel dapat masuk ke pembuluh darah terkecil sekalipun, yang ukurannya lebih sempit dari dirinya.

https://s.shopee.co.id/LhtgZhWNW

Berangkat dari jantung

Dari jantung, sel darah merah dipompa ke paru-paru. Di sinilah ia mengambil oksigen melalui pertukaran di alveolus. Oksigen kemudian terikat pada hemoglobin, menjadikan darah tampak merah segar.

Mengantarkan oksigen ke seluruh tubuh

Dari paru-paru, ia dibawa ke jantung kembali, lalu dipompa menuju seluruh tubuh. Setiap sel tubuh—dari ujung rambut hingga ujung kaki—menanti pasokan oksigen dari sel darah merah. Inilah yang membuat manusia bisa berpikir, bergerak, dan hidup.

Mengangkut sisa metabolisme

Setelah mengantar oksigen, sel darah merah tidak pulang dengan tangan kosong. Ia membawa karbon dioksida (hasil pembakaran energi) untuk kembali ke paru-paru, lalu dikeluarkan melalui hembusan napas.

Akhir perjalanan: dikembalikan ke bumi

Setelah 120 hari, sel darah merah akan rusak. Limpa bertugas memecahnya, dan hemoglobinnya didaur ulang menjadi zat besi dan bilirubin. Zat besi dipakai lagi untuk membuat sel baru, sedangkan bilirubin dikeluarkan lewat empedu. Sungguh sebuah sistem daur ulang yang sempurna!

Dalil Al-Qur’an tentang Darah dan Kehidupan

Allah menyinggung peran darah dalam Al-Qur’an: “Dan sesungguhnya pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kalian. Kami memberi minum kalian dari apa yang ada dalam perutnya, (berupa) susu yang bersih antara kotoran dan darah…” (QS. An-Nahl: 66)

Ayat ini menunjukkan betapa Allah menyinggung keberadaan darah sebagai medium yang membawa nutrisi, lalu dari situ Allah ciptakan susu yang suci dan bermanfaat. Jika darah saja sudah menjadi tanda kekuasaan-Nya, bagaimana dengan perjalanan sel darah merah yang bekerja begitu rinci?

Pandangan Medis: Keajaiban Fisiologi

Para ahli medis modern kagum terhadap keteraturan sistem peredaran darah.

William Harvey, penemu sirkulasi darah pada abad ke-17, menyebut bahwa darah adalah “rahasia kehidupan” yang terus berputar tanpa henti.

Penelitian modern dalam Journal of Physiology (2019) menjelaskan bahwa fleksibilitas bentuk sel darah merah adalah kunci agar oksigen bisa sampai ke jaringan yang sangat jauh sekalipun.

Prof. Sherwood dalam Human Physiology menegaskan, tanpa transportasi oksigen oleh eritrosit, otak manusia hanya mampu bertahan 3–5 menit sebelum rusak permanen.

Artinya, setiap hembusan napas kita adalah kerja sama jutaan sel darah merah yang tunduk pada aturan Allah.

Renungan Para Ulama Salaf

Ulama salaf sering mengingatkan agar manusia tidak lalai dari tanda-tanda Allah dalam dirinya sendiri.

Imam Al-Ghazali berkata dalam Ihya Ulumuddin: “Barang siapa memperhatikan ciptaan Allah pada dirinya, ia akan tahu betapa lemahnya ia, dan betapa agung kekuasaan Rabbnya.”

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Miftah Dar As-Sa’adah menulis bahwa tubuh manusia adalah kitab Allah yang terbuka, setiap bagian tubuh adalah ayat yang menunjukkan kebesaran-Nya.

Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya tentang tanda kekuasaan Allah, beliau menunjuk pada tubuh manusia dan berkata: “Lihatlah pada darah yang terus mengalir, tidakkah itu cukup bagimu untuk mengetahui Sang Pencipta?”

Manfaat Perjalanan Sel Darah Merah bagi Manusia

1- Menjaga kelangsungan hidup

Tanpa suplai oksigen, tidak ada sel tubuh yang bisa bertahan. Sel darah merah adalah sebab Allah menjaga kehidupan kita.

2- Mengatur energi dan metabolisme

Sel darah merah memastikan otot mendapatkan energi untuk bergerak, otak untuk berpikir, dan jantung untuk terus berdetak.

3- Mengajarkan nilai syukur

Betapa banyak manusia lalai bersyukur, padahal tubuhnya setiap detik dihidupi oleh miliaran sel darah merah yang tak pernah menuntut upah.

4- Menjadi bahan tadabbur iman

Melihat keteraturan perjalanan sel darah merah membuat kita semakin yakin pada firman Allah: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar.” (QS. Fushshilat: 53)

5- Motivasi menjaga kesehatan

Karena peran sel darah merah begitu vital, Islam mengajarkan menjaga tubuh dengan makanan halal dan thayyib, serta menjauhi racun seperti alkohol, narkoba, dan makanan haram yang bisa merusak darah.

BACA JUGA:  Kejahatan-kejahatan Hajjaj bin Yusuf

Penutup

Perjalanan sel darah merah adalah perjalanan hidup manusia itu sendiri. Dari lahir di sumsum tulang, berputar membawa oksigen, hingga akhirnya kembali hancur di limpa—semuanya berjalan dengan teratur tanpa pernah berhenti. Jika kita merenungi hal ini, kita akan merasakan betapa lemahnya diri kita dan betapa agungnya Sang Pencipta.

Sel darah merah tidak pernah mengeluh, padahal tugasnya berat. Ia terus berjuang hingga akhir hayatnya, lalu digantikan generasi baru. Dari sini manusia belajar, bahwa hidup adalah pengabdian tanpa henti kepada Allah, sampai ajal menjemput.

Allah berfirman: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)

Maka, mari kita syukuri nikmat Allah yang luar biasa ini dengan menjaga kesehatan, memperbanyak ibadah, dan merenungkan tanda-tanda kebesaran-Nya dalam tubuh kita sendiri. []

Referensi
Al-Qur’anul Karim.
Guyton, A. C. Textbook of Medical Physiology.
Sherwood, L. Human Physiology: From Cells to Systems.
Journal of Physiology, 2019.
Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin.
Ibnul Qayyim, Miftah Dar As-Sa’adah.
Riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal tentang tadabbur tubuh manusia.

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *