Syekh Yusuf Al-Makassari: Ulama Pejuang yang Mendunia

Yudi
By Yudi
9 Min Read
Foto: Mina News (IG)

KETIKA mendengar nama Syekh Yusuf Al-Makassari, mungkin sebagian orang langsung teringat dengan sosok ulama besar dari tanah Makassar yang sekaligus dikenal sebagai pejuang tangguh melawan penjajah. Beliau bukan hanya tokoh lokal, tetapi sosok global yang jejaknya sampai ke berbagai negara: Makassar, Banten, Aceh, Yaman, India, bahkan hingga Afrika Selatan. Maka tak heran jika Syekh Yusuf sering disebut sebagai “Ulama Internasional dari Nusantara”.

Selain dikenal sebagai ulama dan pejuang, Syekh Yusuf juga merupakan tokoh yang berhasil menyatukan nilai-nilai agama dengan perjuangan politik. Inilah yang membuat namanya tetap hidup dalam ingatan sejarah. Bahkan hingga kini, banyak peneliti menyebut Syekh Yusuf sebagai tokoh “jembatan peradaban”, karena beliau mampu menghubungkan dunia Islam Timur Tengah dengan Nusantara.

Di tengah kehidupan modern sekarang, kisah Syekh Yusuf masih relevan. Dari beliau kita belajar tentang bagaimana ilmu, iman, dan perjuangan bisa berjalan seiring. Beliau mengajarkan bahwa agama tidak hanya berbicara soal ibadah pribadi, tetapi juga tanggung jawab sosial untuk menegakkan keadilan.

Awal Kehidupan: Jejak dari Tanah Makassar

Syekh Yusuf lahir pada 3 Juli 1626 di Gowa, Makassar, dengan nama lengkap Muhammad Yusuf bin Abdullah Abu al-Mahasin al-Taj al-Khalwati al-Makassari. Beliau tumbuh di lingkungan bangsawan, tetapi sejak kecil sudah menunjukkan minat besar pada ilmu agama. Menurut sejarawan Azyumardi Azra (2004), Syekh Yusuf sudah belajar dasar-dasar Al-Qur’an dan fikih di usia sangat muda, sebelum akhirnya memutuskan untuk berkelana menuntut ilmu ke berbagai penjuru dunia.

Menariknya, meskipun lahir dari keluarga bangsawan, Syekh Yusuf justru memilih jalan hidup yang sederhana. Beliau lebih suka menghabiskan waktu bersama para ulama, belajar kitab, dan mengamalkan ilmu. Dari kecil sudah terlihat sifat rendah hati dan kehausan pada ilmu. Para gurunya pun mengakui kecerdasannya, sehingga beliau sangat cepat memahami berbagai cabang ilmu agama.

BACA JUGA:  Kyai Beli Anjing

Yang membuat beliau unik adalah semangat mencari ilmu yang luar biasa. Di usia remaja, beliau sudah pergi ke Banten dan kemudian ke Aceh. Dari sana, perjalanan intelektualnya terus berlanjut ke Yaman, Mekkah, dan Madinah. Di Hijaz, beliau belajar kepada banyak ulama terkenal, termasuk Syekh Ibrahim bin Hasan al-Kurani, seorang ulama sufi besar. Tidak berhenti di situ, beliau juga sempat singgah di India, Sri Lanka, hingga Afrika.

Ulama Sufi dengan Pandangan Luas

Syekh Yusuf bukan hanya ahli dalam ilmu fikih, tafsir, dan hadis, tetapi juga dikenal sebagai seorang sufi. Beliau mengikuti tarekat Khalwatiyah, dan kemudian mendirikan cabangnya di Nusantara. Tarekat ini menekankan zikir, kedekatan dengan Allah, dan akhlak mulia.

Namun, yang menarik adalah bagaimana beliau tidak menjadikan tasawuf sebagai alasan untuk menjauh dari dunia. Justru sebaliknya, beliau mempraktikkan tasawuf yang aktif, yaitu spiritualitas yang membimbing umat dalam perjuangan melawan ketidakadilan.

Pemikiran tasawuf Syekh Yusuf juga unik karena menekankan keseimbangan. Beliau sering mengajarkan bahwa seseorang tidak boleh hanya berfokus pada ritual spiritual, tetapi juga harus memberi manfaat bagi sesama. Ajaran ini membuat murid-muridnya bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga aktif dalam kehidupan sosial. Itulah sebabnya tarekat Khalwatiyah yang beliau bawa kemudian berkembang pesat di Nusantara.

Sejarawan Martin van Bruinessen menyebut Syekh Yusuf sebagai contoh nyata “sufi pejuang”, yaitu ulama yang mampu menggabungkan dimensi spiritual dengan dimensi sosial-politik. Hal ini jarang ditemukan pada masa itu, karena banyak sufi memilih jalan menyepi.

Jejak Perlawanan terhadap Penjajah

Setelah menimba ilmu bertahun-tahun, Syekh Yusuf kembali ke Nusantara sekitar tahun 1670-an. Saat itu, Banten sedang berkonflik dengan VOC Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa yang saat itu berkuasa, meminta bantuan Syekh Yusuf. Beliau pun bergabung, bukan hanya sebagai penasihat spiritual, tetapi juga sebagai pemimpin perlawanan.

Di sinilah Syekh Yusuf dikenal sebagai sosok yang ditakuti Belanda. Beliau bukan hanya ulama, tetapi juga ahli strategi. Dengan kharisma dan ilmunya, banyak rakyat yang ikut bergerak melawan penjajahan. VOC sampai kebingungan menghadapi beliau, hingga akhirnya menggunakan tipu daya untuk menangkapnya.

Keterlibatan Syekh Yusuf dalam perjuangan Banten sebenarnya tidak semata-mata soal politik, melainkan karena beliau merasa agama harus hadir di tengah rakyat yang ditindas. Beliau memahami bahwa penjajahan bukan hanya merampas tanah, tetapi juga mengancam kebebasan beragama. Maka, perlawanan ini bagi beliau adalah ibadah, bentuk nyata pengamalan iman dalam kehidupan sosial.

Tahun 1684, Syekh Yusuf berhasil ditangkap. Namun, bukannya membuat perjuangan berhenti, penangkapan ini justru memperluas pengaruh beliau. VOC membuangnya ke Sri Lanka, lalu ke Cape Town (Afrika Selatan). Ironisnya, justru di pengasingan itulah nama Syekh Yusuf makin harum.

Syekh Yusuf di Afrika Selatan: Ulama Diaspora

Di Cape Town, Syekh Yusuf tidak tinggal diam. Beliau membangun komunitas muslim yang kelak menjadi cikal bakal masyarakat muslim Afrika Selatan. Bahkan, masyarakat di sana mengenalnya sebagai “Father of Islam in South Africa”.

Masyarakat Cape Town sangat menghormati Syekh Yusuf karena beliau tidak hanya mengajarkan Islam, tetapi juga menjadi penengah dalam konflik sosial yang terjadi di sana. Beliau berhasil membentuk komunitas muslim yang solid, sehingga agama Islam bertahan dan berkembang meski dalam tekanan kolonial Belanda. Sampai hari ini, keturunan murid-murid beliau masih melestarikan tradisi keislaman yang diwariskan.

Profesor Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara menegaskan bahwa Syekh Yusuf adalah tokoh kunci dalam jaringan ulama internasional. Beliau bukan hanya mengajar agama, tetapi juga memberikan teladan tentang perlawanan terhadap ketidakadilan. Itulah sebabnya, hingga kini nama Syekh Yusuf sangat dihormati di Afrika Selatan. Bahkan, makamnya di Cape Town menjadi salah satu situs sejarah penting.

Pemikiran dan Warisan

Syekh Yusuf meninggalkan banyak karya tulis, terutama tentang tasawuf dan syariah. Beberapa di antaranya adalah:

Zubdatul Asrar (inti rahasia tasawuf)
Bidayatul Mubtadi (panduan syariat dasar)
Al-Barakat al-Sailaniyyah (tentang zikir dan tarekat)

Dari karya-karya itu terlihat jelas bahwa beliau bukan hanya seorang pejuang, tetapi juga seorang pemikir. Beliau menekankan keseimbangan antara syariah (hukum agama), tarekat (jalan spiritual), dan hakikat (pengetahuan batin).

Warisan lain yang sangat penting adalah semangat bahwa agama harus membimbing manusia menuju keadilan sosial. Beliau menolak keras penindasan dalam bentuk apa pun. Pesan ini terasa sangat relevan untuk konteks Indonesia modern, di mana ketidakadilan sosial dan korupsi masih menjadi masalah besar.

Pengakuan dan Penghormatan

Pemerintah Indonesia menetapkan Syekh Yusuf sebagai Pahlawan Nasional pada 1995. Selain itu, beliau juga diakui sebagai tokoh besar di dunia internasional. Di Afrika Selatan, nama Syekh Yusuf diabadikan di berbagai tempat, termasuk di Yusuf’s Kraal (tempat tinggalnya di Cape Town).

Sejarawan Anthony Reid menyebut bahwa Syekh Yusuf adalah tokoh “transnasional” yang berhasil menjembatani budaya Islam Nusantara dengan dunia. Ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh beliau.

Relevansi untuk Kehidupan Modern

Apa yang bisa kita pelajari dari Syekh Yusuf Al-Makassari hari ini?

1. Ilmu dan Iman Harus Seimbang

Beliau menunjukkan pentingnya menuntut ilmu setinggi-tingginya, tetapi tetap berlandaskan iman.

2. Tasawuf yang Aktif

Spiritualitas tidak boleh membuat kita apatis. Justru harus menjadi energi untuk memperbaiki masyarakat.

3. Melawan Ketidakadilan

Pesan perjuangan beliau sangat relevan, terutama ketika melihat masih banyak ketidakadilan di zaman modern.

BACA JUGA: Detik-detik Pemakaman Buya Hamka

4. Identitas Muslim yang Global

Syekh Yusuf adalah bukti bahwa Islam Nusantara bisa memberikan pengaruh besar di panggung dunia.

Jejak Ulama Pejuang

Syekh Yusuf Al-Makassari adalah sosok yang sulit dicari tandingannya. Beliau seorang ulama, sufi, pejuang, sekaligus tokoh internasional. Dari Makassar hingga Cape Town, jejak beliau tetap hidup.

Dalam pandangan Islam, perjuangan seperti yang dilakukan Syekh Yusuf adalah wujud nyata dari jihad fi sabilillah—bukan hanya dalam arti perang fisik, tetapi juga jihad melawan kebodohan, ketidakadilan, dan penjajahan. Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu, dan Syekh Yusuf mengajarkan keduanya: jihad batin melawan diri sendiri, dan jihad lahir melawan penjajah.

Maka, jika hari ini kita ingin meneladani beliau, caranya adalah dengan menuntut ilmu, menjaga iman, memperjuangkan keadilan, dan tetap rendah hati. Itulah warisan sejati dari Syekh Yusuf Al-Makassari yang akan selalu relevan sepanjang zaman. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *