Menyambut Kelahiran Bayi: Belajar pada Bunda Aminah dan Abdul Muthalib

7 Min Read
Foto: Freepik

Seri Pendidikan Anak

ADA sebuah peristiwa yang mengubah jalannya sejarah, bukan hanya sejarah Arab, tetapi sejarah seluruh umat manusia. Peristiwa itu bukan dimulai dengan teriakan, bukan pula dengan perang atau penaklukan, melainkan dengan tangisan pertama seorang bayi. Tangisan yang menggetarkan, yang kelak akan mengisi dunia dengan cahaya wahyu.

Pada malam Senin, tanggal 12 Rabi‘ul Awwal, Tahun Gajah, Makkah berdenyut dengan rahasia. Langit seakan menundukkan diri, bintang-bintang bersinar dengan cara yang berbeda. Di sebuah rumah sederhana, seorang perempuan bernama Aminah binti Wahb menanti dengan doa dan harap. Dialah yang kelak akan dikenal sebagai ibu dari manusia termulia: Muhammad ﷺ.

—

Kelahiran yang Dipeluk Cahaya

Riwayat menyebut, ketika Bunda Aminah melahirkan, beliau melihat cahaya keluar dari dirinya, cahaya yang menembus hingga ke negeri Syam. Cahaya itu bukan cahaya biasa; ia seolah menjadi isyarat bahwa bayi yang baru lahir ini bukan sekadar anak manusia, tetapi seorang pembawa amanat langit.

Bayi itu lahir dalam keadaan yang luar biasa. Sebagian riwayat mengatakan, beliau lahir sudah dalam keadaan bersih, berkhitan, dan tali pusarnya telah terputus. Seolah alam semesta sendiri sedang menyiapkan setiap detail kelahirannya.

Aminah menatap anaknya dengan air mata haru. Betapa agung amanah yang kini berada di pelukannya. Tidak ada Abdullah, suami tercinta yang telah wafat ketika ia mengandung. Kini, hanya dirinya dan bayi mungil itu, ditemani cahaya-cahaya yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

—

Sambutan Seorang Ibu

Dalam riwayat yang ditulis Ibn Hisham, Bunda Aminah berkata: “Ketika beliau lahir, aku melihat cahaya yang menyinari hingga negeri Syam.”

Bayangkan suasana itu: seorang ibu yang baru saja melahirkan, sendirian tanpa suami, namun hatinya dipenuhi keyakinan bahwa anak ini akan membawa perubahan. Ia menamai bayinya Muhammad—sebuah nama yang nyaris tidak dikenal kala itu. Mengapa Muhammad? Karena ia ingin anaknya “dipuji di langit dan bumi”.

Nama itu bukan pilihan sembarangan. Ia seperti ilham ilahi, meneguhkan hati seorang ibu yang sedang sendiri. Seakan Allah sendiri menuntun lisannya, mengajarinya bahwa bayi yang digendongnya akan menorehkan jejak tak terhapus di bumi manusia.

—

Sambutan Abdul Muthalib

Kabar kelahiran itu segera sampai kepada Abdul Muthalib, kakek bayi tersebut. Sang pemimpin Quraisy ini segera bergegas ke rumah Aminah. Baginya, kelahiran cucu ini adalah penghibur di tengah duka, karena Abdullah, ayah sang bayi, telah tiada.

Ketika menggendong bayi mungil itu, Abdul Muthalib merasakan sesuatu yang sulit ia gambarkan. Hatinya bergetar. Ia lalu membawa bayi itu ke Ka‘bah, rumah Allah yang menjadi pusat kehidupan spiritual bangsa Arab. Di sana ia berdoa, bersyukur, dan memohon perlindungan untuk cucunya.

Dalam riwayat disebutkan, Abdul Muthalib juga melakukan tahnik—mengunyah kurma lalu memasukkannya ke mulut bayi—dan kemudian mengadakan aqiqah dengan menyembelih unta. Ia mengundang kaum Quraisy untuk hadir dalam jamuan, sebuah perayaan yang sederhana namun penuh makna.

Saat orang-orang bertanya, “Apa nama bayi ini?” Abdul Muthalib menjawab dengan mantap: “Aku menamainya Muhammad, agar dia dipuji di langit dan dipuji di bumi.” (Ibn Sa‘ad, Thabaqat al-Kubra)

Sejak hari itu, nama Muhammad mulai menggema di Makkah, meski orang-orang Quraisy belum tahu betapa nama itu kelak akan memenuhi sejarah.

—

Nuansa Spiritual

Kelahiran Muhammad ﷺ bukan sekadar kelahiran biologis. Ia adalah kelahiran sejarah, kelahiran peradaban, kelahiran cahaya.

Bagi Aminah, itu adalah momen cinta seorang ibu yang bercampur dengan keajaiban. Bagi Abdul Muthalib, itu adalah amanah besar yang dipeluk dengan penuh hormat.

Dan bagi umat manusia? Itu adalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Tangisan seorang bayi di malam Makkah itu adalah jawaban atas doa Nabi Ibrahim dan Ismail berabad-abad sebelumnya: “Ya Tuhan kami, utuslah di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan ayat-ayat-Mu kepada mereka, mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka…” (QS. Al-Baqarah: 129)

—

Jejak yang Diteruskan Umat

Tradisi menyambut kelahiran Nabi ﷺ kemudian menjadi teladan bagi para sahabat, ulama, hingga sufi. Rasulullah ﷺ sendiri mencontohkan tahnik, adzan, aqiqah, memberi nama baik, dan doa. Para sahabat seperti Umar dan Abu Musa mengajarkan pentingnya memberi nama penuh makna dan doa keberkahan.

Para ulama seperti Imam Nawawi dan Ibnu Qayyim menulis panjang lebar tentang adab kelahiran bayi: dari adzan, aqiqah, mencukur rambut, hingga bersedekah seberat timbangan rambut bayi.

Sementara para sufi menambahkan nuansa batin: Hasan al-Bashri mengingatkan bahwa anak adalah amanah, Rabi‘ah al-Adawiyah menyebut bayi sebagai “cahaya titipan Allah”, dan Rumi menyapa setiap kelahiran sebagai perjalanan ruh untuk pulang ke langit.

BACA JUGA: Mendidik Anak yang Masih di Sulbi Sang Ayah

Refleksi

Mari kita berhenti sejenak dan merenung. Bagaimana kita menyambut kelahiran bayi hari ini? Apakah kita menyambutnya hanya dengan pesta dan seremonial, ataukah dengan doa, dzikir, dan kesadaran bahwa seorang bayi adalah amanah dari Allah?

Kelahiran Muhammad ﷺ memberi teladan bahwa setiap bayi adalah cahaya. Namun, cahaya itu perlu dijaga, diasuh, dan diarahkan. Seperti kata Imam al-Ghazali: “Anak adalah amanah. Hatinya yang suci adalah permata yang masih murni. Jika ia dibiasakan dengan kebaikan, tumbuhlah ia dalam kebaikan. Jika dibiarkan, ia akan rusak.”

Dan bukankah kita semua, dalam satu sisi, adalah bayi-bayi yang lahir untuk berjalan menuju langit?

—

Penutup

Malam kelahiran Nabi Muhammad ﷺ adalah malam ketika bumi dan langit bersua. Aminah menyambut dengan air mata syukur, Abdul Muthalib menyambut dengan doa dan pengorbanan, dan umat Islam menyambutnya sepanjang zaman dengan cinta yang tak pernah padam.

Tangisan pertama itu kini menjelma menjadi lantunan azan di menara, tilawah di setiap rumah, doa di setiap hati. Dari Makkah hingga Nusantara, dari abad ke-6 hingga abad ke-21, cahaya itu tetap menyala.

Dan setiap kali seorang bayi lahir, kita seolah diingatkan: setiap kehidupan baru adalah tanda kasih Allah, sebuah kesempatan untuk menjaga cahaya, dan menghidupkan kembali doa-doa langit di bumi. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *