6 Wasiat Nabi Muhammad ﷺ yang Masih Relevan untuk Zaman Sekarang

Yudi
By Yudi
8 Min Read
Foto: Freepik

SETIAP tokoh besar dalam sejarah selalu meninggalkan warisan berupa ajaran, gagasan, atau pesan yang tetap hidup bahkan setelah mereka tiada. Nabi Muhammad ﷺ, sebagai sosok teladan bagi umat Islam dan manusia pada umumnya, tentu meninggalkan jejak wasiat yang jauh lebih berharga. Wasiat-wasiat beliau bukan hanya sekadar nasihat singkat, tapi juga prinsip hidup yang bisa jadi pedoman lintas zaman.

Menariknya, meskipun sudah lewat lebih dari 14 abad sejak beliau wafat, banyak dari pesan dan wasiat Nabi ﷺ yang masih terasa sangat relevan untuk kita jalani hari ini—di tengah hiruk-pikuk modernitas, era digital, dan bahkan tantangan global seperti konflik, krisis moral, hingga isu lingkungan.

Artikel ini mencoba menggali beberapa wasiat Nabi Muhammad ﷺ yang paling penting dan menghubungkannya dengan kondisi dunia saat ini, lengkap dengan pandangan para ulama dan pemikir kontemporer.

Wasiat Tentang Shalat: Jangan Pernah Tinggalkan

Di antara pesan paling sering ditekankan Nabi ﷺ, baik dalam khutbah maupun menjelang wafat, adalah tentang shalat. Beliau mengingatkan: “Shalat, shalat, dan (ingatlah) orang-orang yang berada di bawah tanggungan kalian.” (HR. Abu Dawud).

Mengapa Nabi ﷺ begitu menekankan shalat? Karena shalat adalah tiang agama. Dalam pandangan Prof. Quraish Shihab, shalat bukan sekadar ritual formal, tapi “ruang untuk menyambung energi spiritual yang akan memandu manusia dalam kehidupan sehari-hari.” Dengan kata lain, shalat melatih kita untuk hadir, fokus, dan sadar bahwa hidup ini bukan sekadar mengejar dunia.

Sekarang coba bayangkan—di era gadget, media sosial, dan notifikasi yang tak henti, shalat justru jadi momen untuk detoks digital. Lima kali sehari kita diberi kesempatan berhenti dari kesibukan, menata ulang hati, dan mengingat siapa diri kita. Inilah bukti bahwa wasiat Nabi tentang shalat masih amat relevan.

Wasiat Tentang Persatuan Umat

Dalam Khutbah Wada, khutbah perpisahan beliau di Arafah, Nabi ﷺ menegaskan: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh menzaliminya, tidak boleh menghinanya, dan tidak boleh merendahkannya.”

Pesan ini terasa sederhana, tapi jika kita lihat realitas umat Islam hari ini, perpecahan masih sering terjadi: dari konflik politik, perbedaan mazhab, hingga sekadar perdebatan kecil di media sosial.

Menurut KH. Hasyim Muzadi (alm.), perpecahan umat Islam bukan karena ajaran Islam itu sendiri, melainkan karena ego, kepentingan politik, dan kurangnya pemahaman terhadap esensi ukhuwah.

https://s.shopee.co.id/50WlQk7hoJ

Kalau dipikir-pikir, dunia modern justru membutuhkan persatuan. Bayangkan kalau umat Islam yang jumlahnya hampir dua miliar ini benar-benar kompak: tentu punya kekuatan besar untuk menghadapi krisis kemanusiaan, kemiskinan, dan bahkan isu global seperti perubahan iklim. Jadi, jelas sekali bahwa wasiat Nabi ﷺ tentang persatuan masih hidup dan sangat relevan.

Wasiat Tentang Memperlakukan Perempuan dengan Baik

Salah satu pesan Nabi ﷺ yang kuat adalah tentang perempuan. Dalam Khutbah Wada, beliau berpesan: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dalam memperlakukan para wanita. Sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanah Allah.”

Jika kita tarik ke era sekarang, isu tentang kesetaraan gender masih jadi perdebatan global. Di satu sisi, ada budaya patriarki yang merugikan perempuan; di sisi lain, ada arus feminisme ekstrem yang menolak peran alami masing-masing gender.

Nabi ﷺ memberikan jalan tengah yang penuh keadilan: perempuan dihormati, dilindungi, tapi tetap dimuliakan sesuai kodratnya. Amina Wadud, seorang cendekiawan muslimah, menegaskan bahwa ajaran Nabi adalah fondasi utama keadilan gender dalam Islam, bukan ketidaksetaraan.

Artinya, Islam sudah meletakkan standar perlakuan mulia bagi perempuan sejak 14 abad lalu, jauh sebelum dunia modern ramai membicarakan isu gender. Lagi-lagi, wasiat ini membuktikan keabadiannya.

Wasiat Tentang Bahaya Dunia (Harta & Kekuasaan)

Nabi ﷺ pernah mengingatkan: “Sesungguhnya setiap umat mempunyai fitnah (ujian), dan fitnah bagi umatku adalah harta.” (HR. Tirmidzi).

Di era modern, konsumerisme menjadi gaya hidup. Orang berlomba-lomba membeli barang branded, mengukur sukses dengan saldo rekening, dan bahkan rela menghalalkan segala cara demi kekuasaan.

Padahal, Nabi ﷺ sudah memberi peringatan bahwa cinta berlebihan terhadap dunia bisa menjerumuskan. Bukan berarti kita tak boleh kaya, tapi bagaimana cara memperolehnya dan bagaimana cara menggunakannya.

Menurut Buya Hamka, dunia itu ibarat air. Ia dibutuhkan agar perahu bisa berlayar, tapi kalau air itu masuk ke dalam perahu, ia akan menenggelamkannya.

Pesan Nabi ﷺ ini adalah alarm untuk generasi sekarang: jangan sampai kita jadi budak dunia.

Wasiat Tentang Menjaga Amanah

Nabi ﷺ menegaskan dalam sebuah hadis: “Tidak ada iman bagi orang yang tidak dapat dipercaya, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.” (HR. Ahmad).

Di era modern, masalah korupsi, hoaks, dan pengkhianatan amanah menjadi isu besar. Entah di level pejabat tinggi atau sekadar janji kecil dalam keseharian, amanah sering diabaikan.

Kalau saja wasiat Nabi ini benar-benar dipraktikkan, mungkin wajah dunia akan sangat berbeda. Bayangkan kalau semua pejabat amanah, semua pedagang jujur, semua orang menepati janji. Hidup akan jauh lebih tenang.

Wasiat Tentang Persaudaraan Kemanusiaan

Nabi ﷺ tidak hanya berpesan tentang umat Islam, tapi juga menekankan kemanusiaan secara umum. Dalam khutbah perpisahan, beliau menegaskan bahwa semua manusia sama: “Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian satu, dan bapak kalian satu. Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, atau non-Arab atas orang Arab, kecuali dengan takwa.”

Lihatlah betapa modern pesan ini. Di dunia yang masih penuh diskriminasi ras, agama, dan warna kulit, Nabi ﷺ sudah menawarkan konsep kesetaraan universal.

Bahkan Karen Armstrong, seorang sejarawan agama Barat, menyebut bahwa ajaran Nabi Muhammad ﷺ adalah revolusi sosial yang menekankan nilai persaudaraan lintas suku dan ras, sebuah gagasan yang jauh melampaui zamannya.

BACA JUGA: Lelaki Itu Bernama Rasulullah Muhammad

Wasiat yang Tak Lekang oleh Waktu

Kalau kita rangkum, wasiat Nabi Muhammad ﷺ bisa dibagi menjadi beberapa hal inti: ibadah, persatuan, keadilan gender, sikap terhadap dunia, amanah, dan persaudaraan kemanusiaan. Semua itu terasa sangat relevan bahkan untuk tantangan zaman modern.

Dalam pandangan Islam, relevansi ini bukan kebetulan. Nabi Muhammad ﷺ diutus memang untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Artinya, ajaran dan wasiat beliau dirancang bukan hanya untuk abad ke-7 di Jazirah Arab, tapi juga untuk seluruh umat manusia di setiap zaman.

Di era ketika orang mencari makna hidup, resah dengan krisis moral, bingung menghadapi teknologi, bahkan kehilangan arah dalam relasi sosial, wasiat Nabi ﷺ adalah kompas kehidupan yang bisa menuntun kita kembali ke jalan lurus.

Seperti kata Syekh Ali Jum’ah, ulama besar Mesir:“Kalau umat Islam mau kembali membaca ulang wasiat Nabi dengan hati jernih, mereka akan menemukan solusi bagi hampir semua problematika dunia modern.”

Jadi, jelaslah: wasiat Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar pesan masa lalu. Ia adalah warisan hidup, yang akan selalu bisa dijadikan pegangan, sepanjang manusia masih mencari kebenaran. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *