Adab Sebelum Ilmu, Mengapa?

Umar Faqih
3 Min Read

DALAM tradisi keilmuan Islam, ada sebuah kaidah agung yang sering diucapkan para ulama salaf: “Al-adabu fauqal ‘ilm” – adab itu berada di atas ilmu. Artinya, sebelum seseorang menuntut ilmu, ia terlebih dahulu wajib menanamkan adab. Mengapa demikian? Karena ilmu tanpa adab akan melahirkan kesombongan, sementara adab meski tanpa banyak ilmu tetap akan mengantarkan kepada keselamatan dan keberkahan.

Para ulama sejak dahulu menekankan pentingnya adab sebagai fondasi bagi seorang penuntut ilmu. Imam Malik rahimahullah pernah berkata kepada murid-muridnya: “Pelajarilah adab sebelum kalian mempelajari ilmu.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa akhlak, tata krama, dan sikap rendah hati adalah pondasi utama agar ilmu yang dipelajari benar-benar bermanfaat, bukan sekadar menambah wawasan.

BACA JUGA: Kisah Peradaban Islam di Andalusia, Jejak Ilmu Pengetahuan dan Budaya yang Hilang

Adab dalam menuntut ilmu mencakup banyak hal: adab terhadap Allah, adab terhadap guru, adab terhadap sesama penuntut ilmu, serta adab terhadap ilmu itu sendiri. Seorang penuntut ilmu harus menyadari bahwa ilmu hakikatnya adalah cahaya dari Allah, dan cahaya itu tidak akan diberikan kepada hati yang sombong atau akhlak yang rusak. Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengeluhkan kesulitan dalam memahami ilmu, lalu beliau dinasihati oleh gurunya, Waki’, agar meninggalkan dosa. Dari sini kita bisa melihat bahwa kebersihan jiwa (adab) sangat berpengaruh terhadap keberkahan ilmu.

Mengapa adab harus didahulukan sebelum ilmu? Pertama, karena adab menjaga hati dari penyakit ujub dan takabbur. Ilmu tanpa adab sering menjadikan seseorang merasa paling benar, merendahkan orang lain, bahkan berani melawan gurunya. Padahal, ilmu sejati mestinya melahirkan rasa rendah hati dan semakin takut kepada Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28).

Kedua, adab menjadi kunci keberkahan ilmu. Banyak orang yang memiliki pengetahuan luas, namun ilmunya tidak bermanfaat karena hilang keberkahannya. Berbeda dengan mereka yang memiliki adab mulia: meskipun ilmunya sedikit, nasihat dan ucapannya menyentuh hati karena dilandasi ketulusan dan akhlak yang baik.

Ketiga, adab melatih kesabaran dalam menuntut ilmu. Tanpa adab, seseorang mudah merasa bosan, ingin cepat pandai, bahkan tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan. Padahal para ulama besar membutuhkan puluhan tahun duduk di majelis ilmu dengan penuh hormat, sabar, dan rendah hati sebelum akhirnya dikenal sebagai ulama yang dihormati.

BACA JUGA: Bundir Peradaban Barat dan Islamophobia

Oleh karena itu, adab adalah gerbang utama bagi ilmu. Seorang penuntut ilmu ibarat petani: ilmu adalah benih, sementara adab adalah tanahnya. Benih yang baik jika ditanam di tanah yang rusak tidak akan tumbuh, tetapi jika tanahnya subur, meskipun benih kecil akan tumbuh dengan baik.

Kesimpulannya, adab sebelum ilmu adalah prinsip agung dalam Islam yang harus dipegang setiap penuntut ilmu. Tanpa adab, ilmu bisa menjerumuskan kepada kesombongan dan kehinaan. Dengan adab, ilmu akan menjadi cahaya yang membawa keberkahan, membentuk akhlak mulia, serta mendekatkan seorang hamba kepada Allah.[]

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *