Alexander the Great: Raja atau Zulqarnain?

Yudi
By Yudi
10 Min Read
Foto: Freepik

KALAU kita bicara soal tokoh bersejarah yang penuh kontroversi, nama Alexander the Great alias Iskandar Agung selalu muncul di daftar teratas. Dia lahir di Makedonia pada tahun 356 SM, menjadi murid filsuf besar Aristoteles, lalu naik takhta pada usia sangat muda. Dalam waktu singkat, ia menaklukkan hampir seluruh dunia yang dikenal saat itu: dari Yunani, Persia, Mesir, hingga India. Keberanian, kecerdasan strategi, dan visinya membuat namanya tercatat sebagai salah satu penakluk paling hebat dalam sejarah.

Tapi kemudian muncul pertanyaan yang jauh lebih dalam, terutama di kalangan Muslim: Apakah Alexander the Great ini sebenarnya sosok yang sama dengan Zulqarnain yang disebut dalam Al-Qur’an, tepatnya di Surah Al-Kahfi ayat 83–98?

Zulqarnain dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai seorang penguasa besar yang diberi kekuasaan luas oleh Allah, menjelajah hingga ke barat dan timur, serta membangun dinding besar untuk melindungi suatu kaum dari Ya’juj dan Ma’juj. Lalu, benarkah tokoh ini adalah Alexander? Mari kita kupas pelan-pelan.

Alexander Sang Penakluk

Alexander dikenal sebagai seorang raja muda yang sangat ambisius. Dalam usia sekitar 30 tahun, ia sudah menguasai wilayah dari Yunani sampai India. Ia juga dikenal visioner: di Mesir, ia mendirikan kota Alexandria yang hingga kini masih jadi pusat ilmu pengetahuan.

Selain dikenal sebagai ahli strategi militer, Alexander juga punya obsesi pada budaya dan ilmu pengetahuan. Ia sering mengajak para filsuf, ilmuwan, dan sejarawan dalam ekspedisinya. Hal ini membuat daerah-daerah yang ditaklukkannya tidak hanya terpengaruh secara politik, tapi juga secara budaya. Namun, penyebaran budaya Yunani (Hellenisme) ini sekaligus menjadi argumen kuat bahwa Alexander bukan sosok Zulqarnain, karena Al-Qur’an menggambarkan Zulqarnain lebih fokus pada keadilan sosial dan perlindungan moral, bukan sekadar ekspansi budaya duniawi.

Namun, Alexander juga manusia biasa dengan sisi gelapnya. Banyak catatan sejarah menggambarkan ia sebagai pribadi yang kadang arogan, bahkan tak segan menggunakan kekerasan brutal. Dia juga seorang penyembah dewa-dewa Yunani, karena memang lahir dalam tradisi politeisme.

Nah, di sinilah mulai muncul keraguan. Zulqarnain dalam Al-Qur’an jelas adalah hamba Allah yang saleh, tunduk kepada Tuhan yang satu, bukan penyembah berhala. Jadi, apakah mungkin Alexander dan Zulqarnain itu sama?

Zulqarnain dalam Al-Qur’an

Kita coba lihat dulu siapa Zulqarnain menurut tafsir para ulama. Dalam Al-Qur’an, Allah menceritakan bahwa Zulqarnain adalah seorang raja yang diberi kekuatan dan jalan oleh Allah untuk menjelajahi dunia.

  • Ia pergi ke arah barat, melihat matahari “terbenam di laut yang berlumpur hitam.”
  • Lalu ia pergi ke arah timur, bertemu dengan kaum yang tidak punya pelindung dari terik matahari.
  • Kemudian ia membangun dinding besar dari besi dan tembaga cair untuk menahan Ya’juj dan Ma’juj.

Menariknya, nama Zulqarnain sendiri berarti “pemilik dua tanduk.” Banyak ulama menafsirkan makna simbolik ini. Ada yang mengatakan tanduk itu melambangkan dua ujung dunia (timur dan barat) yang berhasil dijelajahi. Ada juga yang menafsirkannya sebagai simbol kekuatan dan ketinggian derajat. Tafsir ini membuat perdebatan semakin kaya, karena Alexander digambarkan dalam banyak patung Yunani memakai mahkota bertanduk, sehingga beberapa penulis klasik mengaitkan tanda visual ini dengan sebutan Qur’ani.

Deskripsi ini membuat banyak sejarawan dan mufasir mencoba mengidentifikasi: siapa sebenarnya Zulqarnain ini?

Pendapat yang Menghubungkannya dengan Alexander

Beberapa ulama klasik memang mengaitkan Zulqarnain dengan Alexander. Misalnya, Al-Tabari dalam tafsirnya menyinggung pendapat yang mengatakan bahwa Zulqarnain adalah Iskandar al-Maqduni (Alexander dari Makedonia). Alasannya sederhana: Alexander dikenal sebagai penakluk besar yang melakukan ekspedisi luas, mirip dengan kisah Zulqarnain.

Alasan lain yang membuat sebagian ulama klasik mengaitkan Zulqarnain dengan Alexander adalah karena literatur Yahudi, Kristen, dan Persia kuno juga sering menampilkan Alexander sebagai tokoh yang diberi “misi besar.” Misalnya, dalam teks apokrif Yahudi yang disebut Alexander Romance, Alexander diceritakan sebagai raja yang berkeliling dunia, bahkan membuat tembok untuk menahan bangsa liar di utara. Narasi inilah yang kemungkinan besar menyusup ke imajinasi orang-orang Arab pra-Islam dan kemudian disandingkan dengan kisah Qur’ani.

Selain itu, dalam tradisi sastra Arab dan Persia, ada sebuah karya berjudul “Iskandarnamah” yang menggambarkan Alexander sebagai sosok heroik bahkan cenderung religius. Karya ini membuat asosiasi antara Alexander dan Zulqarnain semakin populer di dunia Islam pada abad pertengahan.

Pendapat yang Menolak

Tapi banyak ulama lain yang menolak mentah-mentah anggapan bahwa Zulqarnain adalah Alexander. Salah satu alasannya: Alexander adalah penyembah berhala. Sedangkan Zulqarnain jelas disebut sebagai hamba Allah yang beriman.

Ibn Kathir, seorang mufasir besar, menyebut bahwa Alexander bukanlah Zulqarnain yang dimaksud Al-Qur’an. Menurutnya, Zulqarnain adalah sosok lain yang lebih dekat dengan kriteria seorang raja saleh, bukan penakluk Yunani penyembah dewa.

Namun, bantahan keras muncul dari banyak sejarawan Muslim. Mereka menekankan bahwa Al-Qur’an tidak menyebut nama Zulqarnain secara eksplisit sebagai Alexander, jadi identifikasi tersebut hanyalah asumsi. Misalnya, Al-Qur’an sama sekali tidak menyinggung praktik politeisme atau perang besar melawan Persia yang jadi ciri khas Alexander. Justru yang ditonjolkan adalah sisi kerendahan hati Zulqarnain, yang selalu mengatakan bahwa keberhasilannya datang dari Allah, bukan semata dari dirinya. Sifat ini kontras dengan citra Alexander yang dikenal suka mengklaim dirinya sebagai “putra dewa.”

Pendapat ini juga dikuatkan oleh banyak orientalis modern. Misalnya, Maulana Abul Kalam Azad, seorang pemikir Muslim India, berargumen bahwa Zulqarnain kemungkinan besar adalah Cyrus the Great (Koresy Agung), raja Persia yang dikenal adil dan monoteis. Cyrus lebih cocok dengan gambaran Al-Qur’an dibanding Alexander.

Dinding Zulqarnain dan Misteri Sejarah

Salah satu poin penting dalam kisah Zulqarnain adalah dinding besar yang ia bangun untuk menahan Ya’juj dan Ma’juj. Banyak peneliti mencoba menghubungkannya dengan tembok sejarah.

Ada yang menyebut bahwa dinding itu adalah Tembok Besar China. Tapi ada masalah: tembok itu dibangun untuk menahan suku-suku nomaden, bukan Ya’juj dan Ma’juj secara spesifik.

Pendapat lain mengarah ke tembok yang dibangun oleh raja Persia di wilayah Kaukasus, dikenal dengan nama Gerbang Derbent atau Tembok Gog-Magog. Letaknya di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia. Lokasi ini memang mirip dengan gambaran perjalanan Zulqarnain di Al-Qur’an.

Pandangan Ahli Sejarah

Sejarawan modern punya pandangan beragam:

  1. W\.E. Tarn, seorang ahli Alexander, mengatakan tidak mungkin Alexander adalah Zulqarnain, karena keduanya memiliki karakter religius yang sangat berbeda.
  2. Maulana Abul Kalam Azad seperti disebut tadi, lebih mendukung teori Cyrus the Great sebagai Zulqarnain.
  3. Syed Abul A’la Maududi, seorang pemikir Muslim besar abad 20, juga condong pada identifikasi Zulqarnain dengan Cyrus, bukan Alexander.

Jadi, meskipun ada tradisi panjang yang menghubungkan Alexander dengan Zulqarnain, para ahli modern cenderung menolak gagasan itu.

Mengapa Masih Ada yang Percaya Alexander = Zulqarnain?

Sebenarnya, ada alasan sederhana kenapa persepsi ini masih kuat. Alexander adalah tokoh yang sangat terkenal di dunia kuno. Nama dan kisahnya tersebar luas, termasuk sampai ke Persia dan India. Jadi, ketika orang Arab mendengar kisah penakluk dunia, wajar kalau asosiasi langsung jatuh ke Alexander.

Namun, popularitas bukan berarti kebenaran sejarah. Bisa jadi memang ada sosok lain yang lebih sesuai, hanya saja namanya tidak setenar Alexander.

Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Perdebatan Ini?

Terlepas dari siapa sebenarnya Zulqarnain, ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil. Pertama, bahwa kekuasaan adalah amanah. Zulqarnain digambarkan menggunakan kekuatannya bukan untuk menindas, tapi untuk melindungi kaum yang lemah.

Kedua, perjalanan sejarah selalu membuka ruang tafsir. Tidak semua kisah dalam Al-Qur’an harus dicocokkan dengan satu tokoh sejarah spesifik. Yang penting adalah nilai moral dan spiritual yang bisa kita ambil.

 

Dalam perspektif Islam, tidak terlalu penting apakah Zulqarnain itu Alexander, Cyrus, atau tokoh lain. Yang penting adalah sifat-sifat Zulqarnain yang patut diteladani: keadilan, keteguhan iman, dan keberpihakannya kepada yang lemah.

BACA JUGA: Saat Mongol Dikalahkan Bani Mamluk, Kerajaan Singhasari dan Pasai Tumbuh

Islam mengajarkan bahwa sejarah bukan sekadar deretan fakta, tapi juga sumber hikmah. Nabi Muhammad ﷺ sendiri menegaskan bahwa umat terdahulu penuh pelajaran. Dalam hal ini, kisah Zulqarnain memberi gambaran ideal tentang pemimpin yang kuat sekaligus saleh.

Kalau Alexander hanyalah seorang penakluk yang haus kekuasaan, maka Zulqarnain adalah simbol raja yang taat kepada Allah. Jadi, perbedaan keduanya jelas: satu terkenal karena ambisi, yang lain karena iman.

Sebagaimana kata Syekh Abul Hasan Ali Nadwi, ulama besar India: “Kita tidak harus terjebak pada sosoknya, tapi pada spiritnya. Zulqarnain adalah teladan bagaimana kekuasaan bisa menjadi jalan menuju kebaikan.”

Dan di sinilah kita bisa menutup diskusi: Alexander mungkin hebat, tapi Zulqarnain adalah abadi. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *