10 Hal yang Bisa Membuatmu Bangkrut, Mending Hindari

Yudi
By Yudi
6 Min Read
Foto: Freepik

MENGELOLA keuangan pribadi bukan sekadar soal berapa besar penghasilan yang kita dapat, melainkan seberapa bijak kita mengatur pengeluaran. Banyak orang dengan gaji tinggi tetap hidup serba pas-pasan bahkan jatuh ke jurang utang. Salah satu penyebabnya adalah gaya hidup konsumtif dan pengeluaran yang tidak penting.

Ahli ekonomi Robert T. Kiyosaki, penulis buku Rich Dad Poor Dad, pernah menekankan bahwa bukan besar kecilnya gaji yang menentukan kekayaan seseorang, melainkan kemampuan mengelola uang. Jika pengeluaran lebih besar dari pemasukan, cepat atau lambat seseorang bisa bangkrut.

Berikut adalah 10 jenis pengeluaran yang sebaiknya dihindari agar tidak menggerogoti keuangan pribadi.

1. Gaya Hidup Hedonisme

Mengikuti tren tanpa melihat kemampuan finansial adalah jebakan klasik. Mulai dari nongkrong di kafe mahal, liburan mewah demi gengsi, hingga membeli barang branded agar terlihat keren di media sosial.

Menurut Prof. Emil Salim, ekonom senior Indonesia, “Gaya hidup yang tidak sejalan dengan pendapatan hanya akan menjerat seseorang pada masalah keuangan dan utang konsumtif.”

Lebih baik, pilih gaya hidup sederhana dan menabung untuk masa depan.

2. Membeli Barang dengan Utang Konsumtif

Kemudahan kartu kredit dan layanan cicilan membuat banyak orang membeli barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Misalnya, gawai terbaru setiap tahun atau furnitur mewah untuk pamer.

Utang konsumtif tidak menghasilkan aset, malah menambah beban bunga. Ahli ekonomi Sakti Wahyu Trenggono menekankan bahwa utang idealnya digunakan untuk modal usaha atau investasi produktif, bukan gaya hidup.

3. Belanja Online Tanpa Kontrol

Fenomena checkout dadakan saat ada promo flash sale sering kali membuat orang membeli barang tak penting. Diskon besar hanya ilusi, karena tetap saja uang keluar. Jika dilakukan berulang kali, pengeluaran bisa membengkak tanpa terasa. Saran ekonom Aviliani, belanja online perlu dicatat dan dibatasi sesuai anggaran bulanan, bukan sekadar mengikuti emosi sesaat.

4. Kendaraan Pribadi yang Berlebihan

Membeli kendaraan di luar kebutuhan adalah kesalahan fatal. Mobil mewah bukan hanya mahal saat dibeli, tetapi juga membutuhkan biaya perawatan, pajak, asuransi, dan bensin yang besar. Ekonom Chatib Basri pernah mengingatkan bahwa kepemilikan kendaraan harus disesuaikan dengan mobilitas dan kemampuan finansial. Jika transportasi umum mencukupi, tidak ada salahnya mengurangi kepemilikan kendaraan pribadi.

5. Rokok dan Gaya Hidup Tidak Sehat

Rokok, minuman keras, atau kebiasaan jajan makanan tidak sehat termasuk “pengeluaran diam-diam” yang sangat besar. Menurut data BPS, rata-rata rumah tangga di Indonesia menghabiskan lebih banyak untuk rokok daripada pendidikan.

Ekonom Faisal Basri menyebut rokok sebagai pengeluaran boros yang merusak kesehatan sekaligus keuangan. Lebih bijak jika dana tersebut dialihkan untuk investasi kesehatan, seperti olahraga atau membeli makanan bergizi.

6. Membeli Barang Hanya Karena Diskon

Banyak orang terjebak dengan kalimat “beli sekarang, mumpung diskon.” Padahal, diskon bukan alasan untuk membeli barang yang tidak dibutuhkan. Jika dihitung, membeli barang yang tidak dipakai meski harganya murah tetap saja pemborosan.

Ekonom perilaku Richard Thaler, peraih Nobel Ekonomi, menjelaskan bahwa manusia sering tidak rasional dalam pengeluaran karena terjebak pada loss aversion—takut kehilangan kesempatan. Maka, kuncinya adalah belanja sesuai kebutuhan, bukan keinginan.

7. Langganan yang Tidak Dipakai

Zaman digital membuat banyak orang berlangganan layanan streaming, aplikasi premium, hingga gym. Masalahnya, banyak dari layanan itu jarang digunakan. Bayangkan jika punya 4–5 langganan bulanan, nominal kecil bisa menjadi besar dalam setahun. Menurut pakar keuangan pribadi Ligwina Hananto, sebaiknya evaluasi langganan bulanan dan pertahankan hanya yang benar-benar bermanfaat.

8. Membiayai Gaya Hidup Orang Lain

Memberi bantuan kepada keluarga atau teman tentu mulia, tapi jika dilakukan tanpa batas, keuangan pribadi bisa berantakan. Apalagi jika bantuan digunakan untuk membiayai gaya hidup, bukan kebutuhan mendesak. Ekonom Rhenald Kasali mengingatkan pentingnya financial boundary, yakni menolong sesuai kemampuan, bukan sampai mengorbankan kestabilan keuangan sendiri.

9. Investasi Bodong

Banyak orang tergiur keuntungan instan dan terjebak investasi abal-abal. Skema ponzi, arisan online, hingga kripto ilegal sering memakan korban. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kerugian masyarakat Indonesia akibat investasi bodong mencapai triliunan rupiah per tahun.

Ahli ekonomi Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan RI, menegaskan agar masyarakat berhati-hati dan memastikan legalitas sebelum berinvestasi. Ingat, investasi yang menjanjikan “untung besar tanpa risiko” hampir pasti penipuan.

BACA JUGA:  Tips Belanja Hemat dengan Uang Rp 100.000 Sehari untuk Makan 3 Kali

10. Tidak Memiliki Dana Darurat

Meski bukan pengeluaran langsung, ketiadaan dana darurat bisa membuat seseorang bangkrut saat terjadi musibah. Misalnya, kehilangan pekerjaan, sakit mendadak, atau perbaikan rumah yang mendesak. Tanpa tabungan khusus, orang cenderung berutang dengan bunga tinggi.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira menyarankan minimal 3–6 kali pengeluaran bulanan disimpan sebagai dana darurat agar keuangan lebih aman.

Kesimpulan

Bangkrut bukan hanya terjadi karena pendapatan kecil, melainkan karena pola pengeluaran yang salah. Sepuluh poin di atas adalah “jebakan keuangan” yang sering kali dilakukan tanpa disadari.

Ahli ekonomi Adam Smith, bapak ekonomi modern, pernah berkata: “Apa yang bijak untuk seorang kepala keluarga juga bijak untuk sebuah negara.” Artinya, disiplin mengelola pengeluaran bukan hanya penting bagi individu, tapi juga fondasi kestabilan ekonomi secara luas.

Oleh karena itu, biasakanlah hidup sederhana, belanja sesuai kebutuhan, hindari utang konsumtif, serta siapkan dana darurat. Dengan begitu, keuangan akan lebih sehat, jauh dari risiko bangkrut, dan masa depan lebih terjamin. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *