SETIAP manusia pasti pernah merasakan marah. Marah adalah emosi fitrah yang Allah ciptakan dalam diri manusia. Namun, Islam mengajarkan agar kita mampu mengendalikan amarah, karena marah yang tidak terkontrol bisa menjerumuskan kepada dosa dan kerusakan. Rasulullah ﷺ bersabda ketika seorang sahabat meminta nasihat singkat, “Laa taghdhob (Jangan marah).” Beliau mengulanginya berkali-kali, hingga sahabat itu paham bahwa mengendalikan amarah adalah salah satu kunci menuju keselamatan dunia dan akhirat.
Marah seringkali membuat seseorang kehilangan akal sehat. Kata-kata kasar terlontar, tangan bisa melukai, bahkan hubungan yang sudah lama terjalin bisa hancur hanya karena sesaat tidak mampu menahan amarah. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa marah bagaikan bara api yang dinyalakan oleh setan dalam hati manusia. Jika dibiarkan, ia akan membakar habis kebaikan yang ada. Maka tidak heran jika Rasulullah ﷺ menekankan pentingnya menahan marah, sebab siapa yang mampu menahannya, Allah janjikan derajat yang tinggi di sisi-Nya.
BACA JUGA: Studi Hadits “Lautan Minta Izin Tiga Kali Sehari untuk Tenggelamkan Daratan”
Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa menahan amarah padahal ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, lalu Allah memberinya pilihan bidadari mana saja yang ia kehendaki.”
Hadits ini menunjukkan betapa besar pahala yang dijanjikan bagi orang yang sanggup mengendalikan dirinya ketika marah. Bukan sekadar pahala biasa, melainkan kemuliaan yang Allah sediakan di akhirat.
Mengendalikan marah juga merupakan cerminan dari akhlak mulia. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, yang dikenal tegas dan kuat, pernah berkata: “Kekuatan itu bukan pada kemampuanmu menjatuhkan lawan di medan perang, melainkan pada kemampuanmu menahan amarah.” Inilah makna kesabaran sejati, yaitu ketika hati mampu tetap tenang di saat ada dorongan untuk meluapkan emosi.
Lalu, bagaimana cara Islam mengajarkan kita mengendalikan marah? Rasulullah ﷺ memberikan tuntunan praktis. Pertama, membaca ta’awwudz “A’udzu billahi minasy-syaitaanir rajiim,” karena marah adalah bisikan setan. Kedua, mengubah posisi; jika sedang berdiri, duduklah, jika duduk maka berbaringlah. Ketiga, berwudhu, karena wudhu memadamkan api kemarahan dengan sejuknya air. Cara-cara ini sederhana, tetapi terbukti efektif untuk menenangkan hati.
Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita diuji dengan hal-hal kecil yang memancing emosi, seperti perbedaan pendapat, kesalahan orang lain, atau masalah duniawi. Namun, seorang mukmin sejati akan selalu ingat bahwa menahan marah bukanlah kelemahan, melainkan jalan menuju surga. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran: 134, “(Orang yang bertakwa adalah) orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
BACA JUGA: 8 Hadits tentang Pentingnya Menjaga Kesehatan dalam Islam
Maka, jelaslah bahwa “jangan marah” bukan hanya sekadar nasihat moral, tetapi perintah ilahi yang mendekatkan kita kepada ridha Allah. Surga bukan diperoleh dengan banyaknya amalan lahir semata, tetapi juga dengan kesabaran dalam menjaga hati dari sifat buruk, termasuk amarah.
Penutup
Marah adalah ujian, tetapi menahan marah adalah kemenangan. Barangsiapa yang mampu mengalahkan hawa nafsunya ketika marah, Allah janjikan surga sebagai balasan. Maka, mari kita berusaha mengamalkan nasihat Nabi ﷺ: “Jangan marah, maka bagimu surga.”[]
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
