Mendidik Anak Lewat Makanan yang Tak Disukainya

Dini Koswarini
5 Min Read
Foto: Freepik

Seri Pendidikan Anak

SUATU sore, seorang anak kecil duduk di meja makan dengan wajah cemberut. Di depannya terhidang sepiring sayur bening tanpa lauk kesukaannya. Ia mengaduk-aduk sendok, berharap ada ayam goreng atau daging sapi yang biasanya membuat matanya berbinar. Sang ibu tersenyum, lalu berkata lirih, “Nak, tidak setiap hari kita bertemu makanan yang lezat. Kadang Allah memberi kita yang sederhana, agar kita belajar bersyukur.”

Kalimat itu sederhana, namun menyimpan hikmah besar: pendidikan anak bisa dimulai dari meja makan.

—

Rasulullah ﷺ Tidak Mencela Makanan

Rasulullah ﷺ mengajarkan adab yang lembut dalam soal makan. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., “Rasulullah ﷺ tidak pernah mencela makanan. Jika beliau suka, beliau makan. Jika beliau tidak suka, beliau tinggalkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah pelajaran pertama yang bisa diajarkan pada anak: tidak semua makanan harus disukai, tapi jangan pernah mencela nikmat Allah. Bila tidak doyan, cukup ditinggalkan tanpa mengeluh.

Bayangkan jika anak dibiasakan berkata “nggak enak!”, “nggak mau!”, atau melempar makanan hanya karena tidak sesuai seleranya. Pelan-pelan, hatinya akan tumbuh dengan rasa rewel, manja, dan tidak bersyukur.

—

Rumah Nabi dan Cuka yang Dipuji

Ada kisah yang indah dari rumah Rasulullah ﷺ. Suatu ketika, beliau bertanya kepada keluarganya, “Apakah ada lauk?” Mereka menjawab, “Tidak ada, kecuali cuka.” Maka beliau bersabda, “Sebaik-baik lauk adalah cuka.” (HR. Muslim).

Cuka—yang mungkin bagi kita dianggap sederhana bahkan kurang bergizi—justru dipuji Nabi. Mengapa? Karena dalam kesederhanaan, ada latihan jiwa. Dari cuka, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa bahagia bukan karena rasa lidah, tetapi karena hati yang ridha.

Mendidik anak dengan kisah ini akan membuat mereka mengerti: makanan sederhana pun bisa menjadi istimewa bila diterima dengan syukur.

—

Teladan Sahabat dan Ulama

Para sahabat juga mendidik anak-anaknya dengan kesederhanaan. Umar bin Khattab r.a., misalnya, sering mengajak keluarganya makan dengan roti kering dan minyak zaitun. Ia ingin anak-anaknya tidak terbiasa hidup mewah.

Imam Malik dalam al-Muwaththa’ meriwayatkan bahwa sebagian ulama salaf menasihati anak-anaknya: “Jangan biasakan lidahmu hanya menyukai yang lezat, nanti engkau akan sulit hidup bila suatu hari miskin.”

Kisah ini bisa diceritakan kepada anak saat mereka protes karena lauk favorit tidak tersedia. Bahwa para orang saleh mendidik anaknya untuk kuat, bukan sekadar kenyang.

—

Jika Semua Keinginan Dipenuhi

Psikolog anak modern pun sejalan dengan hikmah ini. Dr. William Sears, seorang pakar kesehatan anak, menegaskan bahwa anak yang selalu dituruti semua permintaan makanannya cenderung tumbuh menjadi “picky eater” — pemilih yang rewel, sulit beradaptasi dengan lingkungan baru, dan kurang toleran.

Di sisi lain, penelitian gizi anak dari American Academy of Pediatrics menunjukkan bahwa anak yang terbiasa makan beragam makanan, meskipun sederhana, lebih sehat secara mental dan fisik dibanding anak yang hanya makan sesuai selera.

Sementara, ahli gizi di Indonesia, Dr. Tan Shot Yen, pernah menekankan bahwa membiasakan anak makan makanan rumah sederhana adalah cara menanamkan kesehatan sekaligus karakter. Ia berkata, “Makanan bukan hanya soal gizi, tetapi juga soal membangun rasa syukur dan kebersamaan.”

—

Mendidik dari Meja Makan

Bayangkan sebuah keluarga kecil. Ayah duduk bersama anak-anaknya, di hadapan mereka sepiring sayur bayam dan tempe goreng. Sang anak mengeluh, “Ayah, aku mau ayam bakar.” Sang ayah lalu berkata lembut, “Nak, Rasulullah pun pernah hanya makan cuka, tapi beliau tetap memuji Allah. Hari ini kita belajar menjadi seperti beliau.”

Momen sederhana ini jauh lebih kuat daripada seribu nasihat teoritis. Anak belajar langsung, bahwa lidah tidak boleh lebih besar dari hatinya, dan syukur lebih indah daripada keluhan.

BACA JUGA: Kiat Membuat Kisah Fabel Islami dari Al-Qur’an dan Sirah Nabawiyah untuk Anak

Refleksi

Meja makan adalah madrasah pertama. Di sanalah anak belajar sabar, syukur, adab, bahkan keteguhan hati. Rasulullah ﷺ mencontohkan, para sahabat mempraktikkan, para ulama menasihati, dan pakar kesehatan pun menguatkan.

Janganlah kita terlalu sibuk mengejar makanan terenak untuk anak, hingga lupa bahwa makanan yang paling bergizi bagi jiwanya adalah rasa syukur. Sebab anak yang terbiasa hidup sederhana akan siap menghadapi pahit-manis kehidupan, sementara anak yang dimanjakan dengan selera lidah akan mudah rapuh saat dunia tidak sesuai keinginannya.

Maka, saat anak duduk di meja makan dan berkata, “Hari ini tidak ada ayam?”, jawablah dengan senyum: “Tidak apa-apa, Nak. Rasulullah pun pernah hanya makan cuka, tapi beliau tetap memuji Allah. Mari kita makan dengan gembira, karena nikmat Allah tidak pernah berhenti.”

Di situlah pendidikan sejati dimulai. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *