PERJALANAN itu bermula dari Tripoli, sebuah kota di tepi Laut Tengah, di tanah Syam yang penuh sejarah. Ayah Abdullah bin Shadaqah bercerita, bahwa ia pernah menempuh jalan berbukit di sebelah kota itu. Perjalanan sunyi, hanya ditemani desir angin yang menyapu wajah, dan debu jalan yang beterbangan. Dari kejauhan, tampak bukit kecil yang seakan memanggil langkahnya.
Ia naik perlahan, menapaki tanah berbatu, hingga sampailah di puncaknya. Di sanalah terbentang pemandangan yang membuat hatinya bergetar: tiga kuburan sederhana, berjejer rapi, sejajar satu sama lain. Tidak ada kemewahan, tidak ada marmer berukir. Hanya gundukan tanah dengan ukuran yang sama, seakan menegaskan kesetaraan di hadapan kematian.
Ayah Abdullah mendekat. Pada nisan kuburan pertama, ia membaca tulisan: “Bagaimana hidup ini bisa menyenangkan bagi orang yang tahu bahwa Allah SWT akan memintanya pertanggungjawaban.”
“Lalu, Allah SWT akan menghukum atas kezaliman yang dia lakukan dan memberi ganjaran atas kebaikan yang pernah dia kerjakan.”
Ia terdiam lama. Angin di bukit itu berhembus lebih kencang, seolah ikut menyampaikan pesan nisan. Sejenak ia membayangkan hari ketika manusia berdiri di hadapan Allah, satu per satu dipanggil untuk mempertanggungjawabkan amalnya. Terlintas firman Allah: “Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (QS. al-Hijr: 92–93)
Bukankah setiap detik hidup adalah utang yang akan ditagih? Bukankah setiap amanah akan diminta balasannya? Ayah Abdullah menunduk, hatinya terasa diguncang. Hidup yang ia jalani seolah-olah memantul di nisan itu: tidak ada satu pun langkah yang akan luput dari hisab.
Ia pun melangkah ke kuburan kedua. Tulisan di nisannya berbunyi:
“Bagaimana hidup ini bisa menyenangkan bagi orang yakin bahwa kematian pasti akan mendatanginya secara tiba-tiba.”
“Lalu, kematian merampas kekuasaannya yang besar lagi kuat dan menempatkannya di rumah yang pasti akan ditempatinya.”
Ayah Abdullah memejamkan mata. Kata-kata itu menancap seperti panah ke dalam dada. Kematian tidak pernah mengetuk pintu, tidak menunggu kesiapan, tidak memilih waktu. Ia datang tiba-tiba, merampas kursi kekuasaan, menggulung bendera kebesaran, dan menyeret manusia ke liang lahat. Ia teringat sabda Nabi ﷺ: “Perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan: kematian.” (HR. Tirmidzi)
Bukit itu terasa makin sunyi. Di dalam hati, ia membayangkan para raja, panglima, dan penguasa yang pernah tegak berdiri dengan megah, kini tak berdaya di bawah tanah. Kekuasaan yang dulu membuat orang tunduk, kini tak mampu membelikan secuil cahaya dalam gelapnya kubur.
Dengan langkah gontai, ia bergeser ke kuburan ketiga. Pada nisan itu tertulis: “Bagaimana hidup ini menyenangkan bagi orang yang berujung pada kuburan, tempat tinggalnya yang akan lapuk oleh tanah.”
“Melenyapkan keelokan wajah yang selama ini dipelihara, menghancurkan jasad dan seluruh persendian tulangnya.”
Ayah Abdullah tercekat. Ia teringat wajah-wajah yang pernah menawan, tubuh-tubuh yang gagah, kini tinggal tulang belulang yang rapuh, luluh dalam tanah. Firman Allah terasa menggema di telinganya:
“Dari tanah (itulah) Kami menjadikan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaha: 55)
Kesadaran itu menghantam jiwanya: seindah apa pun wajah, sekuat apa pun tubuh, semuanya akan binasa. Hanya amal saleh yang tetap segar, menjadi penerang di alam kubur.
Tiga nisan, tiga pesan. Semua berjejer sejajar, sama dalam gundukan, sama dalam keheningan. Ayah Abdullah berdiri lama di hadapan mereka. Hatinya dipenuhi renungan: seakan tiga kuburan itu sedang berpesan kepadanya dengan bahasa cinta yang tajam—cinta yang mengingatkan, bukan yang memanjakan.
Namun, siapa sebenarnya penghuni tiga kuburan ini?
Salin dan tempelkan URL ini ke dalam WordPress Anda untuk sematkan
Salin dan tempelkan kode ini ke dalam situs Anda untuk disematkan