SHALAT adalah tiang agama dan ibadah yang paling utama setelah syahadat. Rasulullah ﷺ bersabda, “Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika baik shalatnya maka baiklah seluruh amalnya, dan jika rusak shalatnya maka rusaklah seluruh amalnya.” (HR. Thabrani). Karena itu, menjaga kesempurnaan shalat bukan hanya tentang gerakan dan bacaan, tetapi juga menghindari perkara-perkara yang bisa mengurangi kekhusyukan serta pahala.
Para ulama salaf sangat memperhatikan adab dalam shalat. Al-Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata: “Shalat seorang mukmin itu penuh khusyuk, penuh rasa takut, penuh harap. Itulah shalat yang menyelamatkan mereka dari kelalaian.” Oleh karena itu, setiap gerakan dan sikap yang tidak sesuai sunnah Nabi ﷺ hendaknya dihindari, agar shalat tetap terjaga dari perkara-perkara yang makruh bahkan bisa membatalkan.
Beberapa Perkara yang Dimakruhkan dalam Shalat
1- Bermain-main dengan pakaian atau anggota badan tanpa keperluan
Rasulullah ﷺ bersabda kepada orang yang mengusap debu ketika sujud: “Jika engkau melakukannya, maka cukup sekali saja.” (HR. Bukhari no. 1207).
2- Berkacak pinggang
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Dilarang shalat sambil berkacak pinggang.” (HR. Bukhari no. 1220).
3- Mengangkat pandangan ke langit
Rasulullah ﷺ bersabda: “Hendaklah orang-orang berhenti mengangkat pandangan mereka ke langit ketika berdo’a dalam shalat, atau mata mereka akan tersambar.” (HR. Muslim no. 429).
4- Menoleh tanpa keperluan
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda: “Ia adalah curian yang dilakukan setan terhadap shalat seorang hamba.” (HR. Bukhari no. 751).
5- Memandang sesuatu yang memalingkan hati
Nabi ﷺ pernah bersabda setelah shalat dengan pakaian bercorak: “Tanda pada pakaian ini telah menyibukkanku. Bawalah ke Abu Jahm dan bawakan aku pakaian polos.” (HR. Bukhari no. 373).
6- Sadl (menjulurkan pakaian hingga menyentuh tanah) dan menutup mulut
Rasulullah ﷺ melarang sadl dan menutup mulut ketika shalat. (HR. Abu Dawud no. 643).
7- Menguap
Rasulullah ﷺ bersabda: “Menguap dalam shalat berasal dari setan. Jika salah seorang dari kalian menguap, maka tahanlah sebisanya.” (HR. Bukhari no. 3289).
8- Meludah ke arah kiblat atau ke kanan
Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian shalat, Allah berada di hadapannya. Maka janganlah ia meludah ke depan atau ke kanan.” (HR. Bukhari no. 406).
9- Menyilangkan jari-jemari
Rasulullah ﷺ melarang menyilangkan jari-jari ketika menunggu shalat di masjid. (HR. Bukhari no. 482).
10- Menggulung rambut atau pakaian saat sujud
Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota dan tidak menggulung rambut atau pakaian.” (HR. Bukhari no. 812).
11- Turun sujud seperti unta
Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian hendak sujud, jangan turun seperti unta, tetapi letakkan tangan sebelum lututnya.” (HR. Abu Dawud no. 840).
12- Membentangkan tangan seperti anjing saat sujud
Rasulullah ﷺ bersabda: “Bersikaplah pertengahan ketika sujud, dan jangan membentangkan tangan sebagaimana anjing.” (HR. Bukhari no. 822).
13- Shalat saat makanan sudah tersaji atau menahan buang hajat
Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak sempurna shalat ketika makanan sudah dihidangkan atau ketika menahan buang air besar maupun kecil.” (HR. Muslim no. 560).
BACA JUGA: Hal-Hal Yang Diperbolehkan Dalam Shalat
14- Mendahului imam
Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah menjadikan kepalanya seperti kepala keledai?” (HR. Bukhari no. 691).
15- Menjawab salam dengan isyarat tangan
Ketika ditanya tentang cara Rasulullah ﷺ menjawab salam dalam shalat, Abdullah bin Umar berkata: “Beliau menjawab dengan isyarat telapak tangan, bagian dalam menghadap ke bawah dan bagian luar menghadap ke atas.” (HR. Tirmidzi no. 368).
Penutup
Menjaga shalat dari hal-hal yang dimakruhkan adalah bentuk kesungguhan dalam meraih kekhusyukan dan kesempurnaan ibadah. Ulama salaf sangat hati-hati dalam perkara ini. Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata: “Khusyuk dalam shalat adalah rahasia shalat, ruhnya, dan tujuan utamanya.” (Latha’if al-Ma’arif, hlm. 162). Maka, barangsiapa ingin shalatnya bernilai tinggi di sisi Allah, hendaklah ia berusaha melaksanakan sunnah dan meninggalkan semua yang dapat mengurangi kesempurnaannya. []
Referensi Shahih
Shahih al-Bukhari no. 1207, 1220, 373, 406, 482, 691, 751, 812, 822
Shahih Muslim no. 429, 560
Sunan Abu Dawud no. 643, 840
Jami’ at-Tirmidzi no. 368
Latha’if al-Ma’arif, Ibnu Rajab al-Hanbali
Aunul Ma’bud, Syamsul Haq
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
