7 Cara Membiasakan Anak Rapi di Kamarnya ala Minimalis

Dini Koswarini
8 Min Read
Foto: Freepik

Seri Pendidikan Anak

PERNAHKAH kita merasa lelah karena kamar anak selalu berantakan, meski sudah berulang kali dibereskan? Mainan tercecer di lantai, lemari yang penuh sesak, hingga buku yang menumpuk tanpa pernah tersentuh. Seolah, semakin kita rapikan, semakin cepat pula ia kembali kacau.

Namun mungkin masalahnya bukan terletak pada anak yang enggan membereskan. Mungkin sumber masalahnya justru pada terlalu banyaknya barang di kamar itu sendiri.

Francine Jay, penulis buku Seni Hidup Minimalis (Kompas Gramedia), mengingatkan bahwa semakin sedikit barang yang kita miliki, semakin mudah hidup dijalani. Prinsip ini tidak hanya berlaku bagi orang dewasa, tetapi juga bagi anak-anak. Dan menariknya, bila kita menelusuri jejak Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan ulama besar, mereka justru telah lama mempraktikkan hidup sederhana, jauh sebelum istilah “minimalis” populer di dunia modern.

Mari kita lihat tujuh cara sederhana yang bisa kita terapkan untuk membiasakan anak rapi di kamarnya dengan sentuhan gaya hidup minimalis—gaya hidup yang juga pernah menjadi ciri rumah para salihin.

—

1. Ajarkan Anak Mengenali Kegunaan Barang

Langkah pertama adalah mengajarkan anak mengenali peran setiap barang. Jay mengelompokkan barang menjadi tiga kategori:

Fungsional: barang yang benar-benar dipakai, seperti meja belajar atau mainan utama.

Dekoratif: hiasan yang mempercantik ruang, meski tidak selalu esensial.

Emosional: benda yang menyimpan kenangan, seperti hadiah ulang tahun atau hasil karya tangan.

Dengan mengenali fungsi ini, anak belajar bahwa tidak semua benda harus disimpan selamanya.

Francine Jay menulis, “Begitu kita memahami peran sebuah barang, kita bisa lebih mudah memutuskan apakah ia pantas bertahan atau lebih baik dilepaskan.”

Rasulullah ﷺ juga mencontohkan hal serupa. Rumah beliau begitu sederhana; perabotan hanya seperlunya. Kadang hanya ada tikar anyaman, bantal berisi serabut kurma, dan bejana air. Bahkan pernah, ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu melihat bekas tikar di tubuh Nabi karena beliau berbaring di atasnya, Umar pun menangis. Rasulullah ﷺ menjawab dengan lembut, “Apalah artinya dunia bagiku? Aku di dunia hanyalah seorang pengembara yang beristirahat di bawah pohon, lalu meninggalkannya.”

Dari sini kita bisa mengajarkan anak: barang itu hanya alat, bukan tujuan.

—

2. Tekankan bahwa “Anda Bukan Barang Anda”

Sering kali, orang—termasuk anak-anak—merasa lebih bernilai karena memiliki sesuatu. Banyak mainan, sepatu bermerek, atau hiasan terbaru seolah bisa menaikkan harga diri. Padahal, identitas tidak pernah melekat pada barang.

Francine Jay menegaskan, “Kita sering kali membeli bukan untuk kebutuhan, melainkan untuk citra diri yang ingin kita tampilkan. Padahal, barang tidak pernah bisa mendefinisikan siapa kita.”

Lihatlah bagaimana para sahabat memahami hal ini. Umar bin Khattab, meski seorang khalifah yang disegani, hidup sangat sederhana. Pakaian beliau penuh tambalan, dan beliau tidak merasa malu. Identitas Umar bukan ditentukan oleh pakaian, tetapi oleh akhlak, iman, dan keadilan yang beliau tegakkan.

Mengajarkan anak untuk tidak menggantungkan nilai dirinya pada barang akan membuat mereka tumbuh lebih percaya diri, apa pun yang mereka miliki atau tidak miliki.

—

3. Kurangi Barang, Kurangi Stres

Pernahkah kita perhatikan betapa anak mudah frustasi ketika mencari sesuatu di kamar yang penuh sesak? Mainan favorit entah di mana, buku latihan hilang di antara tumpukan. Justru terlalu banyak barang membuat anak lebih mudah stres.

Jay menulis, “Semakin banyak barang yang kita miliki, semakin banyak pula energi, waktu, dan ruang yang mereka curi.”

Betapa tepat kalimat ini. Semakin sedikit barang, semakin mudah merapikan, semakin lega ruang untuk bergerak.

Hidup sederhana juga menjadi kunci ketenangan para ulama. Imam Malik, misalnya, terkenal sederhana dalam rumahnya, tetapi kaya ilmu dan wibawa. Mereka mengurangi keterikatan dengan barang, sehingga pikirannya lapang untuk menuntut ilmu dan beribadah.

—

4. Lepaskan Barang yang Tak Terpakai

Langkah berikutnya adalah membiasakan anak melepas barang yang sudah tidak digunakan. Baju yang kekecilan, mainan rusak, atau buku lama bisa diberikan kepada orang lain.

Francine Jay mengingatkan, “Kita tidak bisa memegang erat masa lalu jika ingin bergerak bebas di masa depan.”

Rasulullah ﷺ dan para sahabat sangat ringan tangan dalam memberi. Banyak kisah sahabat yang menyedekahkan apa yang mereka cintai. Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu, misalnya, pernah menyedekahkan kebun kesayangannya setelah turun ayat: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)

Melepaskan barang bukanlah kehilangan, melainkan pembebasan—dan itu bisa kita ajarkan sejak kecil.

—

5. Jadilah “Penjaga Pintu”

Jay memberi nasihat singkat, “Setiap barang adalah tamu di rumah kita. Jangan izinkan mereka masuk tanpa undangan yang jelas.”

Ajarkan anak untuk bertanya sebelum menerima atau membeli sesuatu: “Apakah aku benar-benar membutuhkannya?”

Dengan cara ini, kamar tidak lagi cepat penuh dengan barang-barang yang hanya menyita ruang.

Rasulullah ﷺ pun hidup dengan prinsip ini. Beliau tidak membiarkan sesuatu menumpuk sia-sia. Bahkan, makanan yang tersisa tidak pernah beliau biarkan mubazir. Setiap yang masuk ke rumah beliau selalu jelas gunanya.

—

6. Nikmati Ruang Kosong

Kita terbiasa mengisi setiap sudut kamar dengan barang. Padahal, ruang kosong adalah karunia. Ruang kosong memberi napas bagi rumah.

Francine Jay menyebutnya sebagai “keindahan ruang kosong—ruang bagi imajinasi, gerak, dan ketenangan jiwa.”

Anak yang kamarnya lapang akan lebih mudah berkreasi. Ia bisa bermain lego tanpa terganggu tumpukan, membaca dengan tenang, bahkan beribadah dengan khusyuk.

Ingatlah bagaimana rumah Nabi ﷺ yang sederhana. Tidak ada hiasan berlebihan, tetapi di situlah lahir doa-doa, ilmu, dan keputusan besar yang mengubah dunia.

—

7. Bahagia dengan Cukup

Prinsip terakhir adalah menanamkan rasa cukup.

Jay menulis dengan sederhana, “Kebahagiaan datang bukan dari memiliki segalanya, melainkan dari merasa cukup dengan yang kita miliki.”

Rasulullah ﷺ pun mengajarkan doa, “Ya Allah, jadikanlah rizki keluarga Muhammad berupa kecukupan.” (HR. Muslim). Beliau tidak meminta berlebih, tetapi cukup—cukup untuk hidup, cukup untuk beribadah, cukup untuk berbagi.

Jika anak bisa bahagia hanya dengan mainan favorit atau buku kesayangan, maka ia sudah menapaki jalan minimalisme sejati.

—

Penutup

Membiasakan anak rapi bukan hanya soal menyuruh mereka merapikan kamar setiap hari. Lebih dari itu, ini adalah pendidikan batin: melatih mereka mengenali fungsi barang, melepaskan yang tak berguna, dan mensyukuri yang cukup.

Kamar anak yang rapi dan lapang hanyalah buah luar. Yang lebih penting adalah jiwa yang lapang dan hati yang tenang. Inilah warisan Rasulullah ﷺ, para sahabat, dan ulama salaf—hidup sederhana, bebas dari beban berlebihan, dan bahagia dengan secukupnya.

Seperti pesan Francine Jay: “Kurangi barang, dan Anda akan menambah ruang untuk hidup.” Dan seperti pesan Rasulullah ﷺ: “Kesederhanaan adalah bagian dari iman.”

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *