Negara “Super-Sparta” Netanyahu: Bayangan Sparta Kuno di Tanah Zionis

Nasrulloh Baksolahar
7 Min Read
Foto: Freepik

Prolog: Bayangan Sparta di Yerusalem

SEJARAH memiliki kebiasaan aneh: ia berulang, tetapi dalam bentuk yang berbeda. Kadang, yang berulang bukanlah peristiwa persis sama, melainkan roh dari peristiwa itu—semacam bayangan panjang yang melintasi zaman. Ketika Benjamin Netanyahu menyebut Israel mungkin harus menjadi “Super-Sparta”, banyak orang terperangah. Sparta? Sebuah polis Yunani kuno yang mati lebih dari dua ribu tahun lalu?

Namun sejarah mengajarkan: kadang sebuah bangsa hidup bukan karena tanahnya, melainkan karena idemu yang diwariskan. Sparta mati secara politik, tetapi visinya—sebuah negara militer yang menutup diri dari dunia luar, hidup hanya demi perang—muncul kembali dalam mulut seorang perdana menteri Israel di abad ke-21.

Pertanyaannya: apakah Israel bisa benar-benar menjadi “Super-Sparta”? Atau justru ia akan terjebak dalam nasib yang sama—gagah dalam senjata, rapuh dalam peradaban?

—

I. Sparta: Negara-Kota yang Hidup demi Perang

Sparta lahir di Peloponnesos, Yunani, sekitar abad ke-9 SM. Bukan polis biasa: ia adalah eksperimen sosial yang unik.

Sistem Sosial
Sparta membagi masyarakatnya ketat:

Spartiates (warga penuh, keturunan asli, prajurit elit).

Perioikoi (warga pinggiran, bebas tapi bukan warga penuh, biasanya pedagang dan pengrajin).

Helot (budak, mayoritas populasi, pekerja ladang yang ditindas).

Militer sebagai Nafas
Sejak usia 7 tahun, anak laki-laki Sparta diambil dari keluarga, ditempatkan di barak militer (agoge), dilatih keras: menahan lapar, menanggung rasa sakit, dan berperang tanpa takut mati. Hidup mereka hanya punya satu tujuan: menjadi prajurit.

Politik dan Budaya
Sparta dipimpin oleh dua raja, sebuah dewan tetua (Gerousia), dan majelis rakyat. Tapi dalam praktiknya, militer adalah pusat segalanya. Seni, filsafat, sastra—berbeda dengan Athena—hampir tidak berkembang. Sparta memilih kekuatan otot daripada kekuatan ide.

Hubungan dengan Bangsa Lain
Sparta terkenal dalam Perang Yunani-Persia (480 SM), ketika 300 prajurit Leonidas bertahan di Thermopylae melawan ribuan tentara Persia. Namun, dalam jangka panjang, kekakuan militer membuat Sparta kalah dari Athena dalam pengaruh budaya, dan kemudian dari Thebes serta Makedonia dalam militer. Pada abad ke-4 SM, Sparta mulai runtuh, dan akhirnya hilang dalam bayang-bayang Romawi.

Sejarawan Yunani, Thukydides, menulis: “Negara Sparta tampak kuat dari luar, tetapi di dalamnya rapuh.”

—

II. Netanyahu dan “Super-Sparta” Israel

Loncat ke abad ke-21.

Pada 16 September 2025, Netanyahu berbicara di Yerusalem, mengakui bahwa Israel menghadapi isolasi internasional akibat perang panjang di Gaza. Sanksi senjata dari Eropa, embargo dagang, tekanan diplomatik—semua mengisyaratkan masa depan yang lebih sempit. Dalam kondisi itu, Netanyahu menyebut Israel mungkin harus menjadi “Super-Sparta”.

Apa maksudnya?

1. Kemandirian Ekonomi Militer (Autarki Parsial)
Netanyahu khawatir industri pertahanan Israel dibatasi impor suku cadang dan teknologi. Solusi: Israel harus bisa memproduksi senjata sendiri—dari A sampai Z.

2. Negara Militer-Industrial
Israel harus mengintegrasikan seluruh sistem ekonominya dengan industri pertahanan. Teknologi tinggi, AI, bahkan pertanian—semuanya diarahkan untuk mendukung perang.

3. Sparta Plus Athena
Netanyahu menyebut Israel sebagai “Athena dan Super-Sparta.” Maksudnya: bukan hanya militer kuat (Sparta), tapi juga cerdas dan inovatif (Athena). Namun kritik menilai ini ilusi, karena sejarah menunjukkan Athena dan Sparta adalah dua jalan yang saling bertolak belakang.

4. Isolasi sebagai Nasib
Netanyahu mengakui Israel semakin terisolasi. Tapi alih-alih mencari jalan keluar diplomatik, ia justru menganggap isolasi sebagai peluang untuk menciptakan “kekuatan mandiri.”

—

III. Yahudi dan Karakter dalam Al-Qur’an

Di sinilah Al-Qur’an berbicara.

Al-Qur’an menggambarkan Bani Israil dengan sifat ganda: di satu sisi mereka memiliki sejarah menerima wahyu, melahirkan nabi-nabi. Di sisi lain, mereka sering menyeleweng:

Cinta berlebihan pada kehidupan dunia “Kamu pasti akan mendapati mereka, manusia yang paling tamak akan kehidupan (dunia).” (QS. Al-Baqarah: 96)

Keras kepala dan eksklusif

“Dan mereka berkata: ‘Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari saja.’” (QS. Al-Baqarah: 80)

Ketakutan tanpa iman

“Mereka tidak akan memerangimu dalam keadaan bersatu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau dari belakang tembok.” (QS. Al-Hasyr: 14)

Sifat ini selaras dengan konsep “Super-Sparta”: sebuah bangsa yang ingin kuat secara militer, tapi hidup dalam ketakutan permanen, mengepung dirinya dengan tembok dan senjata.

Ulama besar seperti Ibn Katsir menafsirkan ayat-ayat itu sebagai cermin: bangsa Yahudi bisa menjadi sangat cerdas dan gigih, tetapi tanpa iman mereka jatuh dalam paranoia, eksklusivisme, dan kekerasan.

—

IV. Sparta Modern: Mungkinkah?

Pertanyaan krusial: bisakah konsep “Super-Sparta” diterapkan di abad ke-21?

1. Globalisasi Tidak Bisa Dihindari
Dunia modern adalah jaringan. Negara mana pun—bahkan AS dan Cina—tidak bisa sepenuhnya autarki. Israel kecil, dengan sumber daya terbatas, bagaimana mungkin bisa mandiri total?

2. Kerapuhan Ekonomi Militer-Industrial
Sparta kuno bertahan ratusan tahun karena ekonomi sederhana dan masyarakat kecil. Israel modern adalah ekonomi teknologi tinggi. Jika semua diarahkan untuk militer, sektor sipil akan runtuh.

3. Bahaya Isolasi
Dalam era informasi, isolasi justru mempercepat keruntuhan reputasi internasional. Boikot BDS, embargo senjata, tekanan diplomatik—akan semakin memperlemah legitimasi Israel.

4. Sejarah Mengulang
Sparta kuno runtuh bukan karena kalah dalam satu perang besar, tetapi karena kelelahan dalam hidup permanen sebagai mesin perang. Generasi demi generasi hancur, budaya kering, diplomasi lumpuh. Persis itulah bahaya “Super-Sparta Netanyahu.”

BACA JUGA: Kapan Kejahatan Penjajah Israel Berakhir? Sangat Dekat

V. Refleksi: Jalan Sparta atau Jalan Umar bin Khattab?

Ketika Umar bin Khattab r.a. memasuki Yerusalem pada 638 M, ia datang bukan dengan tembok besi, tapi dengan jubah lusuh, ditemani seorang pelayan. Tidak ada darah, tidak ada pembantaian. Ia membawa Ahd al-‘Umariyah, piagam damai yang menjamin keamanan umat Kristen dan Yahudi.

Inilah perbedaan besar:

Sparta (dan Netanyahu) melihat kekuatan dari tembok, senjata, dan ketakutan.

Islam melihat kekuatan dari keadilan, iman, dan rahmat.

Sejarawan Arnold Toynbee pernah menulis: “Peradaban yang bertahan bukanlah yang paling kuat, tetapi yang mampu memberi makna dan keadilan kepada manusia.”

—

Epilog: Bayangan Sparta di Tanah Zionis

Netanyahu mungkin mengira dengan menjadikan Israel “Super-Sparta”, ia menyelamatkan negaranya dari isolasi. Namun sejarah berkata lain: Sparta tidak mati di medan perang, Sparta mati karena menutup dirinya dari dunia dan dari jiwa manusia.

Al-Qur’an memberi cermin:

Bani Israil yang mengepung diri dengan tembok.

Sparta yang hidup hanya demi perang.

Dan Islam, yang mengajarkan masuk ke Yerusalem dengan damai, bukan dengan pedang.

Jika Israel memilih jalan Sparta, ia mungkin menjadi kuat sesaat. Tapi sejarah sudah menulis: kekuatan yang hanya bertumpu pada senjata, akan runtuh oleh kelelahannya sendiri. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *