1. Sebuah Pertanyaan yang Terus Menggema
“Kapan kejahatan penjajah Israel berakhir?”
Pertanyaan itu berulang kali menggema di hati jutaan orang. Dari jalan-jalan Gaza yang berlumuran debu reruntuhan, dari kamp-kamp pengungsi di Lebanon dan Suriah, dari ruang sidang PBB, hingga dari doa-doa yang lirih di masjid-masjid, gereja-gereja, dan sinagoga-sinagoga yang masih menjunjung tinggi kemanusiaan.
Jawabannya, Insya Allah, lebih dekat dari yang kita duga.
Bukan dengan rumus rumit para pakar geopolitik. Bukan pula dengan algoritma kecerdasan buatan yang menganalisis big data. Sejarah sendiri telah memberi kita pola. Sejarah, yang berulang seperti gelombang, meninggalkan jejak yang bisa kita baca.
2. Jejak Panjang: Dari Sinai Hingga Hijaz
Bukankah perjalanan Bani Israil dari Mesir ke Palestina di era Nabi Musa justru berakhir dengan pengembaraan tersesat di Sinai selama empat puluh tahun?
Bukankah perjuangan yang sempat bersinar di bawah Thalut dan Dawud, akhirnya runtuh dalam kehinaan di era Nebukadnezar, ketika mereka dijadikan budak di Babilonia?

Dan bukankah pemberontakan Bar Kokhba pada tahun 132–135 M yang didengungkan sebagai kebangkitan Yahudi, justru berakhir tragis: Romawi menghancurkan Yerusalem, mengusir orang-orang Yahudi, bahkan melarang mereka menginjakkan kaki di kota suci itu?
Perjalanan itu berulang. Bahkan di Jazirah Arab, ketika mereka berharap Nabi terakhir muncul dari keturunan mereka, kenyataan berkata lain. Rasulullah ﷺ lahir dari bangsa Arab, bukan Bani Israil. Maka lembaran sejarah pun mencatat: Yahudi di Madinah terusir di masa Rasulullah, dan selebihnya tersapu bersih dari Hijaz di masa Umar bin Khattab r.a.
Sejarah itu mengajarkan sesuatu: kekuasaan yang dibangun di atas kesombongan, pengkhianatan, dan penindasan tidak pernah abadi.
3. Jejak Tanpa Nabi, Jalan Tanpa Kitab
Bani Israil pernah menerima kitab-kitab langit: Taurat, Zabur, Injil. Mereka pernah ditemani para nabi: Musa, Dawud, Sulaiman, Isa. Namun, alih-alih menjadikan wahyu itu sebagai cahaya peradaban, sejarah mencatat mereka kerap menolak dan bahkan membunuh para nabi.
Kini, setelah Nabi terakhir ﷺ diutus bukan dari kalangan mereka, jalan wahyu itu terputus bagi mereka. Tidak ada lagi kitab baru. Tidak ada lagi nabi baru. Pertanyaannya: bagaimana mungkin mereka berharap mencapai puncak kejayaan tanpa cahaya wahyu, sementara sebelumnya pun mereka gagal menjaganya?
Apakah “kejayaan” itu yang kini mereka klaim dalam bentuk sebuah negara bernama Israel?
Apakah penjajahan, apartheid, dan genosida bisa disebut model peradaban?
4. Israel: Negeri yang Menyerang Semua
Hari ini, dunia menyaksikan Israel menembus batas segala hukum internasional.
– Di Qatar, mereka menyerang perundingan gencatan senjata dengan membunuh petinggi Hamas.
– Di Iran, serangan roket merenggut syahidnya Ismail Haniyah ketika menghadiri pemakaman Presiden Iran.
– Di Suriah, istana kepresidenan dan pangkalan militer diserang dengan dalih keamanan.
– Di Dataran Tinggi Golan, wilayah Suriah itu mereka caplok begitu saja.
Apakah negeri yang tak mengenal batas moral ini pantas disebut peradaban?
Bahkan, perahu-perahu kemanusiaan pun mereka serang. Kapal Mavi Marmara (2010), bagian dari Freedom Flotilla, ditembak di perairan internasional ketika membawa bantuan ke Gaza; sembilan aktivis tewas, dipimpin oleh gerakan IHH Humanitarian Relief Foundation dari Turki. Kapal Marianne of Gothenburg (2015), juga dicegat di Laut Tengah, dengan tokoh perdamaian Swedia di atasnya. Bahkan baru-baru ini, kapal bantuan di Tunisia pun mereka halangi.
Apakah sebuah “negara normal” hidup dengan cara menyerang sukarelawan dan roti untuk orang lapar?
5. Dunia yang Membisu
Mengapa dunia terdiam?
Mengapa kekuatan-kekuatan besar membiarkan Israel menyerang kedaulatan negara lain, menghancurkan hukum internasional, dan memblokade Gaza hingga anak-anak mati kelaparan?
Apakah dunia sudah sepenuhnya tunduk pada logika kekuasaan, sehingga lupa pada nurani?
Namun, di balik diamnya elit politik dunia, suara lain sedang tumbuh. Suara generasi baru.
6. Tanda-Tanda Runtuh: Gen Z Bicara
Inilah tanda itu.
Sebuah survei Harvard CAPS–Harris Poll (2024) menunjukkan bahwa lebih dari 52% Gen Z di Amerika Serikat menilai Israel melakukan genosida di Gaza. Survei YouGov 2023 juga mencatat bahwa hanya 20% anak muda Amerika yang simpati penuh pada Israel, sementara dukungan pada Palestina melonjak.
Di Eropa, tren serupa terlihat. Di Australia, jajak pendapat Resolve Political Monitor (2024) menunjukkan lebih dari 40% anak muda berpihak pada Palestina, meningkat drastis dibanding satu dekade lalu.
Apakah ini tanda zaman? Generasi yang lahir setelah tahun 2000 menolak warisan propaganda lama. Mereka melihat dengan mata mereka sendiri—melalui layar kecil di genggaman tangan—betapa seorang anak Gaza kehilangan keluarganya dalam sekejap.
Narasi penjajah Israel retak di hadapan kamera ponsel.
7. Dunia Kembali ke Firman-Nya
Di balik semua ini, ada sebuah rahasia besar. Dunia sedang digiring untuk menyaksikan kebenaran firman Allah SWT tentang Bani Israil. Kitabullah telah lama menggambarkan karakter mereka: keras kepala, pengkhianat, dan penumpah darah. Kini, dunia melihatnya bukan lagi melalui tafsir ulama, tetapi melalui siaran langsung dari Gaza, Jenin, dan Rafah.
Seakan Allah sedang menyingkap tabir sejarah agar manusia kembali menyelaraskan sikapnya dengan firman-Nya.
8. Akhir yang Sangat Dekat
Lalu kapan berakhirnya?
Sejarah menjawab: setiap fase kekuasaan mereka selalu berakhir dalam kehancuran.
Wahyu menegaskan: kezhaliman tidak pernah abadi.
Realitas hari ini membisikkan: dukungan dunia perlahan berbalik arah.
Apakah itu berarti penjajah Israel akan runtuh besok? Atau lusa? Kita tak tahu waktunya. Tapi tanda-tandanya jelas: dunia mulai muak. Generasi muda sudah berbicara. Kapal-kapal kemanusiaan terus berangkat. Misi-misi global kini berkumpul di Tunisia, menyatukan langkah kemanusiaan lintas bangsa.
Israel bisa saja memiliki senjata nuklir, jet tempur F-35, dan perlindungan veto Amerika di PBB. Tetapi mereka tak bisa melawan gelombang sejarah, dan apalagi tak bisa melawan ketetapan Allah.
9. Sebuah Renungan Penutup
Maka, pertanyaan itu kembali kita ulang:
“Kapan kejahatan penjajah Israel berakhir?”
Jawabannya: sangat dekat.
Lebih dekat dari yang kita kira.
Bukan karena kekuatan militer Palestina. Bukan karena resolusi PBB. Tetapi karena sejarah, nurani manusia, dan firman Allah SWT sedang bersekutu dalam satu arus besar.
Dan ketika arus itu pecah menjadi ombak, maka kapal penjajah Israel, betapapun besarnya, akan tenggelam. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

