Kota yang Dihancurkan untuk Dihapus
“Israel sedang berusaha membuat Kota Gaza tidak layak huni,” kata Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk Palestina, pada 15 September 2025. Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung ngeri.
Non-konvensional, begitu ia menyebut senjata yang digunakan. Apa artinya? Tidak ada rincian. Namun, arah tuduhannya jelas: penghancuran Gaza bukan sekadar perang melawan Hamas, tetapi sebuah strategi untuk mencabut kehidupan dari sebuah kota, agar ia tak bisa lagi disebut kota.
Gaza, yang dulu penuh suara anak-anak sekolah, pasar ikan, masjid-masjid yang ramai pada Jumat, kini dipaksa menjadi padang reruntuhan.
Allah berfirman: “Dan berapa banyak negeri yang telah Kami binasakan, yang (penduduknya) hidup dalam keadaan zalim. Maka robohlah atap-atap rumah mereka dari atasnya, dan sumur-sumur yang ditinggalkan, dan istana-istana yang tinggi.” (QS. Al-Hajj: 45)
Siapa yang zalim? Siapa yang mengalami takdir kehancuran?
—
Antara Tuduhan dan Bantahan
Israel menolak mentah-mentah tuduhan itu. “Albanese hanya menjadi corong Hamas,” kata Misi Israel untuk PBB. Menurut Israel, apa yang terjadi di Gaza adalah konsekuensi perang yang dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Tetapi fakta di lapangan berbicara lain: lebih dari 64.000 orang tewas dalam hampir dua tahun serangan, menurut otoritas kesehatan Gaza. Kota Gaza hancur, listrik terputus, makanan langka, rumah sakit tidak lagi berfungsi.
BACA JUGA: Kapan Kejahatan Penjajah Israel Berakhir? Sangat Dekat
Komisi Penyelidikan Independen PBB bahkan lebih tegas: Israel telah melakukan empat dari lima unsur genosida sebagaimana didefinisikan Konvensi 1948. Laporan itu menyebut langsung nama-nama pemimpin Israel: Netanyahu, Herzog, Gallant.
Israel kembali membantah, menyebut laporan itu “distorsi” dan “berdasarkan kebohongan Hamas.”
Tetapi apakah sejarah tidak pernah mengenal pola serupa?
—
Babilonia: Membakar Yerusalem
Nebukadnezar, raja Babilonia, pada tahun 586 SM memasuki Yerusalem. Ia tidak sekadar menaklukkan. Ia menghancurkan Bait Suci, meratakan rumah-rumah, mengangkut penduduk sebagai tawanan ke Babilonia. Tujuannya sama: menjadikan Yerusalem tak layak huni, agar tidak pernah lagi menjadi pusat perlawanan.
Namun apakah Babilonia bertahan? Tidak lama. Beberapa dekade kemudian, Persia merebutnya. Ibn Khaldun menulis dalam Muqaddimah: “Kezaliman menghancurkan peradaban, menghancurkan kota, dan membuat negeri tak lagi dihuni.”
—
Romawi: Meratakan Yerusalem
Tahun 70 M, Romawi mengepung Yerusalem. Jenderal Titus tidak hanya menaklukkan. Ia menghancurkan Bait Suci Kedua, meratakan kota, dan mengusir ribuan orang Yahudi. Yerusalem dibiarkan kosong, terbakar, penuh mayat.
Romawi mengira, dengan begitu Yerusalem akan hilang dari sejarah. Tetapi kota itu tetap hidup, dan Romawi sendiri runtuh.
Arnold Toynbee menulis dalam A Study of History: “Peradaban yang menghancurkan kota lawan demi menghapus identitasnya, justru sedang mempercepat kehancuran dirinya sendiri.”
—
Mongol: Membakar Baghdad
Tahun 1258, Hulagu Khan, cucu Jenghis Khan, memasuki Baghdad. Ia bukan hanya menaklukkan, tetapi membuat Baghdad tak layak huni. Perpustakaan Baitul Hikmah dibakar, sungai Tigris hitam oleh tinta buku yang dicampakkan. Ratusan ribu penduduk dibantai. Kota ilmu itu berubah menjadi kuburan raksasa.
Namun, kekuasaan Mongol tak bertahan. Dalam waktu kurang dari satu abad, mereka sendiri luluh oleh Islam yang bangkit kembali.
—
Tentara Salib: Kota-Kota yang Ditelantarkan
Perang Salib juga menghadirkan wajah yang sama. Tahun 1099, ketika Yerusalem jatuh, tentara Salib membantai ribuan Muslim dan Yahudi. Kota itu dibiarkan penuh darah, masjid berubah gereja. Mereka percaya telah membuat Yerusalem tak lagi Islami.
Namun kurang dari satu abad, Shalahuddin al-Ayyubi membebaskannya kembali.
Karen Armstrong dalam Jerusalem menulis: “Yerusalem selalu menjadi cermin: siapa pun yang merebutnya dengan darah, akan kehilangan legitimasinya dengan darah pula.”
—
Modern: Gaza, Kota yang Hendak Dihapus
Kini, Gaza.
Metodenya sama, meski zaman berbeda: listrik diputus, rumah dihancurkan, makanan dipersulit, rumah sakit dibom. Penduduk dipaksa mengungsi ke selatan.
Albanese menyebutnya “pembersihan etnis.” Komisi PBB menyebutnya “genosida.” Israel menyebutnya “hak membela diri.”
Tetapi sejarah selalu menunjukkan, siapa pun yang menjadikan sebuah kota tak layak huni, akhirnya ia sendiri kehilangan legitimasi.
—
Takdir Kota dan Takdir Penjajah
Apa yang terjadi pada kota-kota itu?
Yerusalem tetap hidup meski Babilonia dan Romawi berusaha mematikannya.
Baghdad kembali bangkit, bahkan menjadi pusat dakwah setelah Mongol masuk Islam.
Yerusalem dibersihkan kembali oleh Shalahuddin setelah Salib merusaknya.
Lalu Gaza? Kota itu mungkin hancur, tetapi semangat penduduknya tetap menyala. Anak-anak Gaza yang kini kehilangan rumah, bisa jadi menjadi generasi yang menghidupkan Palestina kembali.
Nabi ﷺ bersabda: “Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berperang di atas kebenaran, mereka menang melawan musuh-musuhnya, hingga datang keputusan Allah, sedang mereka tetap dalam keadaan demikian.” (HR. Muslim)
BACA JUGA: Detik-detik Perpecahan di Meja Netanyahu Sebelum Serangan ke Doha
Refleksi: Siapa yang Sebenarnya Tak Layak Huni?
Sejarah memunculkan pertanyaan yang getir: siapa sebenarnya yang menjadi “tidak layak huni”?
Apakah Gaza, yang kini dipenuhi reruntuhan, tapi tetap menyimpan doa, azan, dan keberanian?
Ataukah Israel, yang meski memiliki senjata dan dukungan dunia, tetapi semakin kehilangan legitimasi, semakin terisolasi, dan semakin terjebak dalam retakan internalnya?
Kota bisa hancur, tetapi kehidupan tidak pernah sepenuhnya dipadamkan. Babilonia, Romawi, Mongol, dan tentara Salib semuanya telah belajar pelajaran pahit itu. Kini giliran Israel.
—
Penutup: Gaza, Kota yang Tetap Hidup
Doa ribuan pengungsi Gaza, tangisan anak-anak yang kehilangan rumah, jerit orang tua yang kehilangan anak, semua itu adalah kesaksian. Gaza memang sedang dihancurkan. Tetapi Gaza juga sedang menulis dirinya di buku sejarah yang lebih besar.
Seperti kata Ibn Khaldun: “Kezaliman adalah tanda kehancuran, meski ia tampak berjaya.”
Mungkin benar, Gaza sedang dibuat tidak layak huni. Tetapi justru dari reruntuhan itu, lahir kota yang lebih abadi: kota dalam ingatan, kota dalam doa, kota dalam perlawanan.
Dan sejarah akan menjawab: bukan Gaza yang hilang, melainkan mereka yang mencoba menghilangkannya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
