Lampu Times Square yang Menggugat
New York, pusat kapitalisme global, malam itu diterangi bukan hanya oleh iklan-iklan produk ternama, tetapi juga oleh pesan politik yang gamblang.
Di tengah hiruk pikuk Times Square, papan iklan digital raksasa menampilkan satu kalimat sederhana:
#GameOverIsrael
Bukan sekadar slogan. Itu adalah seruan untuk mengusir Israel dari panggung sepak bola dunia. Dari UEFA di Eropa, hingga FIFA yang mengatur kompetisi global.
Kampanye ini bukan datang dari politisi. Ia datang dari mantan bintang sepak bola, kelompok penggemar, organisasi hak asasi manusia, dan suara-suara moral yang resah. Gary Lineker, legenda Inggris; Eric Cantona, ikon Manchester United; hingga Liam Cunningham, aktor Game of Thrones, berdiri bersama-sama.
Mereka semua mengirim pesan:
jika FIFA berani menangguhkan Rusia karena invasi ke Ukraina, mengapa diam terhadap Israel yang menghancurkan Gaza?
—
Inspirasi dari Rusia: Preseden yang Membuka Pintu
Pada 2022, ketika tank Rusia memasuki Ukraina, dunia sepak bola bergerak cepat. Hanya dalam hitungan hari, FIFA dan UEFA menangguhkan tim nasional Rusia, juga klub-klubnya, dari semua kompetisi. Tidak ada Liga Champions bagi Spartak Moscow, tidak ada kualifikasi Piala Dunia bagi tim nasional Rusia.
Bagi Abed Ayoub, direktur Komite Antidiskriminasi Amerika-Arab, kasus Rusia adalah inspirasi. “Sebagaimana komunitas internasional merespons saat itu, mereka juga harus merespons Israel sekarang,” katanya.
Seakan ada dua standar yang dipertontonkan. Ukraina dianggap korban yang pantas dibela. Tetapi Gaza? Seolah hanya angka statistik yang tak berdaya.
—
Gaza: Pemain yang Gugur, Stadion yang Hancur
Kampanye ini menyingkap data yang sering tenggelam dalam berita perang. Ratusan atlet Palestina tewas sejak 2023.
Salah satunya adalah Suleiman al-Obeid, dijuluki Pelé Palestina, ikon sepak bola Gaza yang kini tinggal nama. Lalu ada Mohammed Barakat, pemain yang seharusnya masih bisa mengisi lapangan hijau, tetapi kini terbaring di tanah.
Lebih dari itu, infrastruktur olahraga Gaza ikut dihancurkan: stadion, gymnasium, lapangan latihan. Bahkan ada tuduhan stadion dijadikan tempat penahanan. Apa artinya ini? Bagi sebuah bangsa, olahraga bukan sekadar hiburan, ia adalah simbol identitas, ruang untuk bermimpi, dan tempat menyatukan masyarakat.
Jika stadion dihancurkan, itu bukan sekadar beton yang roboh. Itu adalah upaya membunuh harapan.
—
Sepak Bola dan Politik: Kasus-Kasus yang Pernah Terjadi
Apakah ini pertama kalinya sepak bola dipakai untuk menghukum sebuah negara? Tidak. Sejarah justru menunjukkan bahwa sepak bola pernah menjadi senjata moral.
1. Afrika Selatan (Apartheid)
Pada 1964, FIFA menangguhkan Afrika Selatan karena diskriminasi rasial. Negara itu dilarang ikut Piala Dunia lebih dari dua dekade. Baru setelah apartheid berakhir tahun 1992, mereka diterima kembali.
2. Yugoslavia (1992)
Ketika perang Balkan berkecamuk, PBB menjatuhkan sanksi luas. Tim nasional Yugoslavia yang sudah lolos ke Euro 1992 akhirnya didiskualifikasi.
3. Rusia (2022)
Seperti disebut tadi, Rusia dilarang dari semua kompetisi internasional setelah invasi ke Ukraina.
Ketiga kasus ini menunjukkan, FIFA bisa bertindak bila ada tekanan moral dan politik internasional.
—
Regulasi FIFA dan UEFA: Genosida dan Sepak Bola
Pertanyaannya: adakah aturan FIFA atau UEFA yang eksplisit melarang tim sepak bola suatu negara jika terbukti melakukan genosida?
Secara tekstual, Statuta FIFA Pasal 3 menyebut: “FIFA berkomitmen menghormati semua hak asasi manusia dan akan berusaha untuk mempromosikan perlindungannya.”
Sementara Pasal 4 menegaskan larangan diskriminasi atas dasar politik, ras, agama, atau asal-usul.
UEFA, dalam statuta Pasal 2, juga mencantumkan komitmen “menghormati hak asasi manusia dan melawan segala bentuk diskriminasi.”
Meski tidak menyebut kata genosida secara langsung, pasal-pasal ini memberi dasar hukum. Jika apartheid bisa dijadikan alasan, jika invasi bisa memicu sanksi, mengapa genosida—yang lebih berat—tidak bisa?
—
Suara Pakar dan Kritik
Beberapa pakar olahraga dan politik telah memberi komentar.
Simon Chadwick, profesor geopolitik olahraga di SKEMA Business School, mengatakan: “Sepak bola adalah cermin dunia. Jika dunia menghukum, sepak bola menghukum. Jika dunia diam, sepak bola pun ikut diam.”
John Barnes, mantan pemain Liverpool, menyebut: “FIFA tak bisa memilih-milih korban. Kalau Rusia diusir karena Ukraina, maka Israel juga harus diusir karena Gaza.”
Amnesty International dalam laporannya mendesak FIFA “konsisten dengan prinsip hak asasi manusia.”
Namun di sisi lain, ada suara skeptis: FIFA adalah organisasi bisnis global, bukan lembaga moral. Dengan Piala Dunia 2026 sudah di depan mata, mereka mungkin takut kehilangan sponsor besar dan dukungan politik Barat jika menghukum Israel.
—
Pertarungan Dua Narasi
Dunia sepak bola kini menjadi panggung pertarungan dua narasi.
Narasi Israel dan pendukungnya: ini hanyalah perang melawan Hamas, bukan genosida. Olahraga harus dipisahkan dari politik.
Narasi Palestina dan pendukungnya: tidak mungkin memisahkan. Sepak bola adalah tentang kehidupan, dan bagaimana mungkin kehidupan dipisahkan dari genosida?
Di jalan-jalan Roma, Paris, London, dan Brussel, demonstran membawa spanduk: “Suspend Israel from FIFA.” Sementara di markas FIFA di Zürich, para pejabat mungkin lebih banyak memikirkan kontrak siaran, sponsor global, dan tekanan negara-negara Barat.
BACA JUGA: Negara “Super-Sparta” Netanyahu: Bayangan Sparta Kuno di Tanah Zionis
Sepak Bola sebagai Bahasa Kemanusiaan
Sepak bola adalah bahasa universal. Di Gaza, anak-anak tetap menendang bola meski lapangannya penuh puing. Di stadion Eropa, para suporter mengibarkan bendera Palestina di tribun.
Di sinilah kita bisa bertanya: apakah sepak bola hanya permainan, ataukah ia juga bagian dari nurani global?
Jika dunia bisa mengusir Afrika Selatan karena apartheid, menyingkirkan Yugoslavia karena perang, dan membekukan Rusia karena invasi, maka membiarkan Israel tetap bermain di panggung global, di tengah tuduhan genosida yang disampaikan langsung oleh Komisi PBB, adalah sebuah kontradiksi sejarah.
—
Refleksi: Gaza, Lapangan yang Lebih Luas
Mungkin papan reklame di Times Square hanyalah cahaya neon yang sebentar redup. Tetapi ia menyalakan percakapan global: apa arti keadilan dalam sepak bola?
Bagi seorang anak Gaza, sepak bola bukan sekadar permainan. Ia adalah ruang untuk melupakan sejenak suara drone dan ledakan. Ia adalah mimpi tentang dunia di mana ia bisa berdiri sejajar dengan anak-anak lain di stadion besar, mengenakan jersey, bukan seragam pengungsi.
Dan bagi dunia, pertanyaan itu tetap bergema: Apakah FIFA akan berpihak pada kekuasaan, atau pada kemanusiaan?
Nabi ﷺ bersabda: “Seorang mukmin itu saudara bagi mukmin yang lain. Janganlah ia menzaliminya dan janganlah ia menyerahkannya (kepada musuh).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sepak bola mungkin tidak bisa menghentikan perang. Tetapi ia bisa memilih untuk tidak memberi legitimasi pada sebuah rezim yang menolak kehidupan.
Mungkin Gaza tak punya stadion lagi, tetapi Gaza punya suara. Dan kini, suara itu menggema di Times Square, di Roma, di London, di Paris, di Brussel—dan siapa tahu, suatu hari di dalam markas FIFA itu sendiri. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
