Pendapat Warga Amerika tentang Gaza: Menusuk Penjajah Israel

Nasrulloh Baksolahar
9 Min Read
Foto: Freepik

DI bawah langit New York, ratusan orang berkumpul di Bryant Park, membawa poster sederhana bertuliskan “Stop the genocide”, “Gaza will live”, dan “Ceasefire now”. Dari mahasiswa kulit putih, imigran Arab, hingga ibu rumah tangga dengan bayinya di kereta dorong, mereka bersatu dalam satu pekik nurani: cukup sudah darah yang ditumpahkan di Gaza.

Di sisi lain, Washington masih mengirim senjata ke Tel Aviv. Namun, ada tanda-tanda perubahan yang tidak bisa diabaikan. Survei terbaru AP-NORC menunjukkan hampir setengah warga Amerika kini percaya bahwa Israel telah “melampaui batas.” Angka itu jauh meningkat dari awal perang, ketika narasi Israel masih kuat mendominasi layar televisi dan pidato politisi.

Maka pertanyaan itu pun muncul: mengapa hati warga Amerika mulai berubah? Bagaimana sejarah perubahan persepsi ini? Dan apa artinya bagi diplomasi dan jalannya perang?

—

Dari Simpati ke Kritik: Sejarah Perubahan Persepsi

Pada 7 Oktober 2023, ketika Hamas menyerang Israel selatan, gambar-gambar korban sipil Israel memenuhi layar. Di saat itu, mayoritas warga Amerika menunjukkan simpati mendalam kepada Israel. Dukungan kepada tindakan militer balasan begitu tinggi, seakan perang bisa dibenarkan sebagai “membela diri.”

Tetapi perang punya logika sendiri. Semakin lama ia berlangsung, semakin jelas wajah aslinya.

BACA JUGA:  Ketika Meja Perundingan Doha Menjadi Medan Perang

Ketika Israel melancarkan serangan brutal ke Gaza, menghancurkan rumah sakit, sekolah, bahkan kamp pengungsi, narasi simpati itu mulai retak. Rakyat Amerika yang terbiasa hidup dengan kebebasan pers melihat langsung gambar-gambar anak-anak tak bernyawa di media sosial, bukan hanya di televisi arus utama.

Satu per satu survei menunjukkan perubahan. Jika pada akhir 2023 hanya 40% warga yang menilai Israel “terlalu berlebihan,” maka pada pertengahan 2025 angkanya mencapai 50% lebih, dengan lonjakan tajam di kalangan Demokrat dan independen.

Sejarah seakan berulang. Pada era perang Vietnam, rakyat Amerika awalnya mendukung. Namun ketika peti mati prajurit pulang dan gambar napalm membakar tubuh anak-anak Vietnam muncul, gelombang protes pun tak terbendung. Begitu juga Irak 2003 dan Afghanistan. Kini Gaza menjadi cermin baru: kebenaran tak bisa dibungkam selamanya.

—

Gelombang Penolakan Rakyat

Dalam protes-protes di New York, Chicago, hingga Los Angeles, ada pemandangan yang tak lazim: orang Yahudi sendiri bergabung menolak perang. Kelompok sayap kiri Yahudi seperti Jewish Voice for Peace menegaskan, “Not in our name.” Mereka menolak Israel menggunakan identitas Yahudi untuk menutupi kejahatan perang.

Suara paling lantang justru datang dari anak muda. Generasi Z Amerika yang tumbuh dengan media sosial lebih mudah mengakses informasi alternatif di luar propaganda CNN atau Fox News. Mereka menonton langsung potongan video dari warga Gaza, dan di sanalah simpati mereka berpindah.

Di kampus-kampus, mahasiswa melakukan aksi duduk, bahkan menolak rekrutmen perusahaan yang terlibat dalam rantai senjata Israel. Fenomena ini mengingatkan pada gerakan anti-apartheid Afrika Selatan tahun 1980-an, yang akhirnya membuat banyak perusahaan Amerika menarik investasi dari rezim Pretoria.

Bahkan dari kalangan independen politik, suara hati terdengar. Renee Hollier, seorang ibu muda dari Louisiana, berkata: “Betapa besarnya penderitaan perempuan dan anak-anak tak berdosa. Tidak ada pembenaran untuk membiarkan penderitaan seperti ini terus berlanjut.”

Suara ini bukan sekadar opini individual. Ia adalah bagian dari arus besar: kesadaran moral bahwa perang Israel bukan sekadar perang melawan Hamas, tapi penghancuran massal atas sebuah bangsa.

—

Dampak terhadap Diplomasi Amerika

Washington selalu memandang Israel sebagai sekutu strategis. Tetapi demokrasi Amerika punya kelemahan sekaligus kekuatan: suara rakyat bisa menekan elite politik.

Kini, survei menunjukkan dukungan untuk bantuan militer kepada Israel merosot drastis. Hanya 20% warga Amerika yang menganggapnya “sangat penting.” Bandingkan dengan awal perang, ketika angkanya 36%.

Tekanan ini pelan-pelan menggeser kebijakan luar negeri. Walaupun Gedung Putih masih memberi veto di Dewan Keamanan PBB, pejabat diplomatik harus menghadapi kritik internasional yang semakin sulit dibantah. Bahkan di dalam negeri, Partai Demokrat menghadapi perpecahan internal: sayap progresif mendesak penghentian bantuan militer, sementara sayap moderat masih berusaha mempertahankan “status quo.”

Diplomasi Amerika di PBB pun mulai kehilangan wibawa. Jika dulu hanya segelintir negara menolak Israel, kini mayoritas mendukung solusi dua negara dan menyebut tindakan Israel sebagai pelanggaran hukum internasional. AS menjadi minoritas yang tampak terisolasi bersama Israel.

Di sinilah terlihat: opini publik domestik Amerika menjadi faktor penting dalam mengubah wajah diplomasi global.

—

Dampak terhadap Jalannya Pertempuran

Perang bukan hanya ditentukan oleh senjata, tapi juga oleh narasi dan legitimasi. Israel mungkin masih unggul secara militer, tetapi kehilangan legitimasi di mata publik internasional.

Bagi pejuang Gaza, berita bahwa rakyat Amerika sendiri mulai menolak perang memberi suntikan moral luar biasa. Bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia, bahwa kebenaran sedang menemukan jalannya.

Sebaliknya, bagi tentara Israel, dukungan yang goyah dari sekutu terbesarnya menjadi bayang-bayang gelap. Apalagi, biaya perang semakin membengkak. Semakin sulit bagi Washington untuk menjelaskan kepada pembayar pajak mengapa miliaran dolar harus dikirim ke Tel Aviv sementara program kesehatan di dalam negeri dipotong.

Efek ini mirip dengan Vietnam: bukan Vietcong yang mengalahkan Amerika, melainkan rakyat Amerika sendiri yang menolak membiayai perang tanpa ujung.

—

Pendapat Para Pakar

Banyak pakar politik dan hubungan internasional melihat perubahan ini sebagai fenomena besar.

Stephen Walt (Harvard Kennedy School) menyebut dukungan Amerika kepada Israel ibarat “cek kosong” yang kini mulai digugat rakyat sendiri.

John Mearsheimer, pakar realisme politik, menegaskan: “Sebuah kebijakan luar negeri yang bertentangan dengan nurani rakyat tidak bisa bertahan lama.”

Dari perspektif komunikasi publik, Noam Chomsky sejak lama mengingatkan bahwa media arus utama Amerika punya bias pro-Israel, namun media sosial kini meruntuhkan monopoli itu. “Ketika gambar bayi Gaza viral, narasi resmi tak lagi dipercaya,” kata Chomsky dalam wawancara.

Sejarawan perang Vietnam, Howard Zinn, pernah menulis bahwa kejatuhan kebijakan perang bukan karena musuh di medan tempur, melainkan karena rakyat yang menolak dibohongi. Situasi Gaza kini meneguhkan kebenaran itu.

BACA JUGA: Javier Bardem dan Keffiyeh di Emmy Awards: Simbol, Suara, dan Perlawanan

Refleksi: Nurani yang Tak Bisa Dibungkam

Sejarah selalu berulang dalam wajah berbeda. Dulu Vietnam, lalu Irak, Afghanistan, dan kini Gaza. Amerika adalah negeri yang punya kekuatan militer raksasa, tapi juga punya rakyat dengan nurani yang masih hidup.

Rakyat inilah yang perlahan menolak menjadi bagian dari kejahatan perang. Mereka tahu, setiap bom yang dijatuhkan di Gaza mungkin berasal dari pajak mereka. Dan mereka tak ingin darah anak-anak Palestina menodai tangan mereka sendiri.

Dari protes kecil di jalanan hingga survei nasional, dari mahasiswa di kampus hingga ibu rumah tangga, suara-suara itu menyatu menjadi gelombang: “Israel telah melampaui batas.”

Dan sejarah membuktikan, ketika suara nurani rakyat semakin kuat, tidak ada kekuasaan politik yang bisa menahannya.

—

Penutup: Ketika Amerika Bercermin pada Gaza

Apakah perang ini akan segera berhenti? Tidak ada yang tahu. Netanyahu bersumpah akan terus melanjutkan. Washington masih menutup mata. Tetapi satu hal pasti: rakyat Amerika tidak lagi sama.

Gaza telah menjadi cermin yang memantulkan wajah mereka sendiri: apakah mereka akan terus mendukung penindasan, atau memilih berdiri bersama keadilan?

Dalam keheningan doa di masjid-masjid, gereja, dan sinagoga, banyak yang berbisik: “Cukuplah darah tertumpah. Saatnya suara kemanusiaan menang.”

Dan ketika nurani mulai berbicara lebih keras daripada propaganda, saat itulah penjajah semakin tersudut. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *