Dari Napoléon hingga Macron: Bendera Palestina di Balai Kota Prancis

Nasrulloh Baksolahar
8 Min Read
Foto: Freepik

Bendera yang Melawan Angin

22 SEPTEMBER 2025, angin musim gugur berhembus di Saint-Ouen, pinggiran utara Paris. Di pintu Balai Kota, berkibar bendera Palestina—merah, putih, hitam, dan hijau—di samping bendera biru-putih Prancis dan bintang Eropa. Bendera itu tidak hanya kain, melainkan simbol; tidak sekadar warna, melainkan pernyataan.

Hari itu, lebih dari 80 balai kota di seluruh Prancis—dari Lyon, Nantes, Rennes, Besançon, hingga Saint-Denis—berani menentang perintah Menteri Dalam Negeri Bruno Retailleau yang menuntut “netralitas”. Mereka justru memilih keberpihakan: mengibarkan bendera Palestina menjelang pengakuan resmi Presiden Emmanuel Macron atas negara Palestina di Majelis Umum PBB.

Di balik kibaran itu, terpantul sebuah ironi sejarah: Prancis yang dulu ikut merancang proyek kolonial Yahudi di Palestina, kini menjadi panggung bagi solidaritas rakyatnya terhadap Palestina.

—

Napoléon Bonaparte: Gagasan Awal “Negeri Yahudi”

Sejarah panjang keterlibatan Prancis dalam “soal Palestina” dapat ditarik ke abad ke-18. Pada tahun 1799, saat ekspedisi Mesir dan Suriah, Napoléon Bonaparte mengeluarkan proklamasi yang mengejutkan: ia menyeru bangsa Yahudi di dunia untuk kembali ke tanah Palestina, menjanjikan dukungan Prancis agar mereka memiliki tanah air di sana.

Banyak sejarawan menilai gagasan Napoléon itu oportunis. Ia sedang berperang melawan Kesultanan Utsmaniyah, dan dengan “memanggil Yahudi kembali ke Palestina”, ia berharap mendapat dukungan finansial dan politik dari komunitas Yahudi Eropa. Namun ide itu penting: ia menjadi salah satu proposal awal bagi “proyek kolonial Yahudi” di tanah Palestina, jauh sebelum lahirnya Zionisme modern Theodor Herzl di akhir abad ke-19.

Di sinilah kita melihat paradoks pertama: Prancis, yang kemudian sering mengklaim dirinya sebagai “mediator perdamaian”, justru salah satu negara Eropa pertama yang mengaitkan Yahudi dengan Palestina dalam kerangka kolonialisme.

BACA JUGA: Suara Anti-Perang: Eddie Vedder, Empati, dan Kebenaran di Tengah Konflik Palestina-Israel

Inggris, Prancis, dan Lahirnya Israel

Seabad setelah Napoléon, dunia menyaksikan runtuhnya Imperium Utsmaniyah dalam Perang Dunia I. Palestina, yang sebelumnya wilayah Ottoman, jatuh ke tangan Inggris. Bersama Prancis, Inggris menandatangani Perjanjian Sykes-Picot (1916), membagi Timur Tengah sebagai daerah pengaruh kolonial.

Dua tahun kemudian, lahirlah Deklarasi Balfour (1917), di mana Inggris mendukung berdirinya “rumah nasional bagi orang Yahudi” di Palestina. Meski dokumen itu keluaran Inggris, Prancis tidak menentangnya. Bahkan, Prancis dalam berbagai perundingan pascaperang kerap mendukung ide serupa, karena melihat Yahudi sebagai sekutu potensial dalam stabilitas kolonial.

Ketika Israel memproklamasikan kemerdekaan pada 1948, Prancis adalah salah satu negara pertama yang memberi dukungan diplomatik dan persenjataan. Pada masa awal negara Yahudi itu, Prancis bahkan menjadi pemasok utama senjata—terutama pesawat tempur—yang dipakai Israel dalam Perang 1948 melawan koalisi Arab.

Ironi sejarah semakin dalam: negara yang kini melihat rakyatnya ramai mengibarkan bendera Palestina, dahulu justru salah satu yang memberi “napas pertama” bagi berdirinya Israel.

—

Bendera Palestina di Balai Kota: Simbol Balik Arah

Mari kembali ke 2025. Saat Menteri Dalam Negeri menuntut netralitas, puluhan wali kota justru memilih sebaliknya. Di Rennes, wali kota Nathalie Appere berkata: “Tanggung jawab kita adalah menolak kesunyian dan melakukan segala daya upaya kita, di sini dan saat ini, untuk mengakhiri kengerian ini.”

Di Strasbourg, balai kota diterangi warna merah-putih-hitam-hijau. Di Saint-Denis, bendera Palestina dikibarkan dalam upacara bersama pemimpin Partai Sosialis Olivier Faure. Bahkan di Paris, meski Wali Kota Anne Hidalgo menolak, anggota dewan kota sempat mengibarkan bendera selama 30 menit di balai kota.

Sementara itu, Menara Eiffel—ikon Prancis—diproyeksikan dengan bendera Palestina, bendera Israel, dan seekor merpati membawa ranting zaitun. Sebuah ironi visual: simbol perdamaian, tetapi juga simbol pertarungan politik dalam negeri.

—

Prancis: Antara Yahudi, Muslim, dan Luka Kolonial

Mengapa isu Palestina begitu membelah Prancis? Ada dua alasan besar.

Pertama, Prancis adalah rumah bagi komunitas Yahudi terbesar di Eropa Barat, sekitar setengah juta orang. Sejarah mereka diwarnai luka: diskriminasi, pogrom, hingga Holocaust. Dukungan kepada Israel sering dibingkai sebagai “kewajiban moral” bagi Eropa, termasuk Prancis.

Kedua, Prancis juga menjadi rumah bagi komunitas Muslim terbesar di Eropa, banyak dari mereka berasal dari bekas jajahan Prancis: Aljazair, Maroko, Tunisia. Solidaritas terhadap Palestina bukan sekadar isu luar negeri, tetapi juga identitas diri, luka kolonial, dan aspirasi keadilan.

Dengan latar itu, kibaran bendera Palestina di balai kota bukan hanya sikap internasional, melainkan juga pertarungan narasi domestik: Prancis manakah yang akan menang, Prancis yang berpihak pada memori kolonial Zionisme, atau Prancis yang berpihak pada hak asasi bangsa Palestina?

—

Macron: Dari Ambivalensi ke Pengakuan

Presiden Emmanuel Macron awalnya berhati-hati. Ia berbicara tentang “solusi dua negara” tanpa komitmen konkret. Namun tekanan sosial, politik, dan moral di dalam negeri semakin kuat. Akhirnya, di Majelis Umum PBB, Macron mengumumkan pengakuan resmi Prancis atas negara Palestina.

Langkah itu langsung memicu amarah Israel. Tetapi bagi sebagian besar rakyat Prancis—setidaknya mereka yang hari itu melihat bendera Palestina di balai kota—pengakuan itu adalah “hari bersejarah bagi perdamaian.”

Di media sosial, Macron menulis:

> “Prancis menginginkan perdamaian, gencatan senjata segera, dan pembebasan tanpa penundaan.”

Dari Napoléon yang menyeru Yahudi kembali ke Palestina, ke Macron yang mengakui Palestina sebagai negara—perjalanan sejarah Prancis menunjukkan pergeseran simbolis: dari mendukung proyek kolonial Yahudi, ke mendukung legitimasi bangsa Palestina.

—

Dialog Sunyi dengan Sejarah

Namun, apakah pengakuan itu sungguh akhir dari paradoks? Atau hanya bab baru dari drama panjang Eropa dan Timur Tengah?

Seorang filsuf mungkin akan berkata: bendera-bendera itu, yang dikibarkan melawan perintah pemerintah, adalah suara hati rakyat yang tak mau lagi menanggung beban kolonialisme yang diwariskan leluhurnya.

Seorang sejarawan mungkin akan mengingatkan: “Jangan lupa, Prancis-lah yang dulu memasok Mirage III dan AMX-13 kepada Israel, yang menjadikan militer Israel unggul di Timur Tengah. Jangan lupa, kolonialisme Prancis di Aljazair dan Suriah meninggalkan luka yang sama dengan kolonialisme Zionis di Palestina.”

Dan seorang aktivis mungkin akan berbisik: “Bendera ini bukan bendera Hamas. Ini bendera manusia, bendera hak untuk hidup merdeka.”

BACA JUGA: Benjamin Netanyahu dan Kejahatan-kejahatannya pada Umat Islam Palestina

Refleksi: Bendera sebagai Kitab Sejarah

Setiap bendera adalah kitab sejarah yang berkibar.

Bendera Israel, lahir dari janji kolonial dan tragedi Eropa.

Bendera Prancis, simbol revolusi “liberté, égalité, fraternité”, tetapi juga simbol kolonialisme di Aljazair.

Bendera Palestina, simbol bangsa yang terusir, tetapi juga simbol keteguhan melawan penindasan.

Ketika bendera Palestina berkibar di balai kota Prancis, seolah-olah sejarah sedang menulis ulang dirinya. Napoléon, Balfour, Sykes-Picot, senjata 1948—semua itu kini dipertanyakan ulang oleh rakyat yang memilih menolak diam.

—

Epilog: Kibaran yang Menjawab

Di Saint-Ouen, seorang warga muda keturunan Aljazair menatap bendera Palestina di Balai Kota. Ia tersenyum. “Akhirnya, ada yang berpihak pada kebenaran,” katanya lirih.

Di sisi lain Paris, seorang Yahudi tua yang selamat dari Holocaust berkata di televisi: “Saya mengerti rasa sakit Palestina. Saya pun pernah tidak punya tanah air.”

Bendera itu berkibar, menentang angin politik, menantang sejarah kolonial, sekaligus mengundang harapan.

Prancis, yang pernah menjadi saksi awal ide “negara Yahudi” lewat Napoléon dan Sykes-Picot, kini menyaksikan kebangkitan solidaritas rakyatnya kepada Palestina. Mungkin inilah momen ketika sebuah bangsa akhirnya berani bercermin, dan bertanya: di sisi mana sejarah akan mengingat kita? []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *