“BUKANKAH aneh,” kata seorang murid dalam sebuah majelis kecil, “jika sebuah bangsa yang dulu memberikan sesuatu yang bukan miliknya, kini datang dengan wajah penuh penyesalan untuk mengakui kesalahan yang sama? Bukankah itu mirip dengan adegan film, di mana seorang tokoh yang menyerahkan warisan terkutuk, akhirnya sadar bahwa ia telah melepaskan monster ke dunia?”
Sang guru tersenyum lirih. “Ya, Nak. Inggris hari ini akhirnya mengakui Palestina. Tapi bukankah pengakuan itu datang setelah tanah ini dipenuhi darah, setelah generasi demi generasi Palestina menjadi pengungsi, setelah Gaza dipaksa menjadi kuburan terbuka? Pertobatan yang terlambat seringkali tidak menebus dosa. Ia lebih menyerupai pengakuan di bibir, sementara luka di tubuh sejarah tak kunjung sembuh.”
—
Adegan Pertama: Film yang Hidup dalam Sejarah
Sejarah Palestina sering lebih mudah dipahami bila kita mengingat adegan film. Bukan sekadar hiburan, film adalah cermin jiwa manusia.
Pertama, adegan dalam The Lord of the Rings. Ingat Isildur? Ia memegang cincin kekuasaan yang bukan miliknya. Cincin itu berbahaya, ia tahu, tapi ia tidak bisa menahan diri. Ia mewariskannya, dan cincin itu akhirnya membawa kehancuran panjang bagi dunia. Inggris adalah Isildur dalam sejarah Palestina: memegang tanah yang bukan miliknya, lalu menyerahkannya kepada Zionisme. Cincin itu bernama Deklarasi Balfour 1917.
Kedua, adegan dalam The Godfather. Dunia mafia penuh transaksi gelap: sebidang tanah atau sebuah bisnis diserahkan kepada pihak tertentu, bukan karena itu milik pemberi, tapi demi keuntungan dan strategi. “Aku berikan padamu, tapi jangan lupa balas jasaku.” Begitulah Inggris. Tanah Palestina diserahkan kepada Zionis, padahal pemilik sahnya—rakyat Palestina—tidak pernah dilibatkan. Semua karena kalkulasi politik imperium.
Ketiga, adegan dalam Avatar (2009). Korporasi manusia datang ke Pandora, lalu memberikan “hak” kepada tentaranya untuk menaklukkan tanah yang bukan milik mereka. Asli Pandora—suku Na’vi—diusir, dihancurkan, dan ditindas. Bukankah itu tepat menggambarkan Palestina? Inggris memberikan hak kepada Zionis Eropa untuk menancapkan bendera di tanah orang lain, sementara penduduk asli Palestina diperlakukan seolah tak pernah ada.
Dan begitulah, sejarah berjalan lebih kejam dari film. Jika dalam film ada akhir yang heroik, dalam sejarah Palestina akhir itu masih terus diperjuangkan.
—
Adegan Kedua: Akar Dosa Inggris
Sebelum pengakuan hari ini, ada dosa yang jauh lebih tua. Akar Zionisme bukanlah sekadar ide Yahudi, melainkan juga proyek Kristen Puritan di Inggris sejak abad ke-17.
Mereka membaca Injil secara literal: orang Yahudi harus kembali ke Yerusalem agar Yesus bisa turun kedua kali. Ide ini mendahului Zionisme Yahudi sendiri. Seorang pendeta Inggris, Charles Simeon, pada 1820-an sudah berkhotbah: “Israel yang tercerai-berai akan kembali ke tanah air mereka.” Bahkan Charles Spurgeon menulis sebelum Theodor Herzl lahir: “Pemulihan politik Yahudi ke tanah mereka adalah perintah Injil.”
Zionisme Kristen ini kemudian berpadu dengan kepentingan geopolitik. Inggris ingin menguasai jalur strategis ke India melalui Terusan Suez, dan Palestina menjadi kunci penguasaan Timur Tengah. Dengan membangun komunitas Yahudi yang loyal kepada Barat, Inggris memastikan ada pos terdepan untuk melindungi imperiumnya.
Maka, ketika Imperium Inggris memenangkan Perang Dunia I, perjanjian rahasia Sykes-Picot membagi dunia Arab. Palestina jatuh ke tangan Inggris, dan 1917 lahirlah Deklarasi Balfour. Kalimat pendek yang menjadi kutukan panjang: “Pemerintah Inggris memandang dengan baik pendirian tanah air nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina.”
Apakah Inggris peduli pada orang Arab Palestina? Ya, mereka berjanji sebelumnya bahwa Arab akan merdeka bila membantu melawan Turki Utsmani. Tapi janji itu dikhianati. Inilah wajah kolonialisme: mulut manis, tangan beracun.
—
Adegan Ketiga: Hasil dari “Pemberian Gelap”
Apa yang terjadi setelah cincin itu diberikan? Migrasi Yahudi Eropa mengalir deras ke Palestina. Komunitas Yishuv tumbuh, didukung Inggris. Milisi Haganah dilatih, bahkan dipersenjatai. Ironisnya, Inggris sendiri yang menanamkan benih kekuatan bersenjata Yahudi, yang kelak berbalik menjadi Israel Defense Forces (IDF).
Sementara itu, rakyat Palestina marah. Pemberontakan Arab 1936–1939 pecah, tapi Inggris justru membantai mereka, sementara melindungi komunitas Zionis. Keseimbangan kekuatan pun bergeser. Palestina asli dilemahkan, Zionis diperkokoh.
1948, lahirlah Israel. Ratusan ribu orang Palestina terusir dalam Nakba. Desa-desa dibakar, masjid-masjid ditutup, tanah dirampas. Semua bermula dari satu surat di atas meja: Deklarasi Balfour.
Al-Qur’an menggambarkan sifat bangsa yang kerap mengkhianati janji dan melampaui batas:
> “…Setiap kali mereka mengikat suatu perjanjian, segolongan dari mereka melemparkannya. Bahkan kebanyakan dari mereka tidak beriman.” (QS. Al-Baqarah: 100)
Seolah ayat ini ditulis untuk menggambarkan perjanjian Inggris-Arab yang dikhianati, dan janji Zionis yang berubah menjadi penindasan.
—
Adegan Keempat: Pertobatan yang Terlambat
Hari ini, 2025, Inggris akhirnya mengakui Palestina. Perdana Menteri Keir Starmer berkata: “Untuk menghidupkan kembali harapan perdamaian, Inggris mengakui Palestina.”
Kata-kata itu terdengar indah, tapi bukankah ia seperti orang yang menyalakan api, lalu datang seratus tahun kemudian hanya untuk berkata: “Aku menyesal”?
Bukankah pengakuan ini hanyalah pertobatan yang terlambat? Apakah pengakuan bisa mengembalikan nyawa anak-anak Gaza yang mati kelaparan karena blokade? Apakah pengakuan bisa memulihkan desa-desa Palestina yang dihancurkan buldoser Israel?
Sejarah mengajarkan, pertobatan yang datang terlambat hanya meninggalkan jejak pahit. Spanyol pernah mengusir Muslim Andalusia, dan baru berabad-abad kemudian merayakan “multikulturalisme.” Amerika pernah memperbudak jutaan orang kulit hitam, dan baru ratusan tahun kemudian meminta maaf. Kini Inggris mengulangi pola yang sama: menyakiti dulu, meminta maaf belakangan.
—
Adegan Kelima: Suara dari Jalanan Gaza
Mari kita dengarkan suara dari Gaza.
Seorang ibu di kamp pengungsi berkata lirih, “Kami tidak butuh kata-kata, kami butuh keadilan. Tanah kami di Jaffa masih diambil orang. Rumah kami di Haifa masih diduduki. Apakah Inggris bisa mengembalikannya?”
Anak-anak Gaza menatap langit yang dipenuhi drone. Mereka mungkin tak mengenal nama Balfour, tapi mereka tahu penderitaan itu bermula dari keputusan jauh di London.
Dan di sinilah paradoks: Inggris kini ingin menebus dosa dengan pengakuan. Tapi dosa kolonial tidak pernah ditebus dengan simbol, melainkan dengan tindakan nyata: sanksi pada Israel, pemulihan hak Palestina, pemulangan pengungsi, penghentian suplai senjata.
BACA JUGA: Lord of The Rings dan Nubuwah Akhir Zaman, Apakah Cuma Kebetulan?
Adegan Keenam: Film Kehidupan yang Belum Usai
Sejarah Palestina adalah film panjang yang belum selesai. Kita sudah menyaksikan adegan-adegan:
Inggris menyerahkan cincin terkutuk (Deklarasi Balfour).
Israel tumbuh seperti mafia yang mendapat tanah dari The Godfather kolonial.
Palestina asli menjadi suku Na’vi, terusir dari Pandora mereka sendiri.
Tapi adegan terakhir belum ditulis.
Apakah akan ada Frodo—yakni generasi Palestina—yang berani membawa cincin itu ke jurang Mordor, menghancurkan mitos Zionisme, dan mengembalikan tanah kepada pemiliknya? Ataukah dunia akan terus menonton tanpa berbuat apa-apa?
Di sinilah refleksi Qur’ani kembali bicara: “Dan mereka (Yahudi) berkata: ‘Tangan Allah terbelenggu.’ Padahal tangan merekalah yang terbelenggu dan merekalah yang dilaknat karena apa yang telah mereka katakan itu. Bahkan kedua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan dari mereka. Dan Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari Kiamat…” (QS. Al-Ma’idah: 64)
Ayat ini menegaskan: penindasan yang mereka buat hanya akan melahirkan kebencian abadi. Sementara Palestina tetap akan melahirkan generasi yang melawan, hingga adegan terakhir terukir dalam sejarah.
—
Epilog: Sejarah, Dosa, dan Harapan
Sejarah dunia terhadap Yahudi dan pandangan Al-Qur’an terhadap mereka pada akhirnya bertemu di satu titik: keduanya mengingatkan bahwa kaum yang selalu melawan kebenaran, melanggar janji, dan menumpahkan darah akan berakhir dengan kehancuran.
Al-Qur’an mencatat sifat itu dengan jernih. Sejarah dunia pun menyaksikan bagaimana bangsa-bangsa di Eropa dan Timur Tengah terus-menerus terjebak dalam pusaran konflik akibat Zionisme.
Maka, pengakuan Inggris hari ini bukanlah akhir. Ia hanya potongan adegan dari film panjang sejarah. Pertobatan yang terlambat tetap lebih baik daripada penolakan, tapi tak akan pernah cukup bila tak disertai keadilan.
Dan Gaza, dengan segala penderitaannya, masih menunggu dunia menuliskan adegan terakhir: sebuah kemerdekaan sejati, bukan sekadar pengakuan simbolis. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
