Penerbangan Netanyahu ke Amerika yang Berliku: Simbol Menuju Status Terisolasi Global

Nasrulloh Baksolahar
9 Min Read
Foto: Mizan Online News Agency

Langit yang Menutup

PESAWAT kepresidenan Israel, Wing of Zion, lepas landas dari Bandara Ben Gurion, Tel Aviv, pada 25 September 2025. Tujuannya: New York, tempat Majelis Umum PBB berlangsung. Namun, jalur yang ditempuhnya bukan jalur diplomasi biasa. Pesawat itu menghindari sebagian besar wilayah udara Eropa, menempuh rute berliku, seakan-akan sang pemimpin Israel terbang bukan di bawah langit yang bebas, melainkan di langit yang sempit, penuh pantangan.

Dari luar, ia hanya tampak sebagai strategi penerbangan. Namun, dari dalam sejarah, jalur itu adalah simbol: simbol isolasi, simbol keterasingan, simbol sebuah bangsa yang semakin diperlakukan bukan sebagai anggota komunitas internasional, melainkan sebagai paria global.

—

1. Dari Negara yang Dilindungi ke Negara yang Dihindari

Israel sejak lama memposisikan dirinya sebagai “negara istimewa.” Amerika Serikat menjadi pelindung utama. Eropa, meski sering mengkritik, tetap memberikan simpati historis karena trauma Holocaust. Dunia Arab pun terpecah, sebagian menormalisasi hubungan demi kepentingan ekonomi. Selama puluhan tahun, Israel bisa berjalan di atas jalur ini, seakan kebal dari konsekuensi.

Namun kini, situasi berubah. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi Benjamin Netanyahu atas dugaan kejahatan perang dan genosida. Beberapa negara Eropa, termasuk yang dulunya sekutu paling setia, mempertimbangkan untuk menahannya bila ia mendarat di wilayah mereka. Inilah alasan penerbangan Wing of Zion harus menghindari jalur-jalur tertentu: bukan karena ancaman militer, tetapi karena ancaman hukum internasional.

Jika sebuah negara harus mengubah rute udara karena takut pemimpinnya ditangkap, maka itu pertanda jelas: Israel kini bukan lagi negara yang dilindungi, melainkan negara yang dihindari.

—

2. Dunia yang Berbalik

Netanyahu tiba di New York dalam suasana diplomasi yang berbeda jauh dari dua dekade lalu. Israel bukan lagi penerima simpati mayoritas dunia. Narasi “Israel membela diri” tidak lagi diterima begitu saja. Sebaliknya, narasi genosida di Gaza kini menjadi suara dominan di ruang publik global.

Puluhan negara Barat, termasuk Inggris, Prancis, Kanada, dan Australia, telah mengakui Palestina sebagai negara berdaulat. Langkah ini merupakan pukulan simbolik, mematahkan dominasi narasi Israel selama puluhan tahun.

Uni Eropa tengah mengkaji sanksi dagang dan tarif khusus bagi produk Israel. Beberapa negara bahkan mulai menghentikan ekspor senjata dan komponen militer.

Opini publik Amerika Serikat sendiri berubah. Survei menunjukkan hampir separuh warga AS menganggap respons militer Israel di Gaza “berlebihan.” Lebih dari 40% pemilih Demokrat muda kini bersimpati kepada Palestina, bukan Israel.

Jika dunia dulu membungkam kritik demi stabilitas, kini dunia justru berteriak lantang. Pertanyaannya bukan lagi apakah Israel punya hak membela diri, melainkan: siapa yang membela anak-anak Gaza?

—

3. Trump, Perisai yang Rapuh

Netanyahu masih punya satu sekutu setia: Donald Trump. Presiden AS itu tetap teguh, menolak menekan Israel, terus mengalirkan senjata miliaran dolar, bahkan menjatuhkan sanksi kepada hakim ICC yang berani menyentuh Israel. Baginya, Israel adalah benteng terakhir yang harus dipertahankan.

Namun sejarah mengajarkan: perisai asing tidak abadi. Dukungan Trump bergantung pada dinamika politik dalam negeri AS. Jajak pendapat menunjukkan pergeseran generasi: anak muda Amerika—baik Demokrat maupun Republik—makin muak melihat penderitaan rakyat Gaza. Dukungan evangelis Kristen pun mulai retak antara generasi tua dan muda.

Jika angin politik di Washington berubah, Israel akan kehilangan tameng terakhirnya. Dan ketika itu terjadi, Israel akan telanjang di hadapan dunia, tanpa lagi pelindung superpower.

—

4. Dari Sparta ke Paria (Terkucil)

Dalam pidatonya, Netanyahu sempat menyebut Israel harus menjadi “Super Sparta”—negara kecil yang militeristik, mampu bertahan sendiri di tengah kepungan musuh. Retorika ini sejatinya pengakuan bahwa Israel kian kehilangan dukungan eksternal. Ia ingin menenangkan rakyatnya bahwa mereka bisa bertahan walau dunia memusuhi.

Namun, analogi Sparta adalah ironi. Sparta kuno memang bertahan lama dengan kekuatan militer, tetapi akhirnya runtuh, bukan karena musuh dari luar, melainkan karena isolasi dan kontradiksi internal. Begitu pula Israel. Tidak ada negara yang bisa abadi hanya dengan senjata, sambil menolak hak-hak jutaan manusia yang ditindasnya.

Israel mungkin bisa menjadi “Sparta modern.” Tetapi sejarah sudah membuktikan: semua Sparta pada akhirnya runtuh.

—

5. Simbol Penerbangan: Jalur yang Sempit

Rute penerbangan Netanyahu bukan sekadar garis di peta. Ia adalah simbol.

Jalur berliku itu melambangkan isolasi.

Langit yang tertutup melambangkan penolakan global.

Keputusan menghindari Eropa melambangkan rapuhnya legitimasi Israel.

Netanyahu boleh saja masih merasa berkuasa di dalam pesawat, ditemani istrinya, staf, dan pengawal. Tetapi dari luar, dunia melihat seorang pemimpin yang dibayangi surat perintah penangkapan, dihindari oleh langit negara-negara, dan terjebak dalam jalur diplomasi yang makin sempit.

—

6. Pararel dengan Apartheid Afrika Selatan

Situasi Israel kini semakin mirip dengan Afrika Selatan di era apartheid. Dahulu, Afrika Selatan menolak mengakui kesetaraan ras, menindas mayoritas kulit hitam, dan mencoba bertahan dengan dukungan negara-negara Barat. Namun, tekanan internasional, boikot olahraga, embargo ekonomi, dan kecaman moral akhirnya menghancurkan sistem apartheid.

Israel tengah menapaki jalur yang sama. Bedanya, apartheid Israel bukan sekadar diskriminasi rasial, melainkan juga genosida yang disiarkan langsung ke seluruh dunia. Di era media sosial, gambar anak-anak Gaza yang tertimbun reruntuhan menyebar dalam hitungan detik. Dunia tidak bisa lagi berpura-pura tidak tahu.

—

7. Opini Publik Global: Gaza Generation

Shibley Telhami, profesor di Universitas Maryland, menyebut lahirnya “Gaza Generation.” Generasi ini tumbuh dengan menyaksikan pembantaian terbuka terhadap rakyat Palestina. Mereka tidak lagi melihat Israel sebagai korban, melainkan sebagai pelaku.

Generasi ini tersebar di Amerika, Eropa, Asia, bahkan dunia Arab sendiri. Mereka adalah mahasiswa, aktivis, jurnalis, dan politisi masa depan. Jika generasi sebelumnya masih dibayang-bayangi rasa bersalah atas Holocaust, generasi Gaza tumbuh dengan memori baru: Holocaust Gaza. Dan memori ini akan membentuk kebijakan politik dunia dalam dekade mendatang.

—

8. Antitesis: Israel Menyalahkan Antisemitisme

Alih-alih bercermin, Netanyahu menolak semua kritik. Baginya, semua ini hanyalah antisemitisme baru. Semua kecaman dianggap propaganda Hamas. Semua boikot dianggap kebencian terhadap Yahudi.

Tetapi narasi ini semakin kehilangan daya. Dunia bisa membedakan antara kritik terhadap kebijakan Zionisme dengan kebencian terhadap Yahudi. Banyak kelompok Yahudi sendiri—baik di Israel maupun diaspora—turut menentang genosida Gaza. Demonstrasi Yahudi melawan Netanyahu berlangsung di New York, London, Paris, bahkan Tel Aviv sendiri.

Ketika Israel menyebut semua orang sebagai antisemit, mereka kehilangan legitimasi moral. Dunia melihatnya bukan lagi sebagai argumen, tetapi sebagai tameng untuk menutupi kejahatan.

—

9. Dinding Senjata Tidak Abadi

Israel mungkin masih merasa kuat dengan teknologi militernya: Iron Dome, drone, jet tempur, rudal presisi. Tetapi sejarah membuktikan, dinding senjata tidak abadi. Uni Soviet runtuh meski punya nuklir. Sparta hancur meski prajuritnya legendaris. Apartheid tumbang meski polisi dan militernya brutal.

Yang abadi bukan senjata, melainkan legitimasi moral. Dan inilah yang hilang dari Israel. Mereka bisa menghancurkan Gaza, tetapi mereka tidak bisa menghancurkan suara dunia yang terus bergema: Free Palestine.

BACA JUGA: Negara “Super-Sparta” Netanyahu: Bayangan Sparta Kuno di Tanah Zionis

10. Refleksi: Kejatuhan dari Langit

Sejarah mencatat: banyak imperium jatuh bukan karena kekalahan militer, tetapi karena kehilangan legitimasi moral. Roma hancur karena korupsi internal. Uni Soviet runtuh karena kebangkrutan ideologis. Afrika Selatan berubah karena tekanan moral global.

Kini, Israel tengah menuju fase yang sama. Pesawat Netanyahu yang memutar jalur adalah simbol perjalanan bangsa itu: terbang tinggi dengan arogansi, tetapi semakin dihindari, semakin terisolasi, semakin kehilangan arah. Mereka bisa mendarat di New York, tetapi perjalanan sejarah mereka sedang menuju kehampaan.

—

Epilog: Terbang Menuju Kehampaan

Netanyahu akan berpidato di podium megah PBB. Kata-katanya akan didengar dunia, tetapi gema moralnya kosong. Dunia tidak lagi melihat Israel sebagai negara kecil yang bertahan, melainkan sebagai mesin besar penindasan yang kehabisan alasan.

Pesawat Wing of Zion boleh saja mendarat dengan selamat. Namun, perjalanan politik Israel sedang menuju jurang isolasi. Langit dunia kian menutup bagi mereka. Dan seperti semua bangsa yang menolak keadilan, Israel hanya menunggu waktu untuk dikenang sebagai sebuah negara yang pernah terbang tinggi, lalu jatuh dalam kesepian global. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *