1. Aula yang Kosong: Auman Singa atau Gema yang Hampa?
BAYANGKAN sebuah aula megah di New York. Lampu-lampu menyala, kamera terpasang, mimbar PBB berdiri kokoh. Namun kursi-kursi di depannya kosong. Diplomat satu per satu telah meninggalkan ruangan. Di tengah keheningan itu, Benjamin Netanyahu berdiri tegak, menggenggam teks pidatonya, mengaum lantang: “Putra-putri kami berjuang bak singa… dipersenjatai dengan impian ratusan generasi Yahudi.”
Singa. Kata itu bergaung di aula yang hampir sunyi. Tapi apakah benar seekor singa bisa tetap disebut singa ketika hutan tidak mendengarnya? Apakah raja hutan tetap raja bila yang tinggal hanya kursi kosong, bukan penghuni rimba?
Pidato itu menjadi lebih seperti monolog teater: seorang aktor yang masih berteriak meski penonton sudah bubar. Dan di situlah pertanyaan kita lahir: benarkah Israel adalah singa, atau hanya bayangan singa yang diproyeksikan lewat lampu propaganda?
2. Singa di Kertas: Sejarah yang Menopang Retorika
Mari kita telusuri jejaknya. Bila Netanyahu mengklaim Israel sebagai singa, maka sejarah peperangan merekalah yang seharusnya menjadi hutan pembuktiannya.
1948: Lahir dari Kandang, Bukan dari Hutan
Perang kemerdekaan Israel disebut-sebut sebagai momen heroik: sekelompok kecil Yahudi melawan dunia Arab yang besar. Narasi resmi menggambarkannya sebagai kisah “David melawan Goliath.” Namun sejarawan Avi Shlaim dari Oxford—salah satu “New Historians”—membongkar mitos itu: Israel sejak awal mendapat suplai senjata masif dari Uni Soviet melalui Cekoslowakia, sementara negara-negara Arab justru masih terpecah dan miskin logistik.
Artinya, “singa” yang dikisahkan lahir gagah, sebenarnya disuapi oleh kekuatan asing. Seekor singa yang dibesarkan dalam kandang besi, bukan di rimba bebas.
1973: Yom Kippur, Singa yang Hampir Runtuh
Tahun 1973, Mesir dan Suriah melancarkan serangan mendadak pada hari raya Yom Kippur. Tentara Mesir menyeberangi Terusan Suez, menghancurkan garis pertahanan Israel yang dianggap tak terkalahkan. Selama beberapa hari, Israel terombang-ambing di jurang kekalahan.
Sejarawan militer Martin van Creveld, yang juga berasal dari Israel, menulis bahwa negeri itu nyaris kehilangan segalanya jika saja Amerika tidak mengirimkan “jembatan udara” berisi ribuan ton senjata, tank, dan pesawat. Singa yang katanya perkasa ternyata tidak mampu bertahan tanpa daging yang dilemparkan dari luar.
1982 & 2006: Lebanon, Singa yang Terpental
Israel masuk ke Lebanon tahun 1982, dengan ambisi menghancurkan PLO. Namun yang mereka warisi justru perlawanan baru bernama Hizbullah. Dua dekade kemudian, 2006, mereka kembali menyerbu. Hasilnya? Perang 34 hari memperlihatkan bagaimana sebuah kelompok kecil bersenjata seadanya mampu menahan mesin militer raksasa.
Jurnalis veteran Robert Fisk menulis bahwa perang 2006 adalah kegagalan besar Israel: tank Merkava hancur, pasukan darat kesulitan masuk, dan akhirnya Israel terpaksa mundur. Singa yang seharusnya melompat gagah, justru terpental oleh kawanan kecil yang teguh di sarangnya.
Intifada: Singa yang Takut pada Batu
Intifada pertama (1987–1993) dan kedua (2000–2005) memperlihatkan hal yang lebih absurd: anak-anak Palestina dengan batu melawan tank dan tentara bersenjata. Dunia menyaksikan bagaimana militer tercanggih di kawasan itu panik menghadapi tangan-tangan kecil.
Apakah seekor singa yang gemetar menghadapi batu masih layak disebut raja hutan?
Gaza: 2008, 2014, 2021, 2023
Setiap beberapa tahun, Israel menyerang Gaza. Kota-kota diratakan, ribuan warga sipil terbunuh. Namun Hamas dan kelompok perlawanan lain tetap bertahan. Setiap perang justru melahirkan generasi baru pejuang. Netanyahu menyebutnya “menyelesaikan pekerjaan.” Namun sejarah memperlihatkan: pekerjaan itu tidak pernah selesai.
Singa yang mengaum keras, tapi tidak pernah benar-benar menelan mangsanya.
3. Suara Para Pakar: Israel dalam Cermin Dunia
Sejarawan Avi Shlaim menyebut mitos Israel sebagai David kecil melawan Goliath Arab hanyalah propaganda. Faktanya, sejak awal Israel adalah Goliath yang dipersenjatai kekuatan asing.
Martin van Creveld, pakar strategi militer Israel, menegaskan: tanpa dukungan Amerika, Israel tidak mungkin bertahan menghadapi perang panjang. Singa itu bergantung pada pemburu lain untuk memberinya makan.
John Mearsheimer dan Stephen Walt, dua pakar hubungan internasional dari Chicago dan Harvard, menulis dalam The Israel Lobby bahwa kekuatan militer Israel bukan hanya hasil kerja internal, melainkan produk dari dukungan politik, diplomatik, dan finansial AS. Dengan kata lain, singa itu tidak hidup di hutan bebas, melainkan di kebun binatang yang dijaga ketat oleh penjaga Amerika.
Sementara Robert Fisk melihat perang Lebanon 2006 sebagai bukti keterbatasan Israel. Menurutnya, tidak ada lagi aura tak terkalahkan: Israel bukan singa yang berlari bebas, melainkan predator yang terperangkap oleh taktik gerilya.
4. Benarkah Israel Singa? Atau Bayangan di Padang Pasir?
Kita kembali pada metafora Netanyahu. Bila Israel adalah singa, maka ia adalah singa yang berbeda dari kisah-kisah alam.
Singa sejati tidak meminta pengakuan untuk menjadi raja hutan. Ia cukup diakui oleh seluruh penghuni rimba karena keberaniannya. Namun Israel, sejak berdirinya, selalu haus pengakuan: dari PBB, dari Amerika, dari dunia Arab.
Singa sejati tidak akan panik bila ada suara-suara menentangnya. Namun Israel, dengan militer raksasa, masih gemetar menghadapi anak-anak Gaza yang melempar batu, atau pejuang yang bertahan di terowongan.
Singa sejati tidak membutuhkan penjaga untuk memastikan ia tetap hidup. Namun Israel tidak pernah bisa bertahan tanpa jaminan Amerika: baik senjata, veto PBB, maupun miliaran dolar bantuan setiap tahun.
Maka barangkali lebih tepat jika kita menyebut Israel bukan singa, melainkan bayangan singa di padang pasir. Bayangan itu bisa tampak besar, menakutkan, menelan horizon. Tapi begitu didekati, ia hanyalah pantulan cahaya: tidak berisi, tidak berdaging.
5. Penutup: Aula Tetap Kosong, Singa Tetap Bayangan
Pidato Netanyahu di PBB diakhiri dengan auman besar, seolah dunia wajib mendengarkan. Namun kursi-kursi kosong di aula adalah simbol yang jauh lebih kuat daripada kata-katanya. Dunia sudah mulai meninggalkan Israel dalam kesendiriannya.
Avi Shlaim, Martin van Creveld, John Mearsheimer, Robert Fisk—semua suara pakar itu hanyalah gema dari apa yang sebenarnya sudah tampak: Israel tidak pernah menjadi singa sejati. Ia hanya mencoba meyakinkan dunia bahwa dirinya demikian.
Pertanyaan kita kembali: apakah singa tetap singa bila tidak ada hutan yang mengakuinya? Ataukah ia hanya bayangan, yang semakin lama akan lenyap ditelan cahaya matahari?
Aula itu masih kosong. Auman Netanyahu sudah berhenti. Dan yang tersisa hanyalah keheningan—keheningan yang mungkin lebih jujur daripada semua kata-kata yang telah diucapkan. ]\
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
