Mindset Militer Trump: Dari Pertahanan Menjadi Perang

Nasrulloh Baksolahar
8 Min Read
Foto: Freepik

ADA sebuah keheningan aneh di auditorium Quantico, Virginia, ketika suara Pete Hegseth bergema. “Sangat tidak dapat diterima melihat jenderal dan laksamana gemuk di Pentagon,” katanya. Kalimat itu sederhana, kasar, bahkan cenderung murahan. Namun di balik ejekan tentang tubuh para jenderal, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih dalam: sebuah upaya untuk mempermalukan masa lalu, dan mengganti wajah militer Amerika dengan cermin ideologis baru.

Di sampingnya, Donald Trump, presiden yang menyukai panggung dan drama, tersenyum puas. Ia menambahkan bumbu lebih keras: kota-kota Amerika—Chicago, Portland, Los Angeles—akan dijadikan “tempat latihan pasukan.” Kalimat itu meluncur seakan-akan wajar. Tapi di telinga yang jernih, ia terdengar menakutkan: negara sedang menatap ke dalam, dan menemukan musuh bukan di luar, melainkan di jalan-jalan sendiri.

—

Dari “Pertahanan” ke “Perang”

Delapan bulan pemerintahan Trump sudah mengubah banyak hal: nama “Departemen Pertahanan” hendak dihapus, diganti dengan “Departemen Perang.” Nama bukan sekadar formalitas. Nama adalah simbol, dan simbol adalah arah. “Pertahanan” menandakan sikap menjaga, melindungi, menahan serangan. “Perang” berarti menyerang, melumat, memusnahkan.

Perubahan nama ini terasa seperti perubahan ruh. Ia menandai pergeseran Amerika dari negara yang memandang dirinya sebagai benteng kebebasan, menjadi negara yang mencari musuh—di luar, maupun di dalam. Dan di ruang itulah Trump berbicara: di hadapan laksamana dan jenderal, dengan bendera raksasa sebagai latar, seakan-akan sedang mengukuhkan era baru.

Tapi sesuatu tampak salah. Para jenderal duduk diam, wajah mereka tanpa ekspresi. Auditorium terasa sunyi, tidak seperti sorak-sorai rapat umum Trump. Mungkin dalam hati mereka muncul pertanyaan: kepada siapa kesetiaan ini harus diberikan—kepada presiden yang sedang berbicara, atau kepada Konstitusi yang mereka sumpah untuk lindungi?

BACA JUGA:  Bisakah Amerika Menjadikan Normalisasi Arab dengan Israel sebagai Proses Integrasi Israel ke Timur Tengah?

Militer sebagai Panggung Politik

Dalam tradisi Amerika, militer adalah institusi yang seharusnya apolitis, profesional, netral dari pergulatan partai. Tapi pidato Hegseth dan Trump mencabik-cabik garis itu. Loyalitas yang dituntut bukan lagi kepada negara secara utuh, melainkan kepada agenda politik tertentu.

“Jika kata-kata saya membuat hati kalian hancur, sebaiknya kalian mundur,” kata Hegseth. Di satu sisi, kalimat itu terdengar seperti ujian. Tapi di sisi lain, ia adalah ancaman halus: siapa pun yang berbeda, silakan keluar dari panggung.

Beginilah politik merembes ke dalam tubuh militer: bukan lagi meritokrasi, bukan lagi kapasitas, melainkan kesetiaan personal. Hari ini jenderal diukur dari perutnya, besok mungkin dari pandangan politiknya. Dari situlah retakan besar bisa lahir—retakan yang lebih berbahaya daripada serangan musuh mana pun.

—

Kota sebagai Medan Latihan

Trump menyebut kota-kota Amerika yang dianggap “berbahaya” sebagai ladang latihan militer. Kata-kata itu seperti api kecil yang dilemparkan ke padang rumput kering. Di dalamnya terkandung logika yang berbahaya: bahwa sesama warga negara bisa diperlakukan sebagai musuh.

Apa artinya ketika Chicago diperlakukan seperti Fallujah, ketika Los Angeles diperlakukan seperti Kabul? Itu berarti bangsa ini sedang kehilangan arah, lupa membedakan antara rakyat dan musuh.

Sejarah mengajarkan: begitu sebuah negara mulai memperlakukan rakyatnya sebagai target, saat itulah kehancuran dimulai. Uni Soviet melakukannya dengan Gulag, Jerman Nazi dengan kamp konsentrasi, banyak rezim Amerika Latin dengan “perang kotor” terhadap oposisi internal. Selalu ada alasan indah: stabilitas, keamanan, perang melawan ancaman. Tapi pada akhirnya, yang tersisa adalah darah rakyat sendiri.

—

Retorika yang Membelah

Ejekan “jenderal gemuk” terdengar sepele, tapi ia adalah retorika yang sengaja dibangun. Retorika yang menertawakan tubuh, menyingkirkan perempuan, menghapus perbedaan warna kulit, dan menolak keberagaman. Retorika ini mungkin memberi energi pada basis pendukung, tapi ia merusak fondasi militer yang profesional: bahwa setiap orang dinilai dari kapasitas, bukan dari identitas atau tubuhnya.

Retorika semacam ini ibarat racun kecil yang diteteskan perlahan ke dalam air minum. Awalnya tidak terasa, lama-lama melumpuhkan. Bangsa bisa saja tetap berdiri gagah dengan kapal selam nuklir, tapi di dalam tubuhnya sudah menyebar kelemahan yang mematikan.

—

Musuh dari Dalam

Trump berkata, “Amerika sedang diserang dari dalam. Mereka tidak memakai seragam, tapi mereka lebih berbahaya.” Kata-kata itu mengguncang. Ia menciptakan garis pemisah antara “kita” dan “mereka”, tapi “mereka” yang dimaksud adalah sesama warga Amerika.

Beginilah logika perang saudara biasanya dimulai: dari bahasa yang mengasingkan tetangga sendiri, dari stigma bahwa berbeda berarti musuh.

Seorang gubernur Illinois menjawab dengan getir: “Siapa pun yang menyebut sesama warga sebagai musuh tidak layak memimpin.” Kalimat itu sederhana, tapi sebenarnya ia sedang menyalakan alarm bahaya. Karena sekali bahasa itu diterima, pintu menuju kekerasan terbuka lebar.

—

Cermin Bangsa

Apa yang terjadi di Quantico bukan hanya acara politik. Ia adalah cermin. Ia memperlihatkan bagaimana sebuah bangsa bisa perlahan melihat dirinya sendiri sebagai ancaman.

Dulu, musuh Amerika jelas: Nazi Jerman, Uni Soviet, Al-Qaeda. Kini, musuh itu kabur, bahkan kabarnya tinggal di kota-kota Amerika sendiri. Dalam kaburnya batas itu, negara bisa tergelincir pada jalan gelap: jalan di mana tank tak lagi dikirim ke perbatasan, melainkan ke jalan-jalan domestik.

—

Dari Retorika ke Realitas

Banyak yang mengira Trump hanya berbicara untuk efek panggung, seperti acara televisi realitas yang dulu membesarkan namanya. Tapi sejarah mengajarkan bahwa retorika, ketika diulang-ulang, bisa menjadi realitas.

Hitler memulai dengan kata-kata di bierkeller München. Stalin dengan pidato tentang “musuh rakyat.” Retorika itu lalu menjelma menjadi gulag dan kamp konsentrasi. Kata-kata bukan sekadar bunyi; ia adalah peta jalan yang, sekali diikuti, bisa menelan sebuah bangsa.

—

Lelahnya Bangsa

Di luar auditorium, rakyat Amerika menghadapi persoalan nyata: kesenjangan sosial, krisis ekonomi, polarisasi politik, dan imigrasi. Mungkin karena itulah retorika keras menemukan pendengar. Bangsa yang lelah mencari jawaban sederhana, dan selalu ada pemimpin yang menjualnya: musuh di luar, atau musuh di dalam.

Namun jawaban sederhana hampir selalu menipu. Ia menawarkan kepuasan seketika, tapi membangun luka jangka panjang. Mengirim pasukan ke Chicago mungkin tampak menyelesaikan masalah keamanan, tapi sesungguhnya ia hanya menambah jurang antara negara dan rakyat.

BACA JUGA: Veto Amerika dan Tangisan Anak Gaza

Refleksi: Negara yang Memerangi Dirinya Sendiri

Dalam Al-Qur’an, ada kisah kaum yang hancur bukan karena musuh luar, tapi karena mereka saling menumpahkan darah. Allah berfirman: “Mengapa kamu membunuh dirimu sendiri? Mengapa kamu mengusir sebagian dari kamu dari kampung halamannya?” (QS. Al-Baqarah: 85). Ayat itu adalah peringatan: ketika sebuah bangsa mengarahkan pedang ke dalam, ia sedang mempercepat kehancurannya sendiri.

Amerika, dengan segala kapal induk dan rudalnya, bisa saja kuat menghadapi dunia. Tapi jika ia mulai melihat warganya sendiri sebagai musuh, apa bedanya dengan bangsa-bangsa yang lenyap karena memerangi dirinya sendiri?

—

Penutup: Jalan yang Menentukan

Trump dan Hegseth mungkin hanya mencari sorotan. Tapi kalimat mereka menyingkap arah yang sedang ditempuh bangsa. Jalan itu bisa membawa pada kebangkitan baru—jika rakyat menolak logika kebencian, dan memilih kembali ke prinsip dasar: militer untuk melindungi, bukan menakut-nakuti rakyat.

Atau jalan itu bisa membawa pada kegelapan: sebuah bangsa yang menganggap kota-kotanya sendiri sebagai medan tempur, rakyatnya sendiri sebagai musuh.

Pilihan itu kini terbentang di hadapan Amerika. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *