Apakah dengan Gencatan Senjata, Dunia akan Memaafkan Israel atas Genosida Gaza?

Nasrulloh Baksolahar
11 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

Di Ambang Sunyi: Dunia Setelah Gencatan Senjata

Malam setelah gencatan senjata diumumkan, Gaza masih berasap.
Anak-anak keluar dari reruntuhan, bukan untuk bermain, tapi mencari nama ibunya yang tertulis di papan darurat di tenda PBB. Dunia menyebutnya “perdamaian sementara”, tetapi di langit Palestina, tak ada kata yang sungguh-sungguh bisa menggambarkan diam setelah badai.

Di kota-kota Eropa, bendera Palestina masih berkibar di antara kabut musim gugur. Di universitas-universitas Amerika, para mahasiswa tetap berkemah, menolak untuk diam. Di jalanan Tel Aviv, cemooh terhadap Netanyahu terus terdengar—terutama ketika ia berdiri di panggung bersama Trump dan berusaha tersenyum.
Tetapi di balik semua itu, pertanyaan yang lebih dalam mengambang seperti asap di udara:
Apakah dengan gencatan senjata, dunia akan memaafkan Israel?

—

Tentang “Memaafkan” dalam Skala Bangsa

Kata “memaafkan” terdengar lembut, tapi dalam konteks bangsa dan sejarah, ia menjadi kata paling berat.
Memaafkan bukan sekadar berhenti menembak; ia menuntut pengakuan kesalahan, pertanggungjawaban, reparasi, dan perubahan moral.

Profesor Martha Minow dari Harvard Law School dalam bukunya Between Vengeance and Forgiveness menulis,

“Rekonsiliasi sejati dimulai bukan dari gencatan, tetapi dari kejujuran terhadap masa lalu. Pengampunan tanpa kebenaran hanya menunda luka.”

Gencatan senjata mungkin menutup suara senapan, tapi tidak menutup suara hati.
Maka, kita harus bertanya dengan jujur: apakah Israel telah mengakui genosida yang terjadi di Gaza?

Jawabannya: belum.
Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada pengakuan kesalahan. Tidak ada reparasi.
Hanya sebuah kesepakatan “berhenti sementara” di bawah tekanan diplomasi dunia, di tengah laporan-laporan yang masih menumpuk di meja Mahkamah Internasional.

—

Teori “Pengampunan Kolektif”

Dalam studi psikologi politik, ada lima syarat agar masyarakat dunia benar-benar dapat memaafkan kejahatan besar:

1. Pengakuan kesalahan – bahwa yang terjadi bukan “insiden perang”, melainkan kejahatan moral dan kemanusiaan.

2. Penyesalan dan permintaan maaf – bukan strategi politik, tapi kesedihan moral yang diucapkan oleh pemimpin.

3. Pertanggungjawaban hukum – pengadilan, reparasi, atau hukuman.

4. Perbaikan struktural – menghapus sistem yang memungkinkan kejahatan terjadi.

5. Pendidikan dan memori sejarah – agar generasi berikutnya tidak melupakan.

Tanpa lima hal itu, “pengampunan” hanyalah ilusi diplomatik.
Ia mungkin berguna di meja negosiasi, tapi tak akan pernah menyentuh nurani manusia.

—

Cermin dari Masa Lalu: Ketika Dunia Belajar Mengampuni

Mari kita tengok sejarah.

Jerman dan Holocaust

Setelah Perang Dunia II, Jerman tidak langsung dimaafkan. Mereka dituntut di Nuremberg Trials, dijatuhi hukuman, membayar reparasi kepada Israel dan Yahudi di seluruh dunia, dan membangun kurikulum pendidikan untuk mengenang kejahatan itu.

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier pada 2021 berkata:

“Rasa bersalah ini tidak dapat ditebus, tapi dapat diakui. Kami berdiri di hadapan sejarah bukan untuk menghapusnya, tapi untuk mengingat agar tidak mengulanginya.”

Karena kejujuran itulah, Jerman diampuni — bukan karena mereka berhenti membunuh, tapi karena mereka mengakui dan berubah.

—

Eropa dan Bayang-bayang Penjajahan

Bagi banyak bangsa di Afrika dan Asia, luka kolonial masih berdarah.
Inggris memang meminta maaf atas pembantaian Mau Mau di Kenya; Belanda meminta maaf atas kekerasan di Indonesia; Prancis meminta maaf atas pembantaian di Aljazair.
Namun semuanya terjadi puluhan tahun kemudian, setelah korban meninggal, setelah struktur ketimpangan sudah mengakar.

Sejarawan Inggris Caroline Elkins menyebutnya dalam bukunya Legacy of Violence:

“Eropa tak pernah sungguh-sungguh menyesal. Mereka menulis ulang sejarahnya agar kelihatan lebih manusiawi.”

Akibatnya, memori penjajahan tetap hidup — bukan dalam dendam, tapi dalam tuntutan moral yang tak pernah selesai.

—

Amerika dan Luka Asia

Di Vietnam, jutaan orang mati.
AS tidak pernah meminta maaf secara resmi atas penggunaan Agent Orange yang membuat ribuan anak cacat hingga kini.
Di Irak dan Afghanistan, laporan kejahatan perang muncul berkala, tetapi permintaan maaf formal tak pernah keluar dari Gedung Putih.

Profesor John Mearsheimer, pakar hubungan internasional dari University of Chicago, menulis:

“Negara-negara besar sering menganggap moralitas sebagai kemewahan — sesuatu yang hanya dipakai ketika tidak mengganggu kepentingan nasional.”

Dunia belajar, pengampunan tanpa tanggung jawab hanyalah strategi, bukan moralitas.

—

Lalu Bagaimana dengan Israel?

Israel hari ini menghadapi dilema moral terbesar dalam sejarah modernnya.
Gencatan senjata yang disepakati di bawah tekanan internasional bukanlah tanda “penyesalan”, tapi kebutuhan politik.
Di dalam negeri, masyarakat terbelah — antara trauma serangan 7 Oktober dan bayang-bayang kebiadaban terhadap Gaza.

Profesor Ilan Pappé, sejarawan Israel yang menulis The Ethnic Cleansing of Palestine, menegaskan:

“Selama Israel menolak mengakui bahwa Palestina adalah bangsa yang dipindahkan secara paksa, setiap perdamaian hanyalah istirahat di antara dua kekerasan.”

Dan Richard Falk, mantan Pelapor Khusus PBB untuk Palestina, menambahkan:

“Tidak ada rekonsiliasi sejati tanpa keadilan. Dunia tidak bisa memaafkan genosida yang tidak diakui.”

—

Dunia yang Tidak Mudah Lupa

Kini, kita hidup di zaman ingatan digital.
Setiap gambar bayi Gaza yang terbakar, setiap ibu yang menggenggam potongan tubuh anaknya, tersimpan di jagat maya tanpa bisa dihapus.

Tidak seperti abad lalu, dunia kini menyimpan memori di awan data.
Itulah sebabnya, sebagaimana dikatakan sejarawan Yuval Noah Harari:

“Kita tidak lagi hidup di dunia yang bisa dikontrol oleh narasi tunggal. Setiap warga kini adalah saksi sejarah.”

Gencatan senjata tidak bisa menghapus bukti, tidak bisa membungkam kesaksian.
Selama internet masih ada, Gaza akan selalu menjadi monumen digital tentang apa yang disebut dunia “peradaban” lakukan terhadap manusia tak bersenjata.

—

Reaksi Dunia: Dari Stadion ke Parlemen

Setelah gencatan senjata, gelombang moral belum surut.
Ketika tim Israel bertanding melawan Norwegia dalam kualifikasi sepakbola, ribuan penonton bersorak dengan spanduk bertuliskan “Children of Gaza Will Not Be Forgotten”.
Di Eropa, festival-festival seni menolak partisipasi delegasi resmi Israel, sementara di universitas-universitas besar, dosen dan mahasiswa meluncurkan “boikot akademik moral”.

Sosiolog Perancis Alain Touraine menyebut fenomena ini sebagai memori sipil global:

“Ketika pemerintah bungkam, masyarakat dunia mengambil alih fungsi moral sejarah.”

Maka, bahkan ketika senjata berhenti, suara rakyat dunia masih bergema: “Gaza belum mendapat keadilan.”

—

Antara Isolasi dan Arrogansi

Apakah Israel akan kembali diterima di panggung dunia?
Jawabannya rumit.
Secara geopolitik, Israel tetap memiliki sekutu strategis: Amerika, sebagian Eropa, dan hubungan rahasia dengan negara-negara Teluk.
Namun di ranah moral dan opini publik, Israel telah menjadi negara yang paling terisolasi secara etis sejak era apartheid Afrika Selatan.

Profesor Michael Lynk, pakar hukum internasional dan mantan Pelapor PBB, menulis:

“Israel tidak akan pernah aman, bahkan jika mereka menang secara militer. Keamanan tidak tumbuh dari kekuasaan, tetapi dari legitimasi moral.”

Dan di sinilah masalahnya: legitimasi itu sudah hancur.
Tak ada pidato Netanyahu di PBB, tak ada bantuan kemanusiaan yang dapat menutup jurang antara kekuatan dan keadilan.

—

Pelajaran dari Para Sufi: Tentang Pengampunan dan Keadilan

Para sufi memahami bahwa memaafkan bukan berarti melupakan.
Imam Al-Ghazali berkata:

“Ampunan adalah kemuliaan hati, tapi keadilan adalah tiang dunia. Jika tiang itu roboh, ampunan pun kehilangan makna.”

Rumi menulis dalam Mathnawi:

“Jangan maafkan kezaliman tanpa mengingat air mata yang ditinggalkannya, sebab Tuhan sendiri tidak menulis ampunan bagi Fir’aun sebelum ia menenggelamkan keangkuhannya.”

Dalam pandangan tasawuf, pengampunan sejati menuntut taubat.
Tanpa penyesalan, ampunan hanyalah penipuan terhadap nurani.

—

Luka Gaza dan Hati Dunia

Gaza hari ini bukan hanya tragedi geografis; ia adalah cermin nurani manusia.
Seperti kata Mahmoud Darwish:

“Di Gaza, kita tidak mati karena kita mencintai kematian. Kita mati karena dunia mencintai diamnya.”

Maka, gencatan senjata bukan akhir kisah, melainkan ujian moral dunia:
apakah kita memilih melupakan agar nyaman, atau mengingat agar tetap manusiawi?

Profesor Gregory Stanton, pendiri Genocide Watch, memperingatkan dalam wawancara dengan Reuters:

“Genosida bukan hanya peristiwa militer; ia adalah kegagalan moral global. Jika dunia tidak menegakkan keadilan di Gaza, maka dunia sedang melatih genosida berikutnya.”

BACA JUGA:  Genosida di Gaza: Pencipta Konflik Antara Yahudi, Zionisme, Israel, dan Dunia

Epilog: Dari Abu, Ingatan Tumbuh

Ketika malam turun di Gaza, seorang anak menatap langit yang hitam.
Ia tidak tahu apa arti “gencatan senjata” — yang ia tahu hanya bahwa suara bom berhenti.
Namun dalam diam itu, dunia diuji.

Apakah kita akan membiarkan sejarah menulis lagi kisah yang sama seperti Jerman, Vietnam, Aljazair, dan Irak —
kisah tentang manusia yang membunuh, lalu meminta dilupakan?

Atau kita akan belajar dari sejarah — bahwa pengampunan tanpa keadilan adalah bentuk pengkhianatan paling halus terhadap kemanusiaan.

“Dan janganlah kamu menyangka bahwa Allah lalai terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Dia hanya menangguhkan mereka sampai hari di mana mata mereka akan terbelalak.”
— QS. Ibrahim: 42

—

Penutup Reflektif

Gencatan senjata hanyalah jeda.
Yang sejati adalah perjuangan agar dunia tidak kehilangan rasa malu terhadap kejahatan yang dilakukan atas nama keamanan.

Jerman diampuni karena ia mengaku.
Eropa ditoleransi karena ia setidaknya mencoba menyesal.
Amerika dipertanyakan karena ia enggan minta maaf.
Tapi Israel—ia masih berdiri di persimpangan antara pengakuan dan pengingkaran.

Selama Gaza belum dibangun kembali, selama anak-anaknya belum mendapat keadilan,
maka dunia tidak akan memaafkan, bahkan jika senjata telah lama berhenti berbunyi. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *