ADA suatu malam di selatan Lebanon ketika sebuah buldoser—alat berat yang biasanya menjadi simbol pembukaan jalan atau pembangunan—meledak di tangan seorang operatornya. Ledakan itu bukan hanya fisik. Ia adalah ledakan dari harapan yang hancur, harapan bahwa setelah perang, ada pintu untuk kembali, ada tanah untuk dibangun, ada kehidupan untuk dilanjutkan.
Sejak ulang tahun konflik dua tahun lalu antara Hezbollah dan Israel — yang bermula sebagai dampak dari perang Gaza — sebuah strategi militer baru muncul di selatan Lebanon. Bukan hanya bom yang meledak, tetapi rekonstruksi yang dibom sebelum sempat dimulai.
“Israel telah membuat rekonstruksi di Lebanon selatan hampir mustahil … lebih dari 80.000 penduduk tak bisa membangun kembali komunitas mereka.”
Jika Gaza pernah disebut “zona perang hidup” – sekarang selatan Lebanon tampak sedang diarahkan menjadi “Gaza-kedua”: tanah yang tak hanya hancur oleh ledakan, tetapi dihancurkan harapannya sebelum bisa ‘baru’.
—
Titik Mulai: Pembangunan Diincar
Pada 2 Oktober 2025, dua insinyur yang bekerja untuk sebuah perusahaan yang dikenai sanksi AS karena terhubung dengan Hezbollah tewas oleh serangan Israel di selatan Lebanon.
Beberapa hari kemudian, sebuah lokasi konstruksi dekat Msayleh, wilayah selatan, hancur — ratusan kendaraan dan mesin berat terbakar.
Sebuah bulldozer di luar rumah, satu operatornya tewas. Sebuah ekskavator diserang oleh tiga rudal. Semua ini bukan hanya serangan militer, tetapi serangan terhadap gagasan bahwa manusia bisa kembali dan membangun.
Analisis dari Malcolm H. Kerr Carnegie Middle East Centre menyebut bahwa tujuan Israel tampak jelas:
“Dengan melakukan hal itu, Israel telah menciptakan zona keamanan virtual yang membatasi kebebasan bergerak Hezbollah … Ia juga berharap penduduk yang mengungsi akan memberikan tekanan terhadap Hezbollah.”
—
Ketika Pembangunan Jadi Sasaran
Biasanya dalam perang, kita berbicara tentang bangunan yang roboh, manusia yang terluka, korban yang berjatuhan. Di sini, ada babak yang berbeda: rekonstruksi yang diserang.
Mesin-mesin berat yang akan menjadi simbol harapan, justru menjadi target. Lokasi konstruksi — seharusnya tempat dimulainya perbaikan — menjadi lokasi kerentanan.
Sebuah laporan menyebut:
“Bulan Agustus, antara 1 Oktober 2024 dan 26 Januari 2025, Israel menghancurkan lebih dari 10.000 bangunan sipil dan lahan pertanian di 26 kotamadya Lebanon selatan.”
Dan sekarang strategi bergeser: dari serangan terhadap infrastruktur militer ke serangan terhadap upaya pembangunan sosial-ekonomi — ruang kehidupan. Karena siapa yang membangun ulang? Siapa yang kembali? Ataukah tanah itu dibiarkan kosong, terbengkalai, menjadi latar bagi kontrol militer terus-menerus?
—
Penduduk Tak Bisa Pulang
Lebih dari 80.000 orang pengungsi yang seharusnya bisa pulang ke rumah mereka di selatan Lebanon kini terjebak dalam keadaan “tunggu-kembali”. Karena kapan pun mereka mencoba pulang dan membangun kembali, bom atau rudal bisa menghantam.
“Serangan-serangan ini memperlambat kembalinya penduduk yang mengungsi ke selatan, mempertahankan kondisi ketidakstabilan dan ketergantungan yang melemahkan basis sosial Hezbollah.”
— Imad Salamey, Profesor Ilmu Politik di Universitas Lebanon Amerika
Akibatnya: bukan hanya rumah yang roboh, melainkan keputusan untuk pulang yang harus dibatalkan. Dan ketika keputusan untuk pulang batal berulang kali, maka identitas komunitas, ikatan sosial, dan luka-kolonial menjadi bagian sejarah hidup masyarakat itu.
—
Alasan Strategis?
Kenapa Israel melancarkan demikian? Karena logika perang hari-ini tidak hanya soal kemenangan di medan perang, tetapi soal persetujuan pembangunan dan legitimasi masa depan keamanan.
Menurut analis:
Israel berharap bahwa dengan menghambat rekonstruksi, ia bisa menekan pemerintah Lebanon agar melucuti senjata Hezbollah.
Juga, dengan menjaga selatan tetap dalam keadaan rusak, Israel memperkuat posisi tawar dalam diplomasi dan mediasi ekonomi-keamanan.
Di satu sisi, pembangunan dipanggil sebagai solusi ekonomi; di sisi lain, pembangunan itu sendiri dibom sebagai ancaman keamanan. Paradoks yang tertanam dalam realitas selatan Lebanon hari ini.
—
Paradoks: Harapan vs Ketakutan
Dialog kecil antara dua insinyur di sebuah proyek di selatan:
“Kita akan membangun kembali pabrik ini – kalau kita tidak dibom dulu.”
“Kalau dibom, kita jadi pekerja ‘menjahit’ reruntuhan bukan membangunnya.”
Kata-kata ini sederhana, tapi menjadi inti bagi banyak orang: bahwa rekonstruksi di selatan Lebanon adalah bukan hanya masalah logistik, tapi soal izin untuk hidup tanpa bom, izin untuk pulang tanpa takut, dan penegasan hak untuk memiliki kehidupan yang stabil.
Menargetkan pekerja dan mesin bukan hanya soal melumpuhkan kemampuan militer lawan; itu adalah soal pesan:
“Kami bisa menghancurkan masa depanmu.”
Dan ketika pesan itu datang terus-menerus, maka orang mulai menyerah pada masa lalu — bukan karena mereka kalah, tapi karena mereka lelah.
—
Ekonomi yang Terikat Senjata
Rekonstruksi selatan Lebanon tak lepas dari angka: laporan World Bank menyebut bahwa dibutuhkan sekitar US $11 miliar untuk membangun kembali Lebanon pasc perang dari Oktober 2023 ke Desember 2024.
Namun, dana itu datang dengan syarat-syarat: reformasi ekonomi, pelucutan senjata Hezbollah, dan stabilitas.
“Tanpa pembicaraan tentang senjata, tidak ada dana. Tanpa dana, tidak ada pembangunan.”
— Tawfiq Shouman, peneliti politik Lebanon
Jadi, rekonstruksi menjadi mata uang tawar-menawar: bantuan = pelucutan senjata. Tapi apakah masyarakat bisa menunggu pertukaran itu sementara rumahnya roboh dan hidupnya hancur?
—
Bahaya Bumerang
Strategi ini — rusak dulu agar kembali bergantung — bisa jadi bumerang. Analis keamanan memperingatkan: jika penduduk tidak bisa kembali dan tidak bisa membangun, maka basis dukungan Hezbollah bisa tumbuh makin kuat atau hilang sama sekali dan diganti oleh kelompok lain.
“Jika Israel mencegah penduduk membangun kembali komunitas mereka di tempat asal mereka, ada kemungkinan kuat bahwa orang-orang akan membentuk kelompok mereka sendiri atau menemukan cara sendiri untuk membalas.”
— David Wood, Analis Senior Lebanon di International Crisis Group
Dengan kata lain: ketidakpastian struktural — selamat tinggal keamanan jangka panjang.
—
Kapan Pulang?
Di antara reruntuhan, suara-suara masih mengulang pertanyaan itu:
“Kapan kita bisa pulang?”
“Kapan kita boleh membangun?”
Tidak ada jawaban pasti. Ada saja bom baru, ada saja mesin dibom, ada saja donor yang ragu karena “tidak aman untuk investasi”.
Pada 11 Oktober 2025, sebuah serangan besar di Msayleh menghantam lokasi jual-alat berat—300 kendaraan hancur.
Pada 17 Oktober, satu orang tewas dan tujuh terluka dalam serangan Israel di selatan Lebanon.
Setiap kali roda buldoser berhenti, maka satu pulsa kehidupan terputus.
—
Gaza dan Lebanon: Dua Halaman Sahabat
Ada kemiripan menggetarkan: Gaza hancur dan sekarang selatan Lebanon tampak menunggu untuk jatuh ke dalam pola yang sama — hancur, terkatung-katung, tak bisa pulang.
Laporan analisis bahkan memperingatkan:
“Rencana Israel ini menimbulkan realitas baru – bagian Lebanon yang menjadi landasan pembangunan tetap terkunci dalam status darurat.”
Sebuah rumah tanpa atap, sebuah generasi tanpa sekolah, sebuah komunitas tanpa kebun: itu semua bagian dari perang yang tidak hanya melawan senjata, tetapi perang yang melawan kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA: Apakah dengan Gencatan Senjata, Dunia akan Memaafkan Israel atas Genosida Gaza?
Suara yang Belum Didengar
Di sebuah desa selatan, seorang ibu menatap reruntuhan rumahnya dan bertanya:
“Apakah kami dianggap manusia jika rumah kami dibom, pekerjaan kami dibom, dan harapan kami dibom?”
Kita sering membaca angka: US $11 miliar, 80.000 penduduk, ratusan mesin hancur. Tapi angka itu bukanlah benda mati—mereka adalah ayat-ayat kehidupan yang dilenyapkan.
Lubang bom itu adalah pintu terbuka untuk refleksi:
Apakah dunia yang berbicara tentang rekonstruksi sungguh memahami konsekuensi dari membuat pembangunan menjadi target?
—
Akhir (atau Awal?)
Pembangunan bukan hanya soal semen, baja, dan buldoser. Pembangunan adalah soal kepercayaan.
Ketika orang tak percaya bahwa mereka aman untuk membangun, maka pembangunan berhenti.
Dan ketika pembangunan berhenti, maka zona perang menjadi normalitas.
Israel mungkin melihat taktik jangka panjang: lemahkan basis sosial Hezbollah, ciptakan kondisi di mana penduduk akan menekan kelompok itu, dan tukar senjata dengan jalan raya yang tidak pernah selesai dibangun.
Tapi bagi warga selatan Lebanon, ini soal satu hal sederhana: pulang atau tidak.
“Kami tak minta banyak,” kata seorang pekerja konstruksi selatan. “Kami hanya ingin ‘sedikit’ bangun kembali—dan malam selamat dari bom.”
Jika rekonstruksi adalah garis depan yang baru, maka rusaknya rekonstruksi adalah garis belakang yang sering terlupakan.
Dan inilah persoalannya: apakah dunia siap mengenali bahwa kerusakan hidup sehari-hari adalah bagian penting dari perang—ataukah kita terus menghindar menatap reruntuhan yang tak lagi berbunyi?
Karena jika Lebanon selatan dibiarkan menjadi “Gaza kedua”, maka kerugian tidak hanya bagi selatan — tapi untuk seluruh gagasan bahwa manusia pantas memiliki rumah, masa depan, dan ketenangan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
