SEBELUM kita melihat dunia, sebelum mata ini terbuka untuk pertama kali, ada satu momen sakral yang telah kita lalui — momen agung di alam rahim. Di sana, di ruang gelap dan sunyi di rahim seorang ibu, manusia bukan hanya tumbuh dan berkembang secara fisik, tetapi juga telah menjalani peristiwa spiritual paling penting dalam hidupnya: mengikrarkan janji setia kepada Allah SWT.
Janji itu bukan sembarang perjanjian. Ia adalah sumpah tauhid, pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang mencipta, mengatur, dan memberi kehidupan. Sebuah pengakuan yang menjadi dasar eksistensi manusia di dunia.
Proses Penciptaan di Alam Rahim dan Hembusan Ruh
Rasulullah ﷺ menjelaskan dengan sangat indah bagaimana penciptaan manusia terjadi. Dalam sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:
“Sesungguhnya penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah (air mani), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama waktu yang sama, kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama waktu yang sama. Lalu Allah mengutus malaikat, dan diperintahkan menulis empat hal: amalnya, rezekinya, ajalnya, serta celaka atau bahagianya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menggambarkan bahwa manusia tidak hadir di dunia secara kebetulan. Sejak dalam rahim, seluruh catatan hidup telah ditulis dengan kehendak Allah. Bahkan ruh yang dihembuskan ke dalam janin adalah amanah suci dari Sang Pencipta — tanda bahwa kehidupan manusia sejatinya adalah titipan dan ujian.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Tuhfatul Maudud menjelaskan:
“Ruh itu ditiupkan setelah sempurna penciptaan jasadnya, dan saat itulah ia menjadi makhluk hidup yang memiliki kesadaran, siap menerima taklif (tanggung jawab sebagai hamba).”
BACA JUGA: Kenapa Bayi Baru Lahir Langsung Diperdengarkan Adzan?
Perjanjian Agung: Saksi Tauhid di Alam Rahim
Namun, ada peristiwa yang jauh lebih menakjubkan dari sekadar proses biologis: yaitu saat setiap ruh bersaksi bahwa Allah adalah Rabb mereka. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 172:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.’”
Momen ini dikenal dengan istilah Mitsaq al-Azal — perjanjian azali antara manusia dan Allah SWT.
Ibn Kathir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya:
“Ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah mengambil perjanjian atas seluruh keturunan Adam untuk mengakui keesaan-Nya. Maka fitrah manusia sejatinya adalah mengenal dan menyembah Allah. Barang siapa berpaling dari tauhid, sesungguhnya ia telah menyimpang dari fitrahnya sendiri.”
Demikian pula Imam Mujahid rahimahullah — seorang tabi’in terkemuka — menafsirkan ayat ini dengan mengatakan bahwa perjanjian tersebut diambil secara hakiki, bukan sekadar simbolis. Setiap ruh benar-benar berbicara dan bersaksi bahwa Allah adalah Tuhannya.
Janji yang Terlupakan di Dunia
Sayangnya, ketika manusia lahir ke dunia dan hidup di bawah naungan hawa nafsu serta tipu daya dunia, banyak yang melupakan janji itu. Mereka seolah terputus dari fitrahnya sendiri. Padahal, fitrah manusia sejatinya adalah mengenal Allah dan tunduk kepada-Nya.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tauhid). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Imam Hasan al-Bashri rahimahullah pernah menasihati murid-muridnya:
“Wahai anak Adam, engkau telah berjanji kepada Rabbmu di alam rahim, namun engkau melupakannya. Ketahuilah, dunia ini hanyalah tempat mengingat kembali janji itu sebelum engkau dipanggil untuk mempertanggungjawabkannya.”
Pandangan Para Ulama Salaf tentang Mitsaq (Perjanjian Azali)
Para ulama salaf memandang perjanjian di alam rahim ini sebagai dasar dari fitrah tauhid manusia.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata:
“Ketika Allah mengambil perjanjian itu, setiap ruh mengenal siapa Rabbnya. Maka barang siapa hari ini mengenal Allah dan tunduk kepada-Nya, dialah yang setia pada janjinya di alam rahim.”
Sufyan ats-Tsauri menafsirkan bahwa ayat ini adalah peringatan lembut, agar manusia tidak mengingkari janji awalnya kepada Allah. Beliau berkata:
“Kalau saja manusia ingat janji itu sebagaimana mereka mengingat dunia, niscaya tidak ada satu pun yang berani bermaksiat.”
Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma — sebagaimana diriwayatkan dalam Tafsir ath-Thabari — menyebutkan bahwa peristiwa di ayat ini terjadi di lembah Nu’man pada hari Arafah, ketika Allah menunjukkan seluruh keturunan Adam hingga hari kiamat, lalu semuanya bersaksi kepada-Nya.
Makna Spiritualitas dari Janji di Alam Rahim
Janji tauhid ini menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan Allah tidak dimulai ketika seseorang belajar agama atau membaca Al-Qur’an — melainkan sejak sebelum ia lahir. Kesaksian ini adalah “memori ruhani” yang tersimpan dalam hati setiap manusia.
Oleh karena itu, ketika seseorang kembali kepada agama, berzikir, atau menangis dalam taubatnya, itu bukan sesuatu yang baru. Ia hanya kembali pada fitrahnya, pada janji yang pernah ia ucapkan sendiri ribuan tahun lalu.
Imam Ibn al-Qayyim menyebut keadaan ini sebagai ruju‘ ilal fitrah — kembali pada keaslian jiwa yang pernah mengenal Rabb-nya.
BACA JUGA: 3 Musuh Allah di Hari Kiamat
Penutup: Mengingat Janji di Alam Rahim
Manusia adalah makhluk yang pernah berjanji, namun sering lupa. Lupa bukan berarti tidak pernah berjanji — hanya saja hati kita tertutup oleh debu dunia.
Mengingat janji di alam rahim bukan sekadar memahami sebuah kisah metafisik, melainkan menghidupkan kembali kesadaran tauhid dalam setiap langkah hidup. Bahwa kita pernah berkata, “Betul, Engkau Tuhan kami,” maka sudah semestinya kita hidup dengan ucapan itu hingga akhir hayat.
Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Abdul Rahman as-Sa‘di rahimahullah:
“Ayat ini mengandung pesan yang besar: bahwa setiap manusia wajib berpegang pada pengakuan yang telah diikrarkannya sendiri. Karena fitrah dan akal sehat semuanya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.”
Kesimpulan
Janji di alam rahim adalah fondasi spiritual manusia — saksi awal tauhid dan kesadaran tentang siapa dirinya. Allah telah membuat kita bersaksi sebelum lahir, agar tidak ada alasan untuk berpaling dari-Nya. Maka, barang siapa hidup dalam ketaatan, berarti ia setia pada janjinya. Dan barang siapa lalai, semoga Allah mengembalikannya kepada fitrah suci yang telah terpatri dalam jiwanya sejak di alam rahim. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

