Waduh, Bohong Ternyata Merusak Otak, Lho!

3 Min Read
Foto: Freepik

KEBOHONGAN sering dipandang sebagai tindakan sosial yang merugikan — tetapi penelitian menunjukkan dampaknya tidak hanya pada hubungan, melainkan juga pada otak dan tubuh pelaku.

Studi neuroimaging menunjukkan bahwa berbohong melibatkan sistem eksekutif otak (prefrontal cortex, anterior cingulate cortex) yang bekerja lebih keras dibandingkan ketika seseorang berbicara jujur; kebohongan memerlukan perencanaan, pengendalian diri, dan penekanan kebenaran sehingga menaikkan beban kognitif.

Ini berarti frekuensi berbohong yang tinggi dapat mengubah pola pemakaian jaringan otak yang mengatur kontrol dan pemantauan kesalahan.

Lebih jauh, penelitian oleh Garrett, Sharot, dan rekan (2016) menunjukkan mekanisme biologis yang mendukung efek “lereng licin” kebohongan. Mereka menemukan bahwa ketika kebohongan memberi keuntungan pribadi, aktivitas amigdala — bagian otak terkait respons emosi negatif — menurun seiring pengulangan kebohongan.

Dengan kata lain, rasa bersalah atau sinyal emosional yang semula membatasi kebohongan menjadi tumpul, sehingga kebohongan kecil cenderung berkembang jadi kebohongan lebih besar. Temuan ini memberi bukti bahwa otak “menyesuaikan diri” terhadap ketidakjujuran sehingga perilaku tidak jujur bisa menguat dari waktu ke waktu.

Dampak kebohongan juga terlihat pada respons fisiologis dan stres. Penelitian tentang dishonesty menunjukkan hubungan dengan peningkatan arousal—denyut jantung, tekanan darah, dan reaktivitas kortisol—yang menandakan stres akut.

Jika kebohongan menjadi kebiasaan, paparan stres berkepanjangan ini berpotensi memengaruhi regulasi emosional dan kesehatan otak dalam jangka panjang, karena stres kronis diketahui merusak struktur seperti hippocampus dan menurunkan fungsi kognitif. Namun, hubungan sebab-akibat langsung antara kebiasaan berbohong dan kerusakan struktural otak pada manusia masih memerlukan penelitian lanjutan.

Dalam kasus ekstrem, kebohongan yang kompulsif (pseudologia fantastica atau pathological lying) dikaitkan dengan disfungsi yang lebih luas — gangguan fungsi sosial, gangguan kontrol impuls, dan perbedaan dalam pemrosesan emosional.

Literatur klinis menyatakan bahwa pada individu dengan kebiasaan berbohong patologis, ada kebutuhan evaluasi psikiatri karena pola tersebut bukan sekadar pilihan moral, melainkan bagian dari gangguan perilaku yang memerlukan intervensi.

BACA JUGA:  Bekam, Cara Klasik yang Bikin Otak dan Tubuh Tetap “Nyala” — Biar Nggak Kena Stroke di Usia Muda!

Kesimpulannya: bukti saat ini mendukung gagasan bahwa kebohongan — terutama jika berulang dan untuk keuntungan diri — mengubah cara otak merespons tindakan tidak jujur, mereduksi sinyal emosional yang biasanya menahan perilaku tersebut, dan memicu stres fisiologis.

Meski riset belum membuktikan bahwa kebohongan “menghancurkan otak” secara struktural pada semua orang, konsensus ilmiah memperingatkan bahwa kebiasaan berbohong dapat mengikis kontrol emosional dan moral, memperbesar kemungkinan eskalasi kebohongan, serta berpotensi memberi dampak kesehatan psikofisiologis jika berlangsung lama. Untuk itu para ahli menekankan pentingnya budaya kejujuran dan intervensi klinis bila kebohongan sudah menjadi pola kompulsif. []

Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.

Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *