Sebuah Pertanyaan di Tengah Keheningan Arab
Ketika Israel menggempur Gaza pada Oktober 2023, banyak orang bertanya dengan getir: “Di mana negara-negara Arab?”
Negara-negara besar di kawasan itu—Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab—sibuk menjaga hubungan diplomatik dan stabilitas ekonomi. Tapi satu negara kecil di Teluk, dengan luas tak lebih besar dari Jakarta, muncul sebagai pemain paling aktif dalam mempertahankan denyut hidup Gaza: Qatar.
Negeri kaya gas alam itu bukan hanya menyalurkan dana kemanusiaan, tapi juga memainkan peran kompleks—antara mediator, penyandang dana, hingga simbol perlawanan diam-diam terhadap hegemoni Israel di kawasan.
Namun, bagi Israel, langkah Qatar adalah “kesalahan strategis besar”, sebagaimana diakui Ofir Akunis, Konsul Jenderal Israel di New York.
“Itu kesalahan serius, karena uang Qatar pada dasarnya memberi Hamas kemampuan membangun terowongan,” ujar Akunis dalam wawancara dengan lembaga penyiaran publik Kan, Oktober 2025.
Pernyataan ini memicu perdebatan geopolitik baru: apakah Qatar memang sekadar penyelamat kemanusiaan, atau sponsor politik terselubung bagi perlawanan Palestina?
—
Bantuan Uang Tunai: Dari Krisis ke Infrastruktur Bawah Tanah
Sejak 2012, Qatar telah menyalurkan lebih dari USD 1,8 miliar ke Jalur Gaza. Dana ini sebagian besar digunakan untuk pembangunan rumah sakit, sekolah, dan listrik, tetapi juga—menurut dokumen yang disita Israel—menjadi “urat nadi Hamas”.
Bulan Desember 2019, Ismail Haniyeh, kepala biro politik Hamas, mengucapkan terima kasih langsung kepada Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, dengan kalimat yang kini menjadi bahan perdebatan:
“Transfer uang tunai dari Qatar adalah urat nadi utama yang membuat Gaza tetap hidup.”
Israel menuduh sebagian dana itu digunakan membangun jaringan terowongan bawah tanah yang kemudian menjadi jalur utama serangan 7 Oktober 2023. Namun analis Barat melihatnya secara berbeda.
Dr. Kristian Ulrichsen dari Rice University’s Baker Institute menjelaskan kepada Al Jazeera:
“Dana Qatar tidak hanya tentang uang tunai. Itu tentang menjaga agar Gaza tidak meledak dalam kekacauan total. Tanpa Qatar, bencana kemanusiaan akan jauh lebih cepat datang.”
—
Perantara Politik antara Hamas, Israel, dan AS
Qatar menjadi mediator kunci dalam hampir setiap gencatan senjata antara Hamas dan Israel sejak 2014.
Ketika Washington gagal berkomunikasi langsung dengan Hamas, Doha—yang menampung kantor politik Hamas sejak 2012—menjadi jembatan komunikasi informal antara pihak-pihak yang saling bermusuhan.
Foreign Policy menulis bahwa “Qatar adalah satu-satunya negara di Teluk yang mampu berbicara dengan semua pihak sekaligus: Hamas, Israel, dan Amerika Serikat.”
Bagi AS, peran ini sangat berharga, terutama ketika Doha juga menjadi tuan rumah pangkalan udara Al-Udeid, markas komando militer AS di Timur Tengah. Ironinya: negara yang melindungi Hamas juga melindungi pasukan Amerika yang bersenjata canggih.
—
Diplomasi Publik: Menantang Narasi Israel Lewat Al Jazeera
Tak hanya di meja diplomasi, Qatar berperang di medan narasi global.
Jaringan media Al Jazeera, yang dimiliki oleh pemerintah Qatar, telah menjadi salah satu sumber utama informasi tentang penderitaan warga Gaza. Liputan mendalamnya sering menjadi rujukan media dunia, meski Israel menuduhnya sebagai “corong propaganda Hamas”.
Ketika media Barat banyak meminimalkan korban sipil Palestina, Al Jazeera menampilkan wajah-wajah anak Gaza, memperlihatkan sisi kemanusiaan yang jarang diberi ruang oleh CNN atau Fox News.
Inilah yang disebut analis media Marc Owen Jones sebagai “soft power Qatar”—senjata kultural yang lebih mematikan dari rudal: opini publik global.
—
Jembatan Keuangan yang Diperhitungkan
Sejak blokade Gaza 2007, sebagian besar lembaga keuangan internasional menolak mentransfer uang ke wilayah itu. Qatar mengambil peran sebagai penyalur dana langsung melalui mekanisme tunai—dalam koper, lewat perbatasan Erez—dengan persetujuan Israel.
Menurut laporan The Times of Israel dan Reuters, uang itu disalurkan dalam pecahan USD 100, dibagikan kepada lebih dari 100.000 keluarga Gaza, para pegawai pemerintah, dan proyek listrik.
Namun kini, Israel menyesali keputusannya sendiri.
Ofir Akunis menegaskan, “kebijakan Netanyahu membiarkan uang itu masuk tanpa kontrol negara adalah kesalahan fatal.”
Di sisi lain, Dr. Trita Parsi dari Quincy Institute menyebut langkah Netanyahu itu bukan kesalahan, tapi “strategi berlapis”:
“Netanyahu sengaja membiarkan Qatar membantu Hamas agar Palestina tetap terpecah antara Gaza dan Tepi Barat. Israel diuntungkan dari perpecahan itu.”
—
Dukungan Qatar di Forum Internasional
Di PBB, Liga Arab, dan OKI, Qatar konsisten menjadi negara yang paling vokal membela Palestina.
Saat banyak negara Arab menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords, Doha menolak keras langkah tersebut. Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, menegaskan dalam pidato di PBB 2024:
“Tidak ada perdamaian sejati tanpa keadilan bagi rakyat Palestina dan akhir dari pendudukan Israel.”
Sikap ini membuat Qatar semakin terisolasi di antara monarki Teluk yang pro-Barat, tapi sekaligus meningkatkan reputasinya sebagai moral voice di dunia Arab.
—
Hubungan Rumit dengan AS dan Iran
Posisi Qatar yang menampung pangkalan udara AS sekaligus menjalin hubungan baik dengan Iran membuatnya berada di posisi ambigu tapi strategis.
Doha menjaga hubungan dengan Teheran karena keduanya berbagi ladang gas alam raksasa North Dome/South Pars. Namun pada saat yang sama, Qatar juga menjadi mitra logistik penting bagi Washington.
Menurut analis Dr. Lina Khatib dari Chatham House, “Qatar mempraktikkan diplomasi ‘dua kaki’ — satu berpijak di Barat, satu di dunia Islam.”
Model ini memungkinkan Qatar menjadi negara penghubung, bukan konfrontatif, dalam isu Palestina.
—
Bantuan Kemanusiaan: Lebih dari Citra Politik
Meski sering dicurigai mempolitisasi bantuan, Qatar tetap menjadi penyumbang terbesar bagi UNRWA (Badan PBB untuk Pengungsi Palestina) dan membiayai rekonstruksi pascaperang.
Pasca serangan 2021, Doha menyalurkan USD 500 juta untuk membangun kembali rumah-rumah di Gaza dan memasok bahan bakar untuk satu-satunya pembangkit listrik di wilayah itu.
Qatar juga mengirim tim medis dan logistik melalui perbatasan Mesir, dan membiayai pengobatan anak-anak korban perang di rumah sakit Doha.
Langkah ini, menurut laporan The Guardian, “menjaga kehidupan sipil Gaza tetap berdenyut di tengah kehancuran total.”
—
Tuduhan dan Investigasi: Hubungan Gelap Netanyahu–Doha
Seiring perang berkepanjangan, muncul skandal baru.
Beberapa pejabat Israel, termasuk mantan penasihat Netanyahu, diduga menerima dana dari kelompok lobi yang berafiliasi dengan Qatar.
Menurut laporan Haaretz dan Channel 12, penyelidikan dilakukan terkait “kampanye hubungan masyarakat pro-Qatar” di Israel pasca 7 Oktober 2023.
Ironinya, di saat sebagian politikus Israel menuduh Qatar mendanai Hamas, sebagian lainnya justru menikmati hubungan ekonomi gelap dengannya.
“Ini bukan sekadar kontradiksi,” tulis Middle East Eye, “tapi menunjukkan bagaimana uang Qatar menembus batas ideologis bahkan di jantung politik Israel.”
BACA JUGA: Jaminan, Lobi, dan Cinta Tanah: Kisah Gencatan Senjata Gaza
Qatar, Palestina, dan Pertarungan Masa Depan
Kini, lebih dari setahun setelah perang besar Gaza 2023–2024, Qatar tetap menjadi satu-satunya negara Arab yang berani memelihara hubungan terbuka dengan Hamas.
Sikap ini membuatnya dicurigai, tetapi juga dihormati.
Dr. Azmi Bishara, pemikir Arab yang kini bermukim di Doha, mengatakan dalam sebuah wawancara:
“Qatar tahu, mendukung Palestina berarti mengambil risiko politik global. Tapi tanpa risiko itu, tak ada kehormatan Arab yang tersisa.”
—
Epilog: Negeri Kecil, Nafas Panjang
Bagi sebagian orang, Qatar hanyalah negara kecil dengan uang besar.
Namun dalam konteks Palestina, Doha adalah laboratorium moral dunia Arab: kecil tapi berani, kaya tapi masih peduli, dekat dengan Barat namun tak rela menutup mata terhadap penjajahan.
Apakah peran Qatar akan terus berlanjut?
Sejarah Timur Tengah menunjukkan bahwa kekuatan bukan selalu pada luas wilayah atau jumlah pasukan, tapi pada kemampuan mengubah narasi dunia.
Di Gaza yang runtuh, masih ada harapan yang hidup — disalurkan lewat koper uang, diplomasi senyap, dan suara televisi yang menyiarkan kebenaran.
Dan di balik semua itu, berdirilah Doha — negeri kecil yang memilih menjadi urat nadi terakhir perjuangan Palestina. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
