PERNAH merasa kepala seperti penuh tab browser yang tidak mau ditutup? Tugas menumpuk, notifikasi tidak berhenti, ditambah drama kehidupan sehari-hari. Ternyata, ada “obat” yang sangat murah dan tidak perlu resep dokter: mendengarkan kicauan burung selama 10 menit.
Ya, bukan suara klakson, bukan bunyi bor tetangga, apalagi notifikasi grup WhatsApp yang isinya “P”. Kicauan burung.
Mahasiswa Makin Rentan Mengalami Gangguan Mental
Selama bertahun-tahun, kesehatan mental mahasiswa terus mengalami penurunan. Bahkan pada tahun 2020, hampir 60 persen mahasiswa mengaku mengalami berbagai masalah kesehatan mental. Situasi ini semakin memburuk setelah pandemi.
Karena itu, para peneliti terus mencari cara sederhana yang bisa membantu mengurangi stres.
Salah satu jawaban yang terus muncul adalah menghabiskan waktu di alam.
Menariknya, kita tidak perlu berlibur seminggu ke pegunungan. Penelitian menunjukkan bahwa kunjungan singkat ke alam saja sudah mampu menurunkan stres, memperbaiki suasana hati, sekaligus meningkatkan kemampuan berkonsentrasi yang terkuras oleh aktivitas sehari-hari.
BACA JUGA: Wow Ternyata Makan Telur Bisa Turunkan Risiko Pikun hingga 27 Persen?
Mana yang Lebih Menenangkan: Pemandangannya atau Suaranya?
Selama ini para ilmuwan memiliki dua teori.
Teori pertama mengatakan bahwa alam membuat tubuh menjadi lebih rileks sehingga tingkat stres menurun.
Teori kedua menyebutkan bahwa alam membantu “mengisi ulang” kemampuan otak untuk fokus setelah seharian dipakai bekerja keras.
Namun muncul pertanyaan menarik.
Sebenarnya apa yang paling berpengaruh?
Apakah karena kita melihat pepohonan yang hijau?
Ataukah karena kita mendengar suara alam, terutama kicauan burung?
Penelitian Sederhana, Hasilnya Mengejutkan
Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Nils Peterson dari North Carolina State University mencoba menjawab pertanyaan tersebut.
Sebanyak 106 mahasiswa diminta duduk selama 10 menit di dua lokasi yang sangat berbeda.
Lokasi pertama adalah kawasan hutan kecil di tepi sungai yang sudah direstorasi.
Lokasi kedua adalah pelataran kampus yang dipenuhi beton, jalan raya, kendaraan, dan gedung-gedung.
Setiap peserta mengenakan headphone peredam suara.
Lalu mereka diperdengarkan salah satu dari dua jenis rekaman:
kicauan burung dari rawa di Florida,
atau suara lalu lintas dari persimpangan jalan yang ramai di Paris.
Urutan lokasi dan suara dibuat acak sehingga para peneliti dapat mengetahui mana yang lebih berpengaruh: tempatnya atau suaranya.
Kicauan Burung Benar-Benar Mengalahkan Suara Lalu Lintas
Setelah selesai, para mahasiswa diminta menilai tingkat stres, suasana hati, dan seberapa segar pikiran mereka.
Hasilnya sangat jelas.
Kombinasi terbaik adalah berada di kawasan hijau sambil mendengarkan kicauan burung.
Peserta dalam kondisi ini mengalami:
suasana hati yang jauh lebih baik,
emosi negatif yang menurun,
tingkat stres yang lebih rendah,
serta merasa pikirannya jauh lebih segar dibandingkan kondisi lainnya.
Sebaliknya, kombinasi paling buruk adalah duduk di kawasan beton sambil mendengarkan suara kendaraan.
Ya, ternyata otak kita memang lebih akrab dengan suara “cuit… cuit…” daripada “tiin… tiin… breemmm…”
Menariknya, Burung Tetap Membantu Meski Tidak Ada Hutan
Para peneliti menemukan sesuatu yang cukup mengejutkan.
Bahkan ketika peserta duduk di kawasan beton, suara burung tetap mampu menurunkan tingkat stres.
Sebaliknya, jika seseorang berada di tengah pepohonan tetapi yang didengar justru suara lalu lintas, efek menenangkannya ikut berkurang.
Artinya, suara alam memiliki peran yang hampir sama pentingnya dengan pemandangan alam.
Namun untuk membuat pikiran benar-benar terasa “segar kembali”, keberadaan pepohonan ternyata sedikit lebih unggul dibandingkan suara saja.
Hutan Besar Bukan Syarat Utama
Yang menarik, lokasi penelitian bukanlah hutan belantara yang luas.
Hanya sebuah kawasan hutan kecil hasil restorasi di dalam area kampus.
Meski sederhana, tempat tersebut tetap mampu memberikan efek menenangkan yang biasanya hanya dikaitkan dengan hutan alami yang sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun.
Artinya, taman kota kecil, jalur hijau, atau ruang terbuka yang dipenuhi pepohonan pun berpotensi memberikan manfaat serupa.
Tidak harus naik gunung dulu supaya pikiran lebih adem.
Kalau ada taman dekat rumah, itu sudah lumayan.
Daripada nongkrong di parkiran sambil menghirup asap knalpot.

Solusi Murah untuk Kota yang Penuh Beton
Profesor Peterson menilai hasil penelitian ini bisa menjadi masukan penting bagi para perancang kota.
Ruang publik yang penuh beton sebenarnya dapat dibuat lebih nyaman dengan menghadirkan unsur-unsur alam.
Bukan hanya menanam pohon, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung kehadiran burung serta suara air mengalir.
Dengan begitu, dampak negatif dari lingkungan perkotaan yang keras dapat dikurangi tanpa harus membongkar seluruh kawasan.
Hanya Butuh 10 Menit
Bagian paling menarik dari penelitian ini adalah betapa sederhananya “terapi” tersebut.
Para mahasiswa tidak perlu membawa teropong.
Tidak perlu menjadi ahli burung.
Tidak perlu mendaki gunung selama lima jam sambil membawa bekal nasi bungkus.
Mereka hanya duduk selama 10 menit dan mendengarkan kicauan burung.
Sesederhana itu.
BACA JUGA: Rahasia Ilmiah di Balik Umur Panjang hingga 100 Tahun Lebih
Alam yang Dekat Bisa Menolong Banyak Orang
Sayangnya, lingkungan yang hijau biasanya lebih banyak ditemukan di kawasan yang lebih makmur.
Padahal, orang-orang yang paling membutuhkan ketenangan justru sering tinggal di lingkungan yang minim pepohonan.
Karena itu, memperbanyak taman kota, merestorasi ruang hijau, menjaga habitat burung, dan menghadirkan suara alam di ruang publik dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu kesehatan mental masyarakat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa terkadang, ketenangan tidak selalu datang dari liburan mahal atau retret panjang.
Kadang, ia datang dari sesuatu yang sangat sederhana.
Sepuluh menit.
Beberapa batang pohon.
Dan seekor burung yang sejak tadi sibuk berkicau tanpa tahu bahwa suaranya sedang membantu manusia mengurangi stres.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Environmental Conservation. []
SUMBER: EARTH.COM
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


