“Sains bisa membuka kebenaran yang lebih besar daripada yang mampu dikendalikan oleh sebuah bangsa.”
— Profesor Antropologi Universitas Tel Aviv
—
“MENGAPA negara yang paling maju di bidang genetika justru membatasi rakyatnya menelusuri DNA leluhur mereka sendiri?”
Pertanyaan ini terdengar aneh, nyaris seperti teka-teki. Tetapi di Israel, pertanyaan itu nyata — dan sensitif.
Di negeri yang disebut “startup nation” ini, warganya bebas menciptakan algoritma kecerdasan buatan, senjata laser, dan obat penyembuh kanker. Namun ketika seseorang ingin mengirim air liurnya ke laboratorium untuk mengetahui asal-usul keluarganya, negara tiba-tiba turun tangan.
“Tidak boleh sembarangan,” kata undang-undang.
“Harus lewat pengadilan,” kata para rabi.
Mengapa?
Apakah ini sekadar soal privasi genetik — atau ada sesuatu yang jauh lebih dalam dan eksistensial yang sedang disembunyikan?
—
1. Negara yang Berdiri di Atas Narasi Keturunan
Israel tidak berdiri di atas ide sekular semata. Ia berdiri di atas narasi keturunan — tentang “bangsa pilihan Tuhan” yang kembali ke tanah leluhurnya setelah ribuan tahun terserak.
Hukum Law of Return yang menjadi fondasi imigrasi Israel menetapkan: setiap orang yang memiliki setidaknya satu kakek-nenek Yahudi berhak menjadi warga negara.
Artinya, menjadi warga Israel tidak hanya soal ideologi atau keyakinan, tapi juga soal darah.
Namun di sinilah paradoks muncul.
Jika identitas Yahudi didefinisikan secara genealogis, bagaimana jika sains — melalui DNA — justru menemukan bahwa banyak orang Israel tidak memiliki garis genetik Ibrani?
Bagaimana jika hasil tes menunjukkan bahwa sebagian besar Yahudi Eropa (Ashkenazi) justru lebih dekat secara genetik dengan bangsa Kaukasia atau Eropa Timur daripada dengan bangsa Semitik di Timur Tengah?
Sebaliknya, penelitian genetika yang dilakukan oleh tim Universitas Tel Aviv dan Universitas Stanford sejak 2010 menunjukkan bahwa Yahudi Sefardi dan Mizrahi justru lebih dekat dengan orang Arab Palestina secara genetik.
Sains menyingkap sebuah ironi:
yang disebut “musuh” mungkin sebenarnya adalah saudara sedarah.
Dan jika ini dibuka lebar-lebar, fondasi ideologis Zionisme — bahwa Israel adalah “tanah leluhur bangsa Yahudi” — bisa terguncang.
—
2. Hukum, Halakha, dan Ketakutan Spiritual
Masalah ini tidak berhenti di laboratorium. Ia menembus altar dan kitab.
Dalam hukum rabinik, seseorang dianggap Yahudi melalui garis ibu.
Namun genetika modern dapat menelusuri garis keturunan baik dari ayah (melalui kromosom Y) maupun ibu (melalui DNA mitokondria).
Lalu bagaimana jika hasil tes membuktikan bahwa ibu seseorang bukan Yahudi, padahal ia seumur hidup mengaku demikian?
Atau sebaliknya, seseorang yang memiliki DNA Yahudi dari ayahnya, tapi ibunya bukan Yahudi — apakah dia “sah” menjadi bagian dari umat pilihan?
Pertanyaan ini mengguncang fondasi keagamaan.
Karena itu, para rabi ortodoks menolak menjadikan DNA sebagai dasar keabsahan keagamaan.
“Torah lebih tinggi dari tes laboratorium,” kata mereka.
Namun pengadilan sipil Israel sering kali berada di tengah-tengah dilema ini.
Dalam sebuah keputusan Mahkamah Agung Israel (Januari 2020), pengadilan mengizinkan lembaga rabbinikal menggunakan tes DNA untuk membantu menentukan status “ke-Yahudian” seseorang — tetapi hanya atas izin pengadilan dan dalam konteks keagamaan tertentu.
Kasus ini memicu protes dari partai Yisrael Beiteinu, yang menilai penggunaan DNA untuk menentukan agama adalah diskriminatif dan berbahaya.
Negara akhirnya menegaskan: tes DNA boleh, tapi sangat terbatas.
Antara agama dan sains, Israel memilih jalan tengah — meski rapuh.
—
3. Tes yang “Diperbolehkan Tapi Dibatasi”
Secara hukum, dasar pengaturan ada pada Genetic Information Law (2000).
Undang-undang ini melindungi privasi genetik warga dan menetapkan bahwa tes DNA hanya boleh dilakukan di laboratorium yang disetujui oleh Kementerian Kesehatan.
Tes DNA diperbolehkan untuk:
Tujuan medis (diagnosis penyakit genetik, prediksi risiko kanker, dll.)
Penentuan hubungan keluarga (paternity test), dengan izin pengadilan keluarga.
Kasus hukum tertentu seperti sengketa waris, imigrasi, atau identifikasi jenazah.
Namun untuk tes genealogis atau asal-usul leluhur — seperti kit DNA komersial yang populer di Barat (Ancestry, 23andMe) — Israel tidak memberikan izin edar.
Tes semacam itu dianggap “tidak memiliki nilai hukum” dan berpotensi menimbulkan kebingungan sosial.
Dalam laporan resmi Kementerian Kesehatan Israel tahun 2023 disebutkan,
“Tes DNA untuk keperluan non-medis hanya dapat dilakukan dengan izin pengadilan atau lembaga yang berwenang.”
Laboratorium luar negeri pun tidak diakui. Hasil tes yang dikirim dari luar Israel tidak bisa digunakan untuk pengajuan kewarganegaraan, klaim imigrasi, atau status keagamaan.
—
4. Dari Ruang Sidang ke Ruang Bayi: Kasus Nyata
Beberapa contoh kasus menunjukkan bagaimana Israel memperlakukan DNA dengan hati-hati.
Kasus Mahkamah Agung 2020:
Pengadilan mendukung penggunaan DNA oleh lembaga rabbi dalam kasus penentuan “ke-Yahudian”, tetapi hanya dalam situasi khusus dan dengan persetujuan pihak terkait.
Kasus Paternitas dan Kewarganegaraan:
Dalam setiap permohonan pengakuan anak, pewarisan, atau klaim Aliyah, pengadilan keluarga harus mengeluarkan izin resmi untuk tes DNA. Hasil tes dikirim langsung ke pengadilan, bukan ke individu.
Kasus IVF Mix-up (2023):
Ketika terjadi kasus tertukarnya embrio di klinik fertilisasi Assuta Medical Center, pengadilan memerintahkan tes DNA untuk menentukan siapa orang tua biologis. Ini contoh bagaimana hukum Israel memperbolehkan DNA demi keadilan, tapi tidak untuk keingintahuan pribadi.
Semua kasus itu menegaskan satu hal: di Israel, DNA bukan milik pribadi — melainkan urusan negara dan agama.
—
5. Motif Politik dan Etnogenetik
Mengapa semua ini diatur sedemikian ketat?
Karena DNA, bagi Israel, bukan sekadar data biologis — tapi kunci legitimasi politik.
Sejak awal abad ke-20, Zionisme modern berusaha membangun narasi bahwa bangsa Yahudi memiliki akar biologis tunggal yang kembali ke tanah Israel kuno.
Namun penelitian genetika lintas bangsa, dari Nature hingga Haaretz Science, menunjukkan bahwa “gen Yahudi” tidak tunggal. Ia berlapis-lapis oleh sejarah diaspora, perkawinan lintas etnis, dan asimilasi.
Maka, membuka data genetik sama dengan membuka kemungkinan bahwa identitas Israel tidak seseragam seperti yang digambarkan mitos nasionalnya.
Jika sains membuktikan bahwa “Yahudi Eropa” dan “Arab Palestina” berasal dari nenek moyang yang sama, maka narasi tentang “bangsa asing yang menaklukkan tanah yang dijanjikan” runtuh dengan sendirinya.
Inilah alasan tersembunyi di balik kontrol DNA — bukan untuk melindungi gen, tapi untuk melindungi narasi.
—
6. Antara Sains dan Ketakutan
Profesor Eran Elhaik, pakar genetika populasi dari University of Sheffield (asal Israel), pernah menulis tajam:
“Kita tidak takut pada sains. Kita takut pada cermin yang sains berikan.”
Karena begitu gen bicara, ia tidak mengenal perbatasan, ras, atau ideologi.
Ia hanya menceritakan kebenaran yang dingin dan tak bisa dinegosiasikan.
Israel — negara dengan salah satu laboratorium genetika terbaik di dunia — justru takut bila rakyatnya terlalu bebas mengetahui asal-usul mereka.
Bukan karena sains salah, tetapi karena sains mungkin terlalu jujur.
—
7. Ironi Teknologi
Maka terjadilah ironi zaman modern:
Bangsa yang menciptakan Iron Dome, sistem pertahanan paling canggih di dunia, merasa rapuh di hadapan setetes air liur yang dikirim ke laboratorium.
Mereka dapat memetakan DNA virus dan mengembangkan vaksin dalam waktu sebulan,
tapi mereka tidak ingin memetakan DNA diri mereka sendiri.
Seolah-olah bangsa itu berkata kepada dirinya sendiri:
“Kami ingin mengetahui segalanya di dunia — kecuali siapa kami sebenarnya.”
—
8. Refleksi: Ketika Mitos Melawan Mikroskop
Dari luar, kebijakan Israel tentang DNA tampak rasional — melindungi privasi, mencegah penyalahgunaan, menjaga hukum keluarga.
Namun dari dalam, itu adalah upaya mempertahankan mitos kolektif dari benturan dengan kenyataan biologis.
Negara ini, yang dibangun atas dasar “janji ilahi dan darah leluhur”, tidak siap menghadapi fakta bahwa darah itu mungkin telah bercampur dengan musuh yang mereka tolak.
Seorang antropolog di Haifa pernah berkata dalam wawancara BBC:
“Larangan DNA adalah bentuk rasa takut. Takut bahwa kita akan menemukan Palestina di dalam diri kita sendiri.”
Dan mungkin di situlah inti persoalan ini.
Bahwa di bawah semua teknologi, hukum, dan doktrin, masih ada luka sejarah yang belum sembuh — luka antara “kita” dan “mereka”, antara bangsa yang diusir dan bangsa yang mengusir.
BACA JUGA: Beragam Peristiwa yang Mencengangkan di Gaza yang Membuat Israel Tak Berdaya
9. Epilog: Tentang Gen yang Diam dan Tuhan yang Tak Diam
Mungkin inilah paradoks terbesar zaman modern: manusia bisa mengedit gen, tapi tidak bisa mengedit kebenaran.
DNA adalah kitab yang ditulis oleh Tuhan dalam bahasa yang tak bisa dihapus,
dan setiap bangsa — termasuk Israel — pada akhirnya akan berhadapan dengan kalimat yang ditulis di dalam dirinya.
Sains mungkin menemukan bahwa orang Yahudi dan Palestina berasal dari nenek moyang yang sama.
Dan jika itu benar, maka sejarah bukan lagi soal perebutan tanah, tapi soal rekonsiliasi darah.
Karena kadang, kebenaran yang paling menakutkan bukanlah yang ada di luar diri kita,
melainkan yang kita temukan di dalam sel kita sendiri.
—
Dan mungkin — hanya mungkin — inilah ketakutan terdalam Israel:
bahwa yang mereka sebut “musuh” di luar tembok,
sebenarnya adalah bayangan dari diri mereka sendiri yang telah lama hilang. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
