Cemoohan Yahudi Bani Qainuqa‘ dan Wajah Militer Israel

Nasrulloh Baksolahar
9 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos Media

“Wahai Muhammad, janganlah engkau tertipu oleh kemenanganmu terhadap kaum Quraisy yang tidak pandai berperang. Demi Allah, jika engkau memerangi kami, engkau akan tahu siapa sebenarnya ahli perang!”
— (Ibn Hisyam, Sirah Nabawiyyah, Jilid 3)

Ketika Kemenangan Badar Menggetarkan Madinah

SETELAH Perang Badar (2 H), kemenangan kaum Muslimin bukan sekadar peristiwa militer, tapi juga kejutan teologis. Kaum Quraisy yang selama ini disebut “penjaga Ka‘bah” kini kalah oleh umat yang dianggap kecil dan miskin.

Bagi orang-orang beriman, kemenangan itu adalah bukti janji Allah. Namun bagi sebagian Yahudi di Madinah — terutama Bani Qainuqa‘, kaum pandai besi dan pembuat senjata — itu adalah pukulan terhadap ego dan dominasi lama mereka.

Imam Ibn Katsir menulis dalam al-Bidāyah wa an-Nihāyah:

“Mereka (Bani Qainuqa‘) merasa tinggi karena memiliki kekuatan dan senjata, dan mereka mengira umat Muhammad hanyalah kaum lemah yang menang secara kebetulan.”

Maka mereka berkata kepada Rasulullah ﷺ dengan nada mengejek:

“Jangan kira engkau menang karena kekuatan, wahai Muhammad. Engkau hanya mengalahkan Quraisy yang tak tahu perang. Kalau engkau memerangi kami, engkau akan tahu siapa sebenarnya ahli perang.”

Kalimat itu adalah aroma kesombongan klasik — aroma yang sama yang kini keluar dari militer Israel di abad ke-21: pasukan bersenjata canggih, tapi berperang melawan rakyat yang terjajah.

—

Dari Qainuqa‘ ke Gaza: Ahli Perang yang Tak Menang

Bani Qainuqa‘ hidup di Madinah dengan industri logam dan militer paling kuat. Mereka membuat pedang, baju zirah, dan panah untuk banyak kabilah. Mereka merasa menjadi “penjaga keamanan” kota. Tapi sejarah menunjukkan, yang memiliki senjata belum tentu memiliki kemenangan.

Rasulullah ﷺ mendengar ucapan mereka dan mengingatkan:

“Takutlah kalian kepada Allah, karena aku khawatir Allah menimpakan atas kalian sesuatu seperti kaum yang melanggar perjanjian sebelumnya.”

Namun mereka tertawa. Mereka mencemooh dan menghina. Bahkan mereka mempermalukan seorang wanita Muslimah di pasar mereka — simbol kehormatan yang mereka injak.

Dan ketika seorang Muslim membelanya, mereka membunuhnya.

Maka Rasulullah ﷺ mengepung benteng mereka selama lima belas hari. Orang-orang yang dulu mengaku ahli perang itu akhirnya menyerah tanpa perlawanan berarti.

“Mereka kalah tanpa pedang banyak dihunus,” tulis Ibn Ishaq,
“karena hati mereka telah dikalahkan sebelum tubuh mereka dijatuhkan.”

Sejarah selalu berulang dalam bentuk baru. Kini, lebih dari 1.400 tahun kemudian, pasukan Israel — yang mengaku paling tangguh di dunia — terjebak dalam bayang-bayang Bani Qainuqa‘.

—

Israel Modern: “Ahli Perang” yang Gagal Menaklukkan Gaza

Sejak 7 Oktober 2023, Israel menggempur Gaza dengan kekuatan militer terbesar dalam sejarah modern:

lebih dari 100.000 bom dijatuhkan,

85% penduduk Gaza mengungsi,

dan lebih dari 60.000 warga Palestina gugur (data: Al Jazeera, Oktober 2025).

Namun, meski telah mengerahkan pasukan darat, laut, dan udara, Hamas masih bertahan di wilayah yang hanya seluas Bandung.

New York Times (2024) menulis bahwa Israel “mengalami kejutan strategis”: sistem militer yang dibangun untuk perang konvensional ternyata lumpuh menghadapi gerilya bawah tanah dan perlawanan spiritual yang tak takut mati.

The Guardian (2025) menulis,

“Israel memenangkan setiap pertempuran taktis, tapi kehilangan arah politik dan moral. Dunia melihat kekuatan yang berperang melawan bayangan.”

Sementara analis Haaretz, Yossi Melman, menulis:

“Seperti Bani Qainuqa‘ yang mengira senjata bisa menggantikan legitimasi, Israel kini berperang bukan untuk keamanan, tapi untuk membenarkan kebohongan masa lalunya.”

—

Dari Benteng Madinah ke Bunker Gaza

Bani Qainuqa‘ dulu berlindung di benteng batu mereka, percaya bahwa tembok akan menjaga kehormatan dan kekuatan. Israel kini membangun bunker, Iron Dome, dan sistem laser senilai miliaran dolar — tetapi hati manusia tetap menjadi titik lemahnya.

Ketika perlawanan di Gaza menggali terowongan di bawah bumi, dunia melihat ironi: pasukan yang menguasai langit justru kalah oleh mereka yang berjuang dari perut tanah.

Dalam satu laporan Reuters (2024), seorang perwira Israel berkata:

“Kami bisa menghancurkan rumah, tapi tidak bisa menghancurkan tekad mereka. Kami membunuh ribuan, tapi kami tahu akan ada ribuan lagi yang lahir dari reruntuhan.”

Itulah gema Bani Qainuqa‘ di zaman modern — kekalahan moral yang berawal dari kesombongan.

—

Pelajaran dari Ulama Sirah

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zād al-Ma‘ād menulis:

“Barang siapa mengandalkan kekuatannya untuk menolak kebenaran, maka kekuatan itu akan menjadi sebab kehinaannya.”

Imam al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din:

“Kesombongan orang berilmu adalah penyakit akal, tetapi kesombongan orang kuat adalah penyakit jiwa yang membawa kehancuran umat.”

Kedua kutipan ini seperti cermin untuk setiap rezim militer yang menganggap senjata lebih tinggi dari keadilan.

Bani Qainuqa‘ kalah karena menolak kebenaran, bukan karena kekurangan logistik.
Israel terperangkap dalam logika yang sama: semakin ia membunuh, semakin kehilangan legitimasi.

—

Dunia yang Tak Lagi Tertipu

Kini dunia tak lagi menelan narasi “pembelaan diri” Israel. Kantor berita global seperti BBC, Associated Press, dan Al Jazeera menampilkan data yang tak bisa disembunyikan:

Lebih dari 500 anak gugur setiap pekan di Gaza.

Ratusan desa di Tepi Barat diusir oleh pemukim bersenjata.

Tentara Israel menembak warga sipil dengan tangan kosong.

Di sisi lain, Israel mengklaim sebagai “negara paling demokratis di Timur Tengah” — sebagaimana Bani Qainuqa‘ dulu mengklaim diri sebagai “ahli perjanjian” dan “penjaga hukum Tuhan.”

Yosua Leifer dalam Haaretz menulis (2025):

“Para pemukim dan tentara Israel kini berada di titik di mana mereka tak lagi bisa membedakan antara keamanan dan kekejaman. Mereka mengira membunuh adalah cara mempertahankan diri.”

Sejarah menunjukkan, setiap kekuasaan yang dibangun di atas ketakutan akan runtuh oleh rasa takutnya sendiri.

—

Ketika Kebenaran Menyala dari Kelemahan

Bani Qainuqa‘ kalah bukan karena jumlah, tapi karena kehilangan keberanian untuk melihat kebenaran.
Kaum Muslimin menang bukan karena senjata, tapi karena hati mereka bersatu dalam ketaatan.

Begitu pula Gaza hari ini. Mereka yang tersisa bukan lagi sekadar pasukan — tetapi jiwa-jiwa yang sudah tidak takut mati.

Kekuatan seperti itu tak bisa dikalahkan dengan tank atau drone.
Ia adalah jenis kekuatan yang disebut Al-Qur’an:

“Berapa banyak golongan kecil yang mengalahkan golongan besar dengan izin Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 249)

Itulah pelajaran yang gagal dipahami Bani Qainuqa‘ — dan kini gagal pula dipahami Israel.

BACA JUGA:  Yahudi: Sebuah Peradaban Fosil

Cermin Sejarah: Ketika Ahli Perang Menjadi Tawanan Sejarah

Rasulullah ﷺ mengusir Bani Qainuqa‘ dari Madinah tanpa satu pun dibunuh. Mereka meninggalkan tanah, emas, dan nama besar — tapi membawa pulang aib kesombongan.

Hari ini, Israel mungkin masih memiliki nuklir dan sekutu, tapi ia kehilangan kepercayaan dunia dan jiwa bangsanya sendiri.

Ratusan ribu pemuda Israel menolak wajib militer.
Puluhan ribu warga meninggalkan negara itu karena ketakutan dan rasa bersalah.
Majalah Foreign Policy menulis (2025):

“Israel menang di medan perang, tapi kalah di dalam hati bangsanya.”

Seperti Bani Qainuqa‘, mereka kini hidup dalam benteng mental yang terus mengecil.

—

Penutup: Ketika Cahaya Kemenangan Tak Bisa Disembunyikan

Sejarah Bani Qainuqa‘ bukan sekadar catatan abad ke-7, melainkan pola ilahi: setiap bangsa yang menolak kebenaran dan berperang demi kesombongan akan dikalahkan oleh tangan yang tampak lemah tapi disertai keikhlasan.

Imam al-Suyuthi menulis dalam al-Khasais al-Kubra:

“Allah menolong agama ini dengan cara yang tidak disangka-sangka, dan dengan tangan orang-orang yang tidak dianggap.”

Maka, dari Madinah ke Gaza, dari benteng Bani Qainuqa‘ ke bunker militer Israel, dunia kembali menyaksikan hukum yang sama:
kesombongan selalu kalah dari ketundukan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *