Gema Menolak Wajib Militer: Israel Sulit Rekrut 12.000 Tentara, Padahal Terus Memperluas Front Pertempuran

Nasrulloh Baksolahar
5 Min Read
Foto: Freepik

PROTES  200.000 kaum Haredi di Yerusalem bukan hanya tentang wajib militer. Itu adalah puncak dari benturan dua pandangan hidup yang tak pernah benar-benar menyatu sejak berdirinya Israel:

Zionisme sekuler, yang memandang negara dan militernya sebagai alat penebusan bangsa Yahudi dari diaspora.

Haredi religius, yang meyakini penebusan hanya akan datang dari Tuhan, bukan dari kekuatan militer atau politik.

Bagi kaum Haredi, IDF bukanlah wadah suci pembela Tanah Suci, melainkan mesin sekuler yang berpotensi “menajiskan” anak-anak mereka dengan nilai-nilai modern. Karena itu, mereka lebih memilih penjara daripada bergabung dengan tentara.

Dari sisi lain, bagi Zionis sekuler dan kaum nasionalis Yahudi, penolakan itu adalah pengkhianatan terhadap cita-cita kolektif. Dalam pandangan mereka, tidak ada Israel tanpa tentara, dan tidak ada keamanan tanpa pengorbanan bersama.
Dua pandangan ini telah lama hidup berdampingan dalam ketegangan — kini, mereka mulai bertabrakan di jantung Yerusalem.

—

Militer yang Rapuh di Tengah Perang yang Panjang

Dampaknya bagi militer Israel sangat serius.
IDF tengah kekurangan 12.000 prajurit tempur setelah dua tahun perang beruntun di Gaza, Lebanon Selatan, dan perbatasan utara. Ribuan prajurit gugur, luka, atau trauma. Dalam situasi itu, seruan untuk mengerahkan kaum Haredi menjadi semakin mendesak.

Namun, perlawanan besar-besaran di Yerusalem memperlihatkan bahwa basis sosial bagi wajib militer itu telah runtuh.
Negara yang dahulu menuntut kesetiaan total dari setiap warganya kini menghadapi penolakan massal dari komunitas terbesar dan paling subur secara demografis.

Kaum Haredi bukan minoritas kecil. Mereka lebih dari 13% populasi Israel dan tumbuh dengan laju yang sangat cepat. Bila tren ini berlanjut, dalam dua dekade ke depan, satu dari tiga anak muda Israel akan berasal dari keluarga Haredi — yang berarti krisis wajib militer ini bukan sementara, melainkan eksistensial.

—

“Kami Berjuang dengan Taurat”

Para rabi Haredi tidak melihat diri mereka sebagai pengecut. Mereka yakin bahwa doa dan studi Taurat adalah pertahanan spiritual bagi bangsa Israel, bahkan lebih kuat daripada senjata.
“Selama kami belajar Taurat,” kata seorang peserta protes, “Tuhan menjaga Israel.”
Dalam keyakinan mereka, kemenangan militer tanpa kesetiaan religius adalah kekalahan yang disamarkan.

Namun, dari kacamata sekuler, keyakinan itu terlihat sebagai pembenaran religius untuk menghindari tanggung jawab sosial.
Dua logika ini — iman dan kewarganegaraan — bertabrakan tanpa titik temu.

Ironinya, keduanya mengaku melindungi Israel: yang satu dengan senjata, yang lain dengan doa. Tapi keduanya tak lagi percaya pada cara yang sama untuk mempertahankan bangsa.

—

Dilema Netanyahu: Antara Tuhan dan Tentara

Bagi pemerintahan Netanyahu, krisis ini adalah bom waktu politik.
Koalisinya bergantung pada dukungan dua partai Haredi — Shas dan United Torah Judaism.
Memaksa mereka ikut wajib militer berarti menghancurkan koalisi, tetapi membiarkan mereka bebas berarti menghadapi kemarahan rakyat dan militer.

Ini adalah dilema klasik negara teokratis-sekuler:
Bagaimana mempertahankan negara yang dibangun atas nama Tuhan, tetapi dijaga dengan kekuatan manusia?

—

Simbol Retak di Tembok Barat

Peristiwa tragis meninggalnya Menachem Mendel Litzman, pemuda Haredi berusia 20 tahun yang jatuh dari gedung saat protes, menjadi simbol luka spiritual bangsa Yahudi modern.
Ia mati bukan karena perang melawan musuh luar, tapi karena perpecahan di antara bangsanya sendiri.

Sementara di sisi lain kota, sekelompok prajurit Haredi baru dilantik di Tembok Barat — tempat suci yang sama di mana ratusan ribu orang menolak menjadi tentara.
Dua peristiwa di dua lokasi itu membentuk cermin paradoks Israel hari ini:
negara yang dikelilingi musuh, tapi sedang terancam dari dalam.

BACA JUGA: Pemukim Israel Tak Bisa Lagi Menyembunyikan Realitas Brutal di Tepi Barat — Sama Seperti Mereka Tak Bisa Menyembunyikan Gaza

Refleksi Akhir: Bangsa yang Melawan Dirinya Sendiri

Israel kini menghadapi perang di tiga front:

1. Perang eksternal melawan Gaza, Hizbullah, dan Iran.

2. Perang moral antara generasi Zionis dan generasi religius.

3. Perang eksistensial melawan krisis makna: untuk apa negara ini ada, dan atas nama siapa mereka berperang?

Kaum Haredi percaya mereka sedang melindungi jiwa bangsa; militer yakin mereka melindungi tubuhnya. Tapi tubuh tanpa jiwa akan mati, dan jiwa tanpa tubuh tak bisa bertahan.

Ketika doa dan senjata saling mencurigai, retakan itu menjalar dari Yerusalem ke seluruh jantung Israel.
Sebuah bangsa yang dulu dibangun dari trauma pengasingan kini tampak kembali tercerai — bukan oleh musuh luar, tapi oleh perbedaan makna tentang apa itu “berjuang untuk Tuhan.” []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *