“Kami dulu hidup di kota ini. Sekarang kami hanya menjadi latar belakang bagi liburan orang lain.”
— Seorang warga Barcelona
1. Venice (Italia)
Di kanal-ikan kecil yang berkelok ini, gondola meluncur lembut, burung camar bersiul, dan warna senja jadi sorotan kamera. Namun di balik romantisme itu, Venice telah berubah menjadi kota yang kelebihan wisatawan. Populasi penduduknya terus menurun, sementara jutaan pengunjung datang tiap tahun.

Di jalan-jalan batu yang sempit, koper bergulir dan para turis berdiri berlapis berlapis untuk selfie.
Kota ini mulai menerapkan biaya masuk bagi pengunjung harian — upaya untuk mengendalikan arus. Yang dulu adalah kota dengan komunitas kecil kini menjadi panggung besar bagi wisatawan. Penduduk merasa tersisih.
Dan pelajaran yang muncul: keindahan bisa menjadi beban jika tak ada keseimbangan.
—
2. Barcelona (Spanyol)
Di tepi Laut Mediterania, Barcelona menyuguhkan Gaudí, La Rambla, makanan tapas—semua memikat dunia. Tetapi kota ini hadapi manifestasi lain: harga sewa rumah melambung, jalan-jalan penuh turis dan penduduk yang merasa kota milik mereka makin hilang.
Pada musim panas, bar dan kafe ramai hampir tanpa jeda, suara tawa turis menutupi lagu hidup lokal.

Seorang pemuda lokal pernah berujar:
“Aku harus pergi ke distrik lain untuk ngobrol santai; di sini semua orang hanya lewat, dan kota tampak seperti dekorasi Instagram.”
Barcelona mengingatkan kita bahwa pariwisata bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal hak untuk tinggal dan mempertahankan identitas.
—
3. Kyoto (Jepang)
Bayangkan kuil kuno, gerbang merah torii yang berjajar, sakura yang rontok perlahan di musim semi. Itu gambaran klasik Kyoto. Namun di balik keheningan itu, ada kerumunan besar yang hendak “mengalami Jepang tradisional”. Seorang turis berkata:

“Kami bangun jam lima pagi untuk menghindari kerumunan di Fushimi Inari… tapi saat turun, gelombang wisatawan dari segala arah sudah datang.”
Fenomena ini mencerminkan bahwa destinasi spiritual dan sunyi pun tidak kebal dari gelombang massal.
Kuil yang dihormati kini ditusuk flash kamera, batu-batu tua menyaksikan ransel-ransel dan sandal turis.
Jepang menghadapi pertanyaan besar: bagaimana menjaga warisan budaya ketika warisan itu menjadi produk wisata?
—
4. Bali (Indonesia)
Sebuah pulau yang dulu dikenal sebagai “pulau para dewa”, kini dikenal juga oleh kemacetan, kekurangan air, dan lahan persawahan yang hilang diubah menjadi vila.

Seorang warga menuturkan:
“Kami rindu saat udara masih sejuk dan suara ayam jantan jadi alarm pagi. Sekarang, alarm itu diganti dengan deru motor sewaan.”
Bali menunjukkan sisi gelap dari pariwisata sebagai “pilar ekonomi”: ketika dominasi wisata memakan ruang kehidupan lokal, maka yang tumbuh bukan hanya resort, tapi juga kerentanan ekologis dan sosial.
—
5. Hoi An (Vietnam)
Di malam hari, lentera-lentera berwarna memantul di sungai, musik ringan terdengar di kafe-kafe tepi air. Hoi An dulu kota pelabuhan tenang; sekarang, pintu-pintu kayu dan gang-gang sempitnya dipenuhi pendatang yang mencari “nuansa klasik”.

Penjual lentera mengatakan:
“Mereka datang, menyalakan lilin, mengambil foto… lalu pergi. Tapi bagi siapa mereka berdoa?”
Kisah Hoi An mengingatkan kita: ketika destinasi menjadi viral, maka substansi—yang dulu keaslian dan keheningan—berisiko tergantikan.
—
6. Phuket + Maya Bay (Thailand)
Di pantai-pantai sejuk ini, laut yang dulu jernih dan sunyi kini penuh perahu wisata, tur “dalam sehari” dan kapal-kapal besar yang menurunkan puluhan pengunjung ke satu titik.

Seorang nelayan tua menatap laut yang penuh sampah plastik dan berkata:
“Dulu laut ini memberi kami ikan. Sekarang laut hanya memberi uang—dan racun.”
Maya Bay pernah ditutup sementara untuk pemulihan, menunjukkan bahwa alam tidak akan diam saat dieksploitasi tanpa kontrol.
Di antara sinar matahari dan pasir putih, ada efek domino yang jarang terlihat: ekosistem terdegradasi, penduduk lokal kehilangan akses, dan pantai yang dulu sentimental menjadi lecet oleh jumlah.
—
7. Boracay (Filipina)
Surga tropis yang dikenal luas, namun tak luput dari masalah massa. Pada tahun 2018, penduduk setempat menutup pulau itu selama enam bulan untuk memberi kesempatan bagi alam dan komunitasnya pulih.

Seorang penjaga toko berkata:
“Kami senang wisatawan datang kembali, tapi kami takut mereka datang terlalu banyak.”
Boracay adalah contoh bahwa pengaturan bukan pilihan—melainkan keharusan—untuk memberikan keseimbangan antara ekonomi dan keberlangsungan.
—
8. Istanbul (Turki)
Kota dua benua, penuh sejarah, masjid dan bazar. Namun Istanbul kini dihadapkan pada lonjakan pengunjung yang menantang infrastruktur dan kehidupan lokal. Sebuah laporan menyebutnya sebagai salah satu kota yang paling “siap gawat” dalam hal overtourism.

Lorong-lorong Sultanahmet yang dulu rezap dengan doa kini dipenuhi panduan wisata, suara langkah kaki, dan kios suvenir.
Warga bertanya: bagaimana mempertahankan kota sebagai tempat tinggal, bukan hanya sebagai panggung foto?
—
9. Dubai / Macau (UAE & China)
Kedua kota ini masuk daftar kota dengan densitas turis sangat tinggi. Laporan “overtourism index” menempatkan Macau sebagai kota dengan densitas pengunjung tertinggi per km².

Ketika pencakar langit dan resort megah tumbuh, kehidupan lokal sering tersembunyi di balik kilau iklan.
Kota-kota ini mengajarkan bahwa pariwisata volume besar bisa menjadi beban jika tak diimbangi dengan integrasi sosial dan ruang warga.
—
10. Rome (Italia)
Colosseum, Air Mancur Trevi, jalan setapak Romawi—semua membuat Roma jadi mimpi banyak orang. Tapi mimpi itu punya harga. Warga lokal melihat apartemen mereka beralih jadi sewa jangka pendek, dan kebisingan turis setiap hari membuat bagian kota terasa kurang seperti rumah.

Seorang figur lokal menggambarkan:
“Kami dulu makan di kafe jalanan dengan teman. Kini meja-meja itu penuh dengan selfie.”
Roma menegaskan bahwa sejarah besar bukan pembebasan dari tantangan modern—melainkan pelajaran paling mendalam tentang bagaimana menjaga nilai.
—
Renungan: Mengapa Semua Ini Terjadi?
Ketika kita menelusuri kisah-kisah di atas, muncul pola yang sama:
Kota indah, warisan budaya, pantai surga… semuanya menarik perhatian global.
Promosi massal, transportasi murah, media sosial menciptakan ledakan kunjungan.
Infrastruktur lokal, identitas warga, dan lingkungan sering kalah cepat terhadap gelombang turis.
Akhirnya, penduduk merasa sebagai “tamu” di kota mereka sendiri, dan destinasi kehilangan makna yang dulu melekat.
Para ahli pariwisata mencatat bahwa overtourism bukan hanya soal jumlah pengunjung, tetapi soal ketidakseimbangan: penggunaan ruang oleh wisatawan yang menciptakan tekanan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
BACA JUGA: Kota-kota yang Ditaklukan di Akhir Zaman
Apa yang Bisa Dilakukan?
Beberapa kota mulai mengambil langkah konkret:
Pengenaan biaya masuk atau pajak turis (Venice, Barcelona)
Pembatasan jumlah kapal pesiar, kuota pengunjung, jam operasional (Boracay, Maya Bay)
Regulasi sewa jangka pendek agar penduduk lokal tetap memiliki rumah (Barcelona)
Kampanye “wisata yang bertanggung-jawab” dan promosi destinasi alternatif agar tak semua tertuju ke lokasi yang sama
—
Penutup Reflektif
Di sebuah kafe kecil di Bali, lelaki tua bertanya padaku:
“Apa yang dimaksud kita datang ke tempat baru? Apakah hanya mengambil gambar atau memungut rasa yang tinggal di sana?”
Aku terdiam.
Karena sekarang kita tahu: ketika kota menjadi destinasi massal, yang hilang bukan hanya ruang — tapi keintiman, keheningan, dan rasa keterikatan.
Maka, ketika kita memilih untuk pergi ke kota yang indah, kita juga memilih untuk membiarkannya tetap hidup.
Bukan sebagai museum untuk difoto, tetapi sebagai rumah bagi warganya — bagi mereka yang tetap tinggal ketika sorotan kamera mereda.
Kota-kota di atas telah memberi kita peringatan:
“Cintailah kami — tapi jangan mencintai kami dengan cara yang membuat kami hilang.”
Dan untuk itu, kita harus belajar menghargai bukan hanya foto;
melainkan suara, jalan kaki warga lokal, kesunyian pukul lima pagi, dan ketika satu kota berkata:
“Selamat datang — tapi tolong, jangan supaya kami hanya menjadi tempat lewat.” []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
