DI sebuah petak lahan yang dulu hijau dan penuh harapan, kini terbentang hamparan puing dan pasir yang sunyi. Seorang petani berdiri di tengah sisa rumah kacanya yang hancur, menatap tanah yang dulu memberinya makan—dan hari ini menatap masa depan yang genting.
“Perang tidak hanya merenggut hasil panen kami. Perang juga merenggut masa depan kami.”
— Naim Abu Amra, petani dari Deir al-Balah, Gaza
Ia menuturkan bagaimana, sebelum Oktober 2023, lahan seluas 11 dunam miliknya ditanami tomat, mentimun, paprika, zucchini—rotasi musiman menjaga kesuburan tanah. Ia menggunakan sistem irigasi tetes, panel surya, pompa diesel kecil—dengan sumber daya terbatas karena pembatasan impor peralatan pertanian oleh pihak Israel. Namun segalanya berubah ketika konflik melebar: rumah kaca hancur, pipa irigasi robek, sumur tertutup pasir dan puing.
“Bulldoser militer meratakan tanah hingga menjadi tanah kosong; bahkan struktur plastik dan logam pun meleleh akibat pengeboman.”
— Abu Amra
Ladang yang dulu subur kini tertutup puing, berserakan persenjataan tak meledak, tak dapat digunakan lagi. Dengan putra-putranya, ia membersihkan puing dengan sekop dan keledai—menanam okra dan molokhia di petak kecil menggunakan air hujan terkumpul. Tapi benih tomat? Itu tak ada lagi.
—
Kerusakan yang Terukur, Kehidupan yang Terancam
Menurut laporan bersama Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) dan UNOSAT (United Nations Satellite Centre), situasi pertanian di Gaza sudah di ambang runtuh:
Hingga April 2025, lebih dari 80% dari total lahan budidaya (sekitar 12.537 hektar dari 15.053) telah rusak, dan 77,8% tidak bisa diakses oleh petani. Hanya 4,6% (688 hektar) lahan yang tersedia untuk budidaya.
Pada Agustus 2025, angka terburuk: 98,5% dari lahan budidaya dianggap rusak atau tidak dapat diakses; hanya 1,5% yang terbuka untuk bercocok tanam.
Kerusakan infrastruktur pun parah: 71,2% rumah kaca rusak, 82,8% sumur pertanian rusak.
Sebelum konflik, sektor pertanian menyumbang sekitar 10% ekonomi Gaza dan lebih dari 560.000 orang menggantungkan hidup sebagian atau seluruhnya dari pertanian, peternakan atau perikanan.
Ketika kita melihat angka-angka itu, kita tak hanya melihat kerusakan lahan—kita menyaksikan hilangnya mata pencaharian, hilangnya identitas pertanian, dan hilangnya kedaulatan pangan.
—
Benih yang Tak Masuk, Harapan yang Tak Bertunas
Di tengah reruntuhan itu, muncul cerita yang simbolik namun kuat: “benih tomat pun tidak lolos”. Menurut aktivis setempat, impor benih dan sayur-buah yang mengandung biji telah dibatasi atau dilarang masuk ke Gaza—benih dianggap “barang untuk penggunaan ganda”.
“Benih dijadikan senjata karena merupakan sumber kehidupan.”
— Mariam Al‑Jaajaa, Manajer Umum Arab Group for the Protection of Nature (APN)
Bayangkan: tanah yang menunggu musim tanam, namun benih tak datang. Tanah yang bisa ditanami, namun tak bisa dimulai karena input dasar tak tersedia. Petani yang selalu memulai musim tanam—kini berhenti karena ketiadaan benih dan alat.
“Bahkan tidak ada satu biji tomat pun,” ujarnya.
Dialog terlintas:
Hati: “Bagaimana mungkin sebuah ladang yang dulu memberi makan keluarga kini menunggu benih seperti menunggu keajaiban?”
Akal: “Karena blokade, karena kebijakan, karena kerusakan infrastruktur—semua berpadu menjadi satu.”
Hati: “Tapi siapa akun-abilitasnya?“
Akal: “Itulah pertanyaan yang muncul bagi kita semua—bukan hanya petani di sana, tapi juga dunia”.
—
Infrastruktur Runtuh, Sistem Pangan Kacau
Kerusakan bukan sekadar rumah kaca atau sumur. Ini mencakup banyak lapisan: irigasi hancur, alat berat tak boleh masuk, tanah tercemar, zona aman yang membatasi akses. Laporan menyebut 61 juta ton puing menutupi tanah Gaza—15%-nya mengandung zat beracun seperti asbes. Sumur, pompa, irigasi tetes—semuanya rusak atau tidak berfungsi.
“Tanah yang dulu membawa panen kini dipenuhi puing dan bom yang belum meledak.” — Petani Gaza
Saat tanah tak bisa digunakan, produksi pangan lokal pun berhenti. Sistem agrifood yang bukan hanya ladang, tetapi distribusi, pasar, pekerjaan, akses—semua mengalami runtuh. FAO resmi menyebut:
“This level of destruction is not just a loss of infrastructure — it is a collapse of Gaza’s agrifood system and of lifelines.”
Ketika pertanian mati, maka ketergantungan terhadap bantuan meningkat, harga pangan melambung, dan kedaulatan pangan lenyap.
—
Ketidakadilan yang Menjadi Bagian Kisah
Di sebuah petak tanah, seorang petani berkata: “Beban psikologisnya sangat berat. Melihat tanah yang dulu memberi makan ratusan orang berubah menjadi abu sungguh memilukan.” Ia memandang anak-anaknya yang dulu membantu memanen—sekarang bertanya, “Apakah rumah kaca kami akan kembali?”
Hati: “Ketika seorang anak bertanya ‘kapan ladang ayah akan tumbuh lagi?’ — maka dosa kemanusiaan pun terungkap.”
Akal: “Setidaknya kita punya data; setidaknya kita bisa melihat keruntuhan ini sebagai tanggung jawab.”
Ketika benih dikendalikan, ketika ladang diberi zona larangan, ketika akses ditutup—maka bukan hanya ekonomi yang diserang, tetapi hak dasar manusia untuk makan, untuk memproduksi, untuk hidup dengan martabat.
BACA JUGA: Garis Kuning Israel yang Membelah Gaza dari Dalam
Apakah Ada Ruang untuk Harapan?
Meski besar kerusakan, masih ada petani yang berusaha menanam okra atau molokhia di petak kecil dengan air hujan; masih ada organisasi yang bekerja dengan 700 petani untuk mengolah 13.000 dunam lahan.
FAO juga menyebut bahwa gencatan senjata membuka jendela kecil rehabilitasi: sekitar 37% dari lahan yang rusak kini secara fisik dapat diakses untuk dibangkitkan kembali.
Namun harapan ini sangat rapuh—tanpa benih, tanpa investasi, tanpa akses yang memadai—pemulihan bukan hanya lambat; bisa jadi mustahil.
—
Penutup Reflektif
Di tengah gulungan debu Gaza, muncul pertanyaan yang sederhana namun tajam:
Tanah yang dulu memberi makan—mengapa harus menunggu benih?
Petani yang dulu mencipta—mengapa kini hanya membersihkan puing?
Dunia yang dulu melihat—mengapa kini terlalu banyak diam?
Biji tomat tak datang bukan karena faktor alamiah. Ini adalah ikon dari sistem yang hancur, dari hak yang direbut, dari kedaulatan yang dirampas.
Ketika benih jadi barang terlarang, ladang jadi zona larangan—maka yang tak hanya hilang adalah panen. Yang hilang adalah harapan.
“Tidak ada solusi tanpa keadilan,” kata Al-Jaajaa.
Jika tanah tak bisa ditanami, benih tak bisa masuk—maka keadilan pun perlu ditanam terlebih dahulu. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
