DI malam-malam panjang itu, dunia seakan diam. Langit Suriah bergetar oleh dentuman meriam, dan padang Sudan menyala dalam api. Dua negeri yang jauh, namun ditautkan oleh satu nasib: keterjajahan dalam bentuk baru — intervensi yang menyebut dirinya “strategis”, tapi sesungguhnya menabur luka kemanusiaan.
Dua nama mengemuka dalam dua kisah berbeda: Iran di balik kekuasaan Bashar al-Assad di Suriah, dan Uni Emirat Arab (UEA) di balik krisis berdarah di Sudan.
Mereka datang bukan sebagai penjajah klasik, tetapi sebagai sekutu, penolong, dan investor. Namun sebagaimana sejarah selalu berulang, “bantuan” itu perlahan menjelma menjadi belenggu.
—
Iran di Suriah — Jejak Besi di Negeri yang Tumbang
“Damaskus sudah bukan milik kami,” bisik seorang warga tua di pengungsian Yordania kepada wartawan Al-Jazeera tahun 2024.
“Yang mengatur negeri kami sekarang adalah orang-orang berseragam hitam dan bahasa mereka bukan bahasa kami.”
Sejak 2011, ketika api “Arab Spring” menyentuh Suriah, dunia menyaksikan harapan berubah jadi neraka. Iran datang dengan cepat: mengirim Pasukan Garda Revolusi (IRGC), milisi Syiah dari Irak dan Lebanon, serta penasihat militer ke istana Assad. Dalam narasi Teheran, ini adalah “perlawanan terhadap terorisme”. Namun di balik jargon itu, kota-kota tua seperti Aleppo dan Homs dibakar oleh rudal dan bom barel.
Menurut Syrian Network for Human Rights (2024), rezim Assad dan sekutunya bertanggung jawab atas lebih dari 125 serangan terhadap fasilitas sipil hanya dalam satu tahun. Iran tidak hanya menyuplai senjata; ia menanam pengaruh — dari masjid dan universitas hingga pangkalan militer di Qusayr dan Deir ez-Zor.
Namun sejarah berbalik. Ketika rezim Assad tumbang pada Desember 2024, Iran kehilangan poros penting dalam sumbu “Perlawanan” yang selama ini diagung-agungkan. Pemimpin tertinggi Ayatollah Khamenei, dalam pidato yang dikutip Tehran Times, berkata samar:
“Kami kehilangan sekutu, tapi tidak kehilangan misi.”
Misi itu—bagi banyak rakyat Suriah—berarti perpanjangan penderitaan.
Di reruntuhan Aleppo, seorang guru menulis di dinding kelas yang hancur:
“Kami ingin kemerdekaan, bukan penjagaan.”
Ia tak sedang berbicara pada Assad saja, tapi juga pada pasukan asing yang datang dengan dalih penyelamatan.
Refleksi yang muncul sederhana namun tajam:
Apakah sebuah bangsa masih berdaulat ketika tentara asing yang menjaga istananya, bukan rakyatnya?
—
UEA di Sudan — Emas, Drone, dan Duka di Tanah Afrika
Sementara itu, ribuan kilometer ke barat daya, di jantung benua Afrika, Sudan terbakar oleh perang antara Rapid Support Forces (RSF) dan militer pemerintah.
Namun bayangan kekuatan luar menjadikan perang ini lebih dari sekadar konflik internal.
Laporan BBC Africa (Mei 2025) menyebutkan bahwa Uni Emirat Arab dituduh secara langsung mendukung RSF — dengan pengiriman senjata, drone, dan logistik perang. Pemerintah Sudan akhirnya memutus hubungan diplomatik dengan UEA, menuduh Abu Dhabi “menjadi sponsor kekacauan”.
Sementara laporan The Guardian dan Reuters menunjukkan rantai ekspor emas Sudan ke UEA: 39 ton emas senilai lebih dari dua miliar dolar pada 2022. Sebagian besar emas itu diyakini berasal dari tambang yang dikuasai RSF.
Di balik data itu, ada kisah manusia.
Seorang ibu di Port Sudan berkata kepada wartawan France 24:
“Anak saya mati oleh drone. Mereka bilang drone itu dikirim dari negara yang kaya dan aman. Tapi emas dari tanah kami juga dikirim ke sana.”
Inilah wajah kolonialisme baru: bukan dengan pasukan kolonial dan bendera, tapi dengan kontrak dagang, investasi senjata, dan transaksi emas berdarah.
UEA membela diri—menyebut keterlibatannya sebagai “upaya menjaga stabilitas regional.” Namun pertanyaannya, stabil bagi siapa? Bagi rakyat Sudan yang kehilangan rumah, atau bagi para investor yang mengamankan jalur emas dan pelabuhan Laut Merah?
—
Dua Cermin, Satu Bayangan
Suriah dan Sudan berbeda jauh dalam geografi, budaya, dan bahasa, tetapi keduanya menjadi cermin dari satu pola:
ketika negara-negara kuat menjadikan negeri lemah sebagai panggung geopolitik dan geoekonomi mereka.
Iran di Suriah berbicara atas nama ideologi; UEA di Sudan bertindak atas nama ekonomi.
Namun hasilnya sama: rakyat menjadi korban, negeri hancur, dan generasi baru tumbuh tanpa tanah, tanpa rumah, tanpa kenangan damai.
Di Damaskus, reruntuhan masjid yang dibangun pada era Umayyah kini diselimuti debu peluru.
Di Khartoum, pasar tua terbakar, dan aroma logam bercampur dengan debu emas yang hilang arah.
Kedua kota itu pernah menjadi simpul peradaban—sekarang menjadi simbol dunia yang membiarkan penderitaan berlangsung atas nama “strategi”.
Seorang analis di Middle East Eye menulis:
“Intervensi bukan lagi tentang pertahanan ideologi, tapi tentang siapa yang menguasai peta energi, jalur udara, dan sumber mineral.”
Refleksi itu menampar kesadaran:
barangkali imperialisme tak pernah benar-benar berakhir, hanya berganti bahasa—dari penjajahan menjadi “bantuan”, dari penguasaan menjadi “mitra stabilitas”.
—
Dalam Keheningan Dunia
Apabila kita berjalan di pengungsian Suriah, atau di tenda-tenda darurat Sudan, kita akan mendengar pertanyaan yang sama diucapkan dengan bahasa berbeda:
“Mengapa dunia diam?”
Di balik statistik dan laporan PBB, tersembunyi wajah-wajah manusia yang tak tercatat: anak-anak yang belajar menulis di tanah, ibu-ibu yang menjahit pakaian dari tenda, lelaki tua yang memeluk peta negeri yang tak lagi dikenalnya.
Mereka bukan bagian dari strategi global—mereka adalah korban dari strategi itu.
Kita hidup di masa ketika “stabilitas” bisa berarti pembunuhan yang rapi, dan “aliansi” bisa berarti pengkhianatan terhadap kemanusiaan.
Di sini, kesadaran kita diuji: apakah kita sekadar penonton tragedi, atau saksi yang mengingat agar sejarah tak mengulang luka yang sama?
BACA JUGA: Mengapa Amerika Harus Membayar Harga Agresi Sekutunya? Proyek Israel Membakar Timur Tengah
Epilog: Bayangan di Langit Timur
Ketika senja tiba di Suriah, azan dari masjid yang setengah runtuh masih menggema.
Di Sudan, matahari jatuh di balik debu tambang emas.
Langit di atas keduanya sama: kelabu, tapi tetap menyimpan cahaya.
Mungkin di masa depan, anak-anak dari kedua negeri itu akan menulis kisah baru—tentang bangsa yang berdiri tanpa penjagaan asing, tanpa drone, tanpa milisi.
Namun untuk sampai ke sana, dunia harus belajar mengakui satu hal sederhana: tidak ada kemenangan yang lahir dari darah rakyat sendiri.
Dalam refleksi sunyi, suara nurani mungkin bertanya:
“Apa artinya kekuasaan jika ia menukar kemanusiaan dengan keuntungan?”
Dan di antara reruntuhan Suriah serta gurun Sudan, jawaban itu terus bergaung:
“Tidak ada yang lebih mulia daripada membela manusia dari penindasan — bahkan jika penindasnya datang dengan nama sekutu.” []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE




