Aliansi Trump dan Netanyahu

Nasrulloh Baksolahar
9 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

Panggung Pertemuan

BAYANGKAN sebuah ruangan kaca di Gedung Putih atau di penginapan pribadi di Mar-a-Lago, atau dalam pertemuan tertutup di Yerusalem—dua pria berjalan saling menatap, satu dari Amerika, satu dari Israel. Masing-masing yakin bahwa mereka memegang kunci sejarah masa depan, bahwa mereka layak jadi pahlawan zaman mereka.

Donald Trump — figur Amerika dengan gaya flamboyan, janji-janji yang melambung tinggi, dan keyakinan diri yang keras memecah keheningan. Ia pernah berseru: “Saya sangat stabil, seorang jenius.”

Benjamin Netanyahu — tokoh Israel yang sudah lama berada di panggung politik, mengenakan setelan jas negarawan; namun di balik itu ada ego, ada ambisi untuk tak hanya memimpin, tapi selalu di puncak.

Mereka bertemu, lalu sinergi itu terlihat: Trump membutuhkan figur luar negeri yang bisa menegaskan kekuatannya sebagai “teman kuat Israel” — Netanyahu membutuhkan patron AS untuk memperkuat posisi domestiknya dan global. Terlihat seperti aliansi eksklusif: dua raksasa, dua pilar, satu arah.

Namun dari sana juga mulai muncul friksi. Tidak secara dramatis hari pertama, tapi lewat fragmen-fragmen kecil: gesekan atas siapa yang menentukan kebijakan, siapa yang mengambil kredit, siapa yang merasa dilupakan.

—

Narsisme dan Politik Kekuasaan

Sebelum kita masuk ke keretakan, mari kita lihat aspek karakter — narsisme — dan bagaimana ia memainkan peran.

Pakar seperti Craig M. Post (dalam artikel di Yale Medicine) menyebut bahwa sejumlah pemimpin politik tinggi memiliki ciri narsistik — grandiositas, entitlement (hak istimewa), dan eksploitasi sosial.

Studi meta-analisis menunjukkan bahwa kepemimpinan yang sangat narsistik sering menghasilkan efek negatif terhadap organisasi atau negara yang dipimpin.

Misalnya, paper “Leader Narcissism, Inflated Self-Image Maintenance, and War Duration” menyimpulkan bahwa pemimpin dengan tingkat narsisme tinggi cenderung memperpanjang konflik demi mempertahankan citra diri mereka.

Dalam konteks Trump dan Netanyahu:

Trump: Selalu tampil sebagai pusat perhatian. Narasi sendiri, sorotan media, penggemar yang memuja. Semua terasa seperti panggung besar untuk dirinya.

Netanyahu: Dia sering dipuji sebagai “sang penyelamat Israel”, namun juga berada di bawah bayang-bayang tuntutan domestik — skandal korupsi, persaingan partai kanan, tekanan internasional.

Ketika dua karakter yang begitu memerlukan pengakuan dan dominasi bertemu, maka bukan hanya kerjasama yang terjadi — tapi juga potensi konflik internal jauhnya.

—

Aliansi yang Tumbuh di Atas Ketidakseimbangan

Sekarang kita masuk ke medan realpolitik: Aliansi Trump-Netanyahu. Ada beberapa unsur yang memperkuatnya:

AS di bawah Trump memberikan Israel dukungan luar biasa: diplomasi di PBB, pengakuan resmi atas Golan Heights, dukungan militer kuat.

Netanyahu mendapatkan narasi kemenangan: “Kami punya teman kuat di AS”, dan citra sebagai pemimpin yang “membawa Israel ke depan”.

Namun ada juga ketidakseimbangan yang inheren:

Israel jauh lebih bergantung pada AS — keuangan, teknologi, diplomasi — daripada sebaliknya.

Trump, secara global, memiliki basis politik sendiri; relasi dengan Israel adalah bagian dari cerita besar-nya — bukan satu-satunya.

Dalam istilah naratif: Trump sebagai pemain global, Netanyahu sebagai pemain regional yang membutuhkan lampu sorot. Ketika lampu itu menyala, kerjasama tampak kuat. Tetapi ketika bayangnya memanjang, keretakan pun muncul.

—

Krisis dalam Aliansi

Ketika perang di Gaza (2023-2025) dan tekanan internasional meningkat, retakan mulai muncul nyata.

Sebuah artikel Guardian menyebut: “Trump has considerable leverage over Netanyahu…” dan bahwa penyelesaian perang di Gaza tak lepas dari posisi AS terhadap Israel.

Kemudian, publikasi terbaru menunjukkan bahwa Netanyahu “eventually came to tolerate Trump’s glare” karena Washington mempertanyakan beberapa langkah Israel.

Sebuah berita Reuters tanggal 26 Juni 2025 menyebut bahwa Trump menyeru agar pengadilan terhadap Netanyahu dibatalkan — menunjukkan campur tangan AS dalam urusan internal Israel.

Semua ini menciptakan cerita: Ketika salah satu dari mereka merasa kurang dikagumi atau dikendalikan, dan ketika isu legal/emosional mulai menekan — maka dua narsisis dalam satu botol mulai saling mengukur.

“Kedua pria itu, dengan nada menyanjung, mengenakan jubah patriotisme sebagai kebijakan… namun ketika ilusi kendali goyah, hasilnya pun akan brutal dan tanpa henti.”

—

Potensi Keruntuhan dan Tarian Penghancuran

Dalam psikologi narsisis, salah satu karakteristik adalah: ketika pengakuan berhenti datang, ketika rival atau sekutu menjadi ancaman, maka muncul ledakan — penghinaan, serangan balik, penguraian identitas.

Sebuah artikel Stanford menyebut: “Narcissistic CEOs often involve their firms in costly litigation … in the narcissist’s worldview, other human beings must be either acolytes or enemies.”
Dan studi politik menemukan bahwa rivalitas (aspek gelap dari narsisme) adalah korelat kuat polarisasi politik.

Dalam konteks Trump-Netanyahu:

Jika Trump merasa Netanyahu menyalahgunakan dukungan AS atau mencuri sorotan, maka Trump bisa memutar balik dan membuat syarat.

Jika Netanyahu merasa dikendalikan oleh AS atau kehilangan ruang manuver dalam kebijakan, maka ia bisa mencari alternatif atau menonjolkan kemandirian Israel.

Saat ego seorang narsisis diganggu — misalnya tuntutan hukum atau pengkhianatan loyalis — maka ia berpotensi “menstrual” dalam politik, memuntahkan cermin yang retak ke arah sekutunya.

—

Implikasi bagi Israel-AS dan Politik Global

Apa artinya jika tarian ini terus berlangsung?

1. Ketidakpastian kebijakan: Ketika hubungan bintang sekutu rapuh, kebijakan luar negeri bisa berubah cepat — bukan karena strategi matang, tetapi karena dinamika pribadi.

2. Pengaruh bagi wilayah: Israel-AS adalah tumpuan besar di Timur Tengah. Keretakan antara dua pusat kekuasaan ini bisa membuka ruang bagi aktor lain: Iran, Arab Saudi, Turki, Hizbullah.

3. Moral dan legitimasi: Ketika politik menjadi panggung narsisisme besar, maka legitimasi rakyat dan komunitas internasional bisa melemah. Kritik terhadap Israel atau AS bisa semakin bersuara keras.

4. Pertanyaan kepemimpinan: Apakah kepemimpinan yang tumbuh dari narsisme bisa membawa hasil yang berkelanjutan? Studi menunjukkan bahwa awalnya bisa efektif, tapi dalam jangka panjang banyak kerugian.

—

Refleksi Akhir dalam Nada Dialogis

“Aku pernah berdiri di pinggir panggung dunia—melihat dua pria yang dianggap pengubah sejarah.
Satu melantunkan janji kepada Amerika — ‘Aku akan membuat Amerika besar lagi’.
Yang lain mendengar bisikan rakyatnya: ‘Lindungi kami, jadikan kami mendunia’.
Mereka berpecah dalam sorak dan tepuk tangan.
Tapi aku melihat saat sorak-sorainya mulai beralih ke bisik pengkhianatan.”

Dialog antara dua tokoh seperti ini menggambarkan lebih dari sekadar persahabatan: ia menunjukkan bagaimana kekuasaan, ego, dan kerentanan manusia bisa menumpuk dan meledak.

“Ketika satu cermin mulai retak, yang lain akan menatap potongannya—lalu melontarkan bayangannya kembali.”

BACA JUGA:  Che Guevara dan Palestina: Ketika Revolusi Amerika Latin Bertemu Semangat Perlawanan Palestina

Nasib Aliansi dan Siapa yang Akan ‘Menang’

Seperti dua kalajengking yang terperangkap bersama dalam satu botol — mereka bisa bertindak bersama untuk waktu tertentu, tetapi ruangnya terbatas. Sebelum lama, satu akan menyabet sengatnya ke yang lain. Siapa yang akan ‘menang’?

Jika Trump berhasil menjaga citranya sebagai broker perdamaian atau pelindung Israel, ia bisa mengklaim kemenangan sejarah.

Jika Netanyahu berhasil menegakkan agenda Israel dengan dukungan AS penuh tanpa merasa diremehkan, ia bisa mengukir era baru.

Namun jika salah satu merasa tereduksi, maka aliansi bisa terpecah, dan satu dari mereka bisa menjadi “pengkhianat” dalam narasi publik mereka masing-masing.

—

Kesimpulan

Dua orang yang pernah berdiri kokoh di puncak — Trump dan Netanyahu — berbagi panggung global, namun juga berbagi kerentanan manusia: keinginan dikagumi, keinginan dikendalikan, keinginan untuk tidak dikalahkan. Aliansi mereka bukanlah kemitraan klasik antara equals; ia adalah simbiosis yang rapuh di mana salah satu lebih dominan. Di saat dominasi itu dirasakan, keretakan pun mulai tumbuh.

Dan ketika keretakan terjadi di antara dua narsisis besar, maka bukan hanya mereka yang risau — dunia juga harus bersiap menghadapi ledakan narasi, kebijakan, dan konflik. Karena dalam politik kekuatan besar, yang disebut persahabatan kadang adalah kontrak di atas pasir bergeser.

“Kita bukan hanya menonton perseteruan dua tokoh besar—kita menyaksikan bagaimana ego, kekuasaan, dan narasi diri bisa membentuk sejarah atau menghancurkannya.”

Semoga tulisan ini membantu kita tak hanya memahami apa yang terjadi di ruang kabinet atau konferensi pers, tetapi juga memahami manusia di balik jas diplomasi—dan bagaimana ketika manusia besar salah membaca cerminnya, cermin itu akan membalas. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *