SUATU Minggu pagi di Texas, jemaat gereja Evangelis menundukkan kepala. Pendeta mereka berdoa panjang untuk “perdamaian di Timur Tengah dan keamanan bagi Israel.” Di layar LED di belakang altar, tayangan video singkat menampilkan kisah tentang “keberanian tentara Israel melawan teror.”
Tak banyak yang tahu bahwa video itu tidak datang dari jaringan misi Kristen, melainkan dari agensi digital yang didanai langsung oleh Kementerian Urusan Strategis Israel.
Sejak awal 2025, menurut laporan investigatif Haaretz oleh jurnalis Omer Benjakob, pemerintah Israel menandatangani kontrak bernilai jutaan dolar dengan perusahaan konsultan politik di Amerika Serikat — beberapa di antaranya terhubung dengan lingkaran politik Donald Trump — untuk meluncurkan proyek besar: “AI Hasbara.”
Hasbara berarti “penjelasan,” istilah khas Israel untuk menyebut kampanye global pembelaan citra negara itu. Tapi kali ini, wilayah tempurnya bukan lagi ruang redaksi atau podium diplomasi, melainkan server AI dan gereja-gereja di jantung Amerika.
“Tujuannya bukan sekadar menjawab kritik, tapi membentuk persepsi sejak dalam benak,” tulis Benjakob.
“Israel kini berperang di ruang sunyi: algoritma.”
—
Menyasar Evangelis: Sekutu Spiritual yang Dijadikan Laboratorium
Mengapa gereja Evangelis menjadi sasaran utama?
Karena dalam politik Amerika, mereka adalah mesin suara paling loyal bagi Israel.
Dari masa George W. Bush hingga Donald Trump, basis Evangelis-lah yang menekan Gedung Putih untuk mendukung Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Namun belakangan, dukungan ini mulai melemah, terutama di generasi muda gereja.
Itulah yang membuat Israel panik.
Kampanye “AI Hasbara” dirancang untuk mengembalikan semangat zionisme teologis yang mulai pudar.
Melalui kontrak dengan perusahaan digital seperti SharpArrow Strategies dan Jerusalem Media Partners (nama-nama yang tercantum dalam dokumen FARA AS), kampanye ini menyalurkan ribuan video pendek, klip doa, dan testimoni palsu dari “pendeta virtual” yang dibuat dengan kecerdasan buatan.
Sebagian diunggah di TikTok dan YouTube dengan narasi bahwa “dukungan kepada Israel adalah perintah iman.”
Sebagian lainnya disebar ke WhatsApp dan grup doa gereja dalam bentuk renungan harian.
BACA JUGA: Tidak Hanya di Palestina: Eksistensi Yahudi di Amerika pun Mulai Dikhawatirkan?
Seorang analis media dari Brookings Institution, Dr. Kenneth Schultz, menilai:
“Ini bukan hanya propaganda politik. Ini psikologi keagamaan yang dimanipulasi oleh negara asing. Gereja dijadikan kanal diplomasi tanpa sepengetahuan umatnya.”
—
Dari Gereja ke ChatGPT: Misi Membentuk Kecerdasan Buatan yang Berpihak
Namun bagian paling mengejutkan dalam laporan Haaretz bukanlah operasi di gereja, melainkan upaya untuk memengaruhi sistem AI global seperti ChatGPT.
Dalam dokumen kontrak yang diaudit Foreign Agents Registration Act (FARA), disebutkan bahwa beberapa tim digital ditugaskan untuk “memastikan bahwa platform berbasis model bahasa besar (LLM) menampilkan Israel secara positif dan menghindari narasi bias anti-Israel.”
Bagaimana caranya?
1. Membanjiri internet dengan konten pro-Israel – artikel, blog, esai, komentar, dan data yang disusun agar masuk ke korpus pelatihan model AI di masa depan.
2. Menguji dan memanipulasi sistem AI melalui prompt injection — mengajukan ribuan pertanyaan dengan pola tertentu untuk menilai apakah ChatGPT atau model lain menampilkan Israel secara negatif.
3. Melatih model lokal yang dapat disuntikkan melalui API atau plugin untuk menciptakan respons pro-Israel secara sistematis.
Dalam salah satu catatan, seorang konsultan digital Israel bahkan menulis:
“Tujuan akhirnya: agar mesin berbicara seperti diplomat kami.”
Kalimat itu terdengar seperti satire, namun mencerminkan strategi baru: membentuk kesadaran global melalui mesin.
—
Respons Dunia: Antara Etika dan Ancaman Demokrasi
Ketika berita ini mencuat, reaksi muncul dari berbagai kalangan.
The Guardian menyebutnya sebagai “batas baru perang pengaruh,” sementara The Intercept menyamakan langkah itu dengan operasi digital Rusia tahun 2016, namun kali ini “dilakukan dengan lisensi moral dari sekutu Barat.”
Profesor Kate Crawford, pakar etika AI dari USC, menilai:
“Jika negara mulai mengatur algoritma untuk berbicara sesuai kepentingan politik, maka kita kehilangan dasar etis dari kecerdasan buatan: objektivitas dan kebenaran.”
Dari sisi hukum, langkah Israel mungkin tidak melanggar undang-undang internasional, karena dilakukan lewat kontrak legal di AS. Namun substansinya problematik — sebab ia menyentuh batas halus antara pengaruh (influence) dan intervensi (interference).
Departemen Kehakiman AS kini memeriksa apakah kampanye ini mematuhi FARA sepenuhnya. Jika tidak, konsekuensinya bisa besar — bukan hanya bagi kontraktor, tapi juga bagi hubungan diplomatik kedua negara.
—
AI dan Spirit Propaganda: Dari Hasbara ke “Digital Zionism”
Kita pernah melihat perang informasi seperti ini: dari propaganda Perang Dingin, hingga operasi Cambridge Analytica yang menggoyang demokrasi Barat.
Namun kali ini ada sesuatu yang lebih halus — propaganda yang mengalir dalam bahasa mesin.
AI tidak marah, tidak takut, tidak percaya — tapi ia “belajar” dari data manusia. Jika data itu sudah dipenuhi narasi yang condong ke satu pihak, maka hasilnya adalah bias yang tampak objektif.
Inilah bentuk baru hasbara — bukan lagi brosur diplomatik, tapi sistem algoritmik yang memberi kesan netral sambil mengulang pandangan tertentu.
Seorang mantan analis teknologi informasi di Tel Aviv, yang diwawancarai Haaretz secara anonim, menyebutnya begini:
“Dulu kami kirim diplomat ke PBB. Sekarang kami kirim kode ke server.”
—
Bayangan Bahaya: Ketika AI Menjadi Senjata Retoris
Masalahnya bukan hanya soal Israel.
Begitu preseden ini dibiarkan, negara mana pun dapat meniru: Cina, Rusia, bahkan aktor non-negara.
Bayangkan dunia di mana setiap negara membentuk “model AI nasional” yang memuliakan dirinya sendiri dan mendiskreditkan lawannya — bukan dengan sensor, tapi dengan pembiasan data yang halus.
Dr. Yuval Harari pernah memperingatkan:
“Perang abad ke-21 bukan lagi antara tentara, tapi antara narasi. Siapa yang menguasai algoritma, menguasai kesadaran umat manusia.”
Dalam konteks itu, AI Hasbara hanyalah gejala pertama dari krisis yang lebih dalam: hilangnya kepercayaan terhadap kebenaran.
BACA JUGA: Runtuhnya Benteng-benteng Kokoh Yahudi di Madinah
Ironi dan Refleksi: Kebenaran yang Dikodifikasi
Kita bisa memahami motivasi Israel: reputasi mereka hancur di mata dunia akibat perang Gaza; mereka merasa dikepung narasi global yang memojokkan. Tapi justru di sinilah ironi terbesar muncul:
Alih-alih mengakui kesalahan, Israel memilih membangun sistem yang membuat kesalahan tampak benar.
Dan itu, dalam bahasa moral, lebih berbahaya dari dosa itu sendiri.
Seorang teolog Palestina di Bethlehem Bible College, Rev. Munther Isaac, menulis dalam tulisannya:
“Kebenaran yang direkayasa tetaplah kebohongan, walau dibungkus algoritma.”
Kalimat itu terasa menampar, bukan hanya bagi Israel, tapi juga bagi dunia modern yang mulai menyerahkan tafsir kebenaran kepada mesin.
—
Penutup: Antara Doa dan Data
Kini, batas antara doa dan propaganda semakin tipis.
Di satu sisi, jemaat gereja di Amerika benar-benar berdoa untuk damai.
Di sisi lain, algoritma di server raksasa sedang bekerja keras agar doa itu diarahkan ke satu pihak saja.
Kita hidup di zaman di mana kebenaran tidak lagi ditemukan, tetapi diprogram.
Dan mungkin, ini adalah bab baru dari kisah lama manusia:
ketika pengetahuan diserahkan kepada mesin,
maka kebenaran pun menjadi komoditas — dijual kepada yang paling mampu membayarnya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE




