Gencatan yang Tak Pernah Damai
DI atas reruntuhan Gaza yang berdebu, kata “gencatan senjata” terdengar seperti doa yang selalu dipatahkan sebelum selesai diucapkan.
Setiap hari, peluru dan bom menyalakan langit malam, menandai berakhirnya satu lagi “kesepakatan sementara” yang tak pernah sungguh-sungguh dipegang oleh pihak Israel.
Namun bagi Hamas, bahkan gencatan yang dikhianati tetap memiliki nilai strategis. Ia memberi waktu — untuk merawat luka, memperbaiki terowongan, mengatur ulang komunikasi di bawah tanah, dan menilai efek serangan terhadap moral pasukan Israel.
Setiap pelanggaran gencatan oleh Tel Aviv juga memperkuat narasi Hamas: bahwa Israel bukanlah pihak yang bisa dipercaya, bahwa dunia harus melihat ketimpangan dalam perjanjian yang selalu dirancang untuk menjerat, bukan mendamaikan.
“Selama gencatan senjata ini terus dilanggar, Hamas justru menang dalam perang narasi,” tulis Al Jazeera dalam editorialnya pekan lalu.
“Setiap rudal yang jatuh selama masa jeda menjadi bukti baru dari kemunafikan Israel di mata publik global.”
—
Harga Politik dari Setiap Ledakan
Bagi Israel, setiap pelanggaran gencatan senjata adalah risiko ganda.
Pertama, di mata dunia internasional — terutama di Washington dan Eropa — citra Israel semakin sulit dibela. Kedua, di dalam negeri sendiri, publik yang kelelahan mulai mempertanyakan: siapa sebenarnya yang memimpin negara ini?
Sebuah laporan Reuters mencatat penurunan signifikan tingkat kepercayaan publik terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang kini menghadapi dua medan sekaligus: perang di Gaza dan perang di pengadilan.
Pekan ini, pengadilan distrik Yerusalem kembali membuka sidang kasus “Gift Affair”, di mana Netanyahu dituduh menerima hadiah mewah dan imbalan politik dari konglomerat media besar.
BACA JUGA: 6 Kegagalan Besar IDF di 7 Oktober 2023
Di ruang sidang, menurut laporan Haaretz, Netanyahu tampak lebih lelah daripada biasanya.
Bibirnya kaku, dan tangannya sesekali menepuk meja dengan ritme gugup. Jaksa menampilkan rekaman percakapan internal antara stafnya yang saling bertentangan dengan kesaksian perdana menteri sendiri.
Bagi sebagian analis, momen ini menandai fase baru dari krisis politik Israel: ketika “pahlawan perang” yang mengaku membela keamanan nasional ternyata terancam jatuh bukan oleh musuh di Gaza, tetapi oleh kebohongan di dalam sistemnya sendiri.
—
Surat dari Florida: Trump Turun Tangan
Kurang dari 24 jam setelah Menteri Urusan Strategis Ron Dermer mengundurkan diri — tanda lain dari retaknya lingkaran dalam Netanyahu — sebuah surat mendarat di meja Presiden Israel Isaac Herzog.
Pengirimnya: Donald J. Trump.
Isi surat itu singkat tapi keras.
Trump menuntut Herzog untuk memberikan “pengampunan penuh” bagi Netanyahu, yang ia sebut sebagai “pemimpin luar biasa dan tegas di masa perang.”
Surat tersebut, yang dikonfirmasi Politico dan AP News, menyebut bahwa dakwaan terhadap Netanyahu adalah “witch-hunt politik” — sebuah ungkapan yang sama persis digunakan Trump untuk menggambarkan proses hukum terhadap dirinya sendiri di Amerika.
Kantor Presiden Herzog segera menanggapi dengan nada hati-hati.
Menurut hukum Israel, pengampunan hanya dapat diajukan oleh terdakwa sendiri, dan biasanya baru dipertimbangkan setelah proses hukum tuntas.
Namun lebih dari soal prosedur, substansi surat Trump itu menyingkap hal yang lebih besar: ketakutan Netanyahu sendiri.
—
Jerat yang Semakin Ketat
Yossi Verter, kolumnis senior Haaretz, menulis dengan tajam:
“Surat Trump itu tidak muncul dari ruang hampa. Ia adalah cermin kepanikan Netanyahu. Semakin keras ia mengklaim dirinya korban, semakin jelas bahwa jerat hukum telah mendekapnya.”
Netanyahu memang bukan pemimpin pertama Israel yang tersandung kasus korupsi, tetapi ia adalah yang paling keras menolak tunduk.
Alih-alih fokus pada pembelaan hukum, ia berusaha mengubah proses pengadilan menjadi arena politik.
Setiap kali bukti baru muncul, ia menyerang jaksa penuntut, menyebut media sebagai “alat kiri radikal”, dan menjadikan perang di Gaza sebagai tameng moral.
Namun strategi itu kini mulai retak.
Kebohongan dan versi kontradiktif dari kesaksiannya terungkap satu per satu.
Pengunduran diri Dermer — orang kepercayaannya — memperburuk kesan bahwa bahkan lingkaran inti pemerintahannya sudah goyah.
Dalam konteks itu, surat Trump tampak seperti napas buatan: sebuah intervensi untuk menjaga “simbol” kekuasaan konservatif global agar tidak jatuh secara memalukan.
—
“Solidaritas” Elite Konservatif Internasional
Intervensi Trump bukan semata soal pertemanan pribadi. Ia juga cerminan dari jaringan politik global yang ingin mempertahankan mitra ideologis di Timur Tengah.
Netanyahu adalah tokoh kunci dalam poros konservatif internasional yang menghubungkan kelompok kanan AS, pemerintahan sayap kanan Eropa Timur, dan lobi Zionis evangelis.
Menurut The Guardian, Trump dan Netanyahu sudah lama saling meminjam legitimasi.
Trump butuh dukungan dari pemilih evangelis yang pro-Israel; Netanyahu butuh pengaruh politik AS untuk menekan lawan-lawannya di dalam negeri dan di PBB.
Kini, ketika keduanya sama-sama terjerat kasus hukum, hubungan itu berubah menjadi “persekutuan penyintas”.
“Trump menulis surat itu bukan hanya untuk Netanyahu, tapi untuk dirinya sendiri,” tulis New York Times.
“Dengan membela Netanyahu, ia sedang menegaskan bahwa kriminalisasi elite kanan adalah konspirasi global.”
—
Herzog dan Dilema Kedaulatan
Bagi Presiden Israel Isaac Herzog, surat itu adalah ujian paling sulit dalam masa jabatannya.
Secara hukum, ia tidak bisa memberikan pengampunan tanpa dasar yang sah.
Namun secara politik, tekanan dari AS — terutama dari figur seperti Trump — tak bisa diabaikan begitu saja.
Herzog, yang sejatinya berasal dari Partai Buruh (sayap tengah), berusaha menampilkan diri sebagai figur pemersatu bangsa. Tapi surat Trump menyeretnya ke pusaran yang sama: antara menjaga prosedur hukum dan menghindari krisis diplomatik.
Haaretz mencatat dengan getir, “Alih-alih berdiri sebagai presiden negara berdaulat, Herzog tampak seperti pejabat rendahan yang takut menolak tekanan eksternal.”
Reaksi publik pun terbelah.
Kelompok pro-Netanyahu menuduh media bersekongkol menjatuhkan “pemimpin perang”, sementara kelompok liberal menyebut bahwa ini bukti Israel telah kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
—
Gaza, Netanyahu, dan Politik Penyelamatan Diri
Bagi Netanyahu, perang di Gaza bukan hanya soal menghancurkan Hamas, melainkan juga strategi bertahan hidup.
Setiap kali kritik terhadapnya menguat, ia mengalihkan narasi: bahwa di saat bangsa berperang, rakyat harus bersatu di belakang pemimpinnya.
Namun gencatan senjata yang terus dilanggar justru memukul balik citra itu.
Bukan Hamas yang tampak kehilangan kendali, melainkan Netanyahu sendiri.
“Setiap pelanggaran yang tidak terkendali memperlihatkan bahwa pemerintah gagal mengatur bahkan pasukan sendiri,” kata analis keamanan Israel di Times of Israel.
Lebih dari itu, gencatan senjata yang gagal menjadi simbol paradoks politik Netanyahu:
di satu sisi ia memerlukan perang untuk menunda tekanan hukum, tapi di sisi lain setiap kegagalan perang justru mempercepat kehancuran karier politiknya.
—
Keuntungan Tersembunyi bagi Hamas
Ironisnya, di tengah kehancuran fisik yang parah, Hamas justru memetik keuntungan politik dari gencatan yang dikhianati.
Bagi mereka, setiap pelanggaran menjadi bukti moral bahwa perjuangan belum selesai, dan bahwa musuh melanggar perjanjian Tuhan dan manusia sekaligus.
Dalam kacamata geopolitik, Hamas berhasil menjaga ritme konflik tetap “terkendali tapi berlanjut” — cukup untuk menjaga semangat perlawanan hidup, namun tidak sampai kehilangan simpati dunia.
“Setiap serangan Israel selama masa gencatan adalah propaganda gratis bagi Hamas,” tulis Al Jazeera.
“Dunia melihat siapa yang menembak lebih dulu, dan siapa yang masih bertahan.”
Secara psikologis, Hamas mengubah posisi korban menjadi narasi perlawanan abadi — sedangkan Israel terperangkap dalam dilema etis yang semakin sulit dibela.
BACA JUGA: Hamas Kelabui Militer Tercanggih Dunia: Membangun Medan yang Tak Bisa Dijangkau Teknologi
Bayang-bayang Politik Amerika
Di Washington, surat Trump menimbulkan kehebohan tersendiri.
Demokrat menuduhnya melemahkan independensi hukum negara sekutu, sementara kubu Republik menganggapnya sebagai solidaritas antar-pemimpin konservatif yang dipersekusi.
Namun di balik semua itu, satu hal menjadi jelas: Israel bukan lagi urusan internal Israel.
Ia telah menjadi panggung simbolik tempat ideologi global saling menguji kekuatan.
Bagi banyak diplomat, permintaan Trump memperlihatkan bagaimana hubungan AS-Israel kini lebih personal ketimbang institusional.
Hubungan antarnegara digantikan oleh hubungan antar-figur.
Dan ketika figur-figur itu sama-sama menghadapi ancaman hukum, diplomasi berubah menjadi jaringan saling menyelamatkan.
—
Politik di Ujung Tali
Di Yerusalem, Netanyahu kini berdiri di atas dua jurang: pengadilan yang terus berjalan dan kepercayaan publik yang terus menurun.
Setiap manuver politik, setiap pidato perang, dan setiap foto bersama jenderal kini dibaca publik bukan sebagai strategi nasional, melainkan sebagai strategi pribadi untuk bertahan hidup.
Yossi Verter menulis dengan getir dalam kolomnya di Haaretz:
“Netanyahu berperang bukan untuk Israel, tapi untuk dirinya sendiri. Ia berperang melawan waktu, melawan pengadilan, dan melawan sejarah yang akan menulis namanya dengan tinta korupsi.”
Namun sejarah kadang berpihak pada yang terdesak.
Bagi sebagian rakyat Israel yang masih melihatnya sebagai figur keamanan nasional, Netanyahu tetap simbol stabilitas di dunia yang kacau.
Mereka percaya hanya dia yang bisa “mengendalikan” Gaza, Iran, dan bahkan Washington.
Masalahnya: ketika pemimpin menjadi terlalu kuat untuk diadili, negara menjadi terlalu lemah untuk hidup sehat. []
—
Dari Gencatan ke Krisis Politik
Kini, setiap pelanggaran gencatan senjata, setiap suara ledakan di Gaza, dan setiap langkah kecil di pengadilan Yerusalem menjadi bagian dari satu cerita besar: kisah tentang bagaimana perang luar negeri dipakai untuk menutupi perang dalam negeri.
Hamas memahami itu — dan memanfaatkannya.
Israel, di sisi lain, terperangkap dalam lingkaran: menolak damai berarti memperpanjang perang, menerima damai berarti membuka ruang bagi kekalahan politik Netanyahu.
Sementara Amerika Serikat, yang dulu menjadi “penengah”, kini berubah menjadi pemain.
Surat Trump hanyalah simbol bahwa kekuasaan global pun kini terbelah di antara loyalitas dan kepentingan pribadi.
—
Kesimpulan: Dunia dalam Cermin Gaza
Gencatan senjata Gaza yang terus dikhianati adalah metafora dari politik global hari ini — dunia yang menjanjikan perdamaian namun menyiapkan peluru di saat yang sama.
Bagi Hamas, gencatan adalah ruang bernafas; bagi Netanyahu, ia adalah cermin yang memperlihatkan wajah kekuasaan yang retak; dan bagi Trump, ia adalah panggung untuk memainkan politik pengampunan lintas benua.
Di tengah semua itu, yang paling kehilangan adalah rakyat biasa: warga Gaza yang hidup di antara debu dan ketidakpastian, serta rakyat Israel yang mulai menyadari bahwa ancaman terbesar bagi negaranya bukan datang dari luar, melainkan dari pemimpinnya sendiri.
—
Epilog
Ketika sejarah menulis bab ini nanti, mungkin ia akan berkata:
bahwa di tahun 2025, Gaza bukan hanya medan perang, melainkan juga cermin tempat dunia melihat dirinya sendiri —
tentang bagaimana kekuasaan, ketika diserang kebenaran, selalu mencari gencatan yang bisa ia khianati. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
