“Ini pertama kalinya saya melihat langit tanpa pagar sejak Maret,” kata Ibrahim Abu Odeh, mantan tahanan Gaza yang baru dibebaskan. Di langit yang buram itu, kebebasan terasa seperti luka yang masih basah.
Sistem Penyiksaan yang Terorganisir
Laporan terbaru dari Pusat Hak Asasi Manusia Palestina (PCHR) mengungkap fakta mengerikan: penyiksaan terhadap warga Palestina di penjara-penjara Israel bukanlah insiden terpisah, melainkan pola sistematis yang telah menjadi bagian dari operasi militer dan penegakan keamanan Israel sejak perang di Gaza pecah Oktober 2023.
Kesaksian para tahanan yang baru dibebaskan menunjukkan bahwa mereka mengalami pemerkosaan, pemaksaan menelanjangi diri, penyiksaan fisik, serangan seksual dengan benda, serangan anjing, dan penghinaan psikologis yang disengaja. Banyak dari mereka disiksa sambil direkam oleh tentara.
PCHR menegaskan, tindakan-tindakan ini bukan bagian dari interogasi resmi, melainkan alat penghancur moral dan identitas manusia. Ribuan tahanan ditahan tanpa dakwaan, tanpa pengadilan, dan tanpa akses pengacara.
Pemerkosaan dan Kekerasan Brutal di Balik Dinding
Seorang perempuan Palestina berusia 42 tahun menceritakan kepada PCHR bahwa ia diperkosa empat kali oleh tentara Israel.
“Mereka menutup mata saya, memborgol tangan ke ranjang logam, dan tertawa sambil merekam. Saya berharap mati saat itu juga.”
Kesaksian lain datang dari seorang pria berusia 35 tahun yang ditahan di Rumah Sakit al-Shifa, kemudian dibawa ke kamp militer Sde Teiman. Ia mengaku diperkosa oleh anjing polisi saat disiksa.
“Tentara membiarkan anjing itu memanjat saya. Mereka tertawa sambil menyemprot wajah saya dengan gas. Saya dijahit tanpa anestesi setelah itu.”
Menurut laporan PCHR, dokter militer Israel turut serta dalam penyiksaan, menolak memberikan perawatan, bahkan menampar tahanan yang meminta pertolongan medis.
“Tidak Ada Siang dan Malam di Penjara Ofer”
Ibrahim Abu Odeh, seorang warga Gaza berusia 35 tahun, ditahan selama tujuh bulan di Penjara Ofer, Tepi Barat.
“Kami tidak tahu kapan siang dan malam. Mereka menyerbu sel setiap beberapa jam, menendang kami, menyiram air dingin ke tubuh kami, lalu memulai interogasi baru.”
Ia menuturkan bahwa banyak tahanan kehilangan kesadaran dan kemudian diserang lebih brutal.
“Mereka bisa mengambil segalanya — kecuali harga diri yang saya simpan.”
Dokter yang Disiksa, Rumah yang Hilang
Mohammed Abu Musa, dokter Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, ditangkap saat sedang bertugas pada Februari 2024.
“Saya tidak membawa senjata, hanya stetoskop. Tapi mereka menendang saya dan menutup mata saya. Sejak itu, saya tak melihat matahari selama 20 bulan.”
Di kamp penahanan Sde Teiman, ia dipaksa berlutut selama berjam-jam, dengan tangan terikat di belakang punggung. Akses toilet hanya dua kali seminggu.
“Hari-hari di sana seperti di kuburan terbuka. Tapi saya terus mengingat pasien saya — itu yang membuat saya tetap hidup.”
Saat dibebaskan, berat badannya turun 20 kilogram. Namun tragedi terbesar menunggunya di luar: ibunya tewas dalam serangan udara Israel.
“Saya selamat dari penyiksaan hanya untuk menemukan rumah saya kosong. Saya menangis di makam ibu saya — bukan di ruang interogasi.”
Perempuan dan Jurnalis di Balik Jeruji
Yasmine Abu Srour, 26 tahun, asal Betlehem, telah empat kali dipenjara.
“Di dalam penjara Israel tidak ada kehidupan. Tidak ada air bersih, tidak ada sabun, tidak ada martabat. Tapi Gaza-lah yang membayar kebebasan kami.”
Sementara jurnalis Bushra al-Tawil, yang telah enam kali ditahan, menyebut Penjara Sharon sebagai “neraka yang tidak pernah tidur.”
“Kami disiksa setiap hari, diisolasi, diintimidasi. Tapi kebebasan belum lengkap sebelum tahanan terakhir dibebaskan.”
BACA JUGA: Tahanan Palestina yang Ditolak Dibebaskan oleh Israel: Menunggu Momentum Nabi Yusuf Keluar Penjara?
Wanita Tua di Sel Isolasi
Abla Saadat, 67 tahun, istri Sekretaris Jenderal Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP), Ahmed Saadat, menceritakan kisah penahanannya pada September 2024:
“Saya dikurung sendirian di ruang dua meter tanpa jendela selama dua belas hari. Mereka ingin saya menyerah. Tapi saya mengingat suara cucu-cucu saya — itu kekuatan saya.”
Tubuh yang Luka, Jiwa yang Retak
Menurut data Komisi Urusan Tahanan Palestina, sekitar 11.000 warga Palestina masih mendekam di penjara-penjara Israel, termasuk 4.000 warga Gaza, sebagian besar tanpa dakwaan.
Dr. Mohammed Zaqout, Direktur Rumah Sakit Lapangan Gaza, menyebut lebih dari 70 persen tahanan yang dibebaskan menderita kudis, patah tulang, malnutrisi, dan trauma berat.
“Banyak yang menolak membuka pakaian saat pemeriksaan medis, karena setiap jas putih mengingatkan mereka pada penyiksaan.”
“Kami Keluar dari Penjara, Tapi Dunia Masih Terkurung”
Mantan narapidana Ahmed Faisal menyimpulkan penderitaan kolektif itu dengan satu kalimat:
“Kami keluar dengan tubuh yang hancur, tapi jiwa kami tetap tertinggal di sel tanpa cahaya.”
Kini, di tenda-tenda pengungsian Gaza, para tahanan yang dibebaskan tidur di tanah, dihantui mimpi buruk dan keinginan bunuh diri. Mereka hidup di antara dua bentuk penjara — yang satu berdinding baja, dan yang lain berdinding trauma. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

