Kisah Semangkuk Bakmi

Dini Koswarini
5 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

ALKISAH, seorang anak keluar dari rumah dengan hati yang panas dan kata-kata yang tak seharusnya terucap. Pertengkaran kecil dengan ibunya meletup menjadi dinding tinggi yang memisahkan keduanya. Dengan langkah gontai, ia berjalan tanpa arah—hanya membawa amarah, tanpa membawa uang, tanpa membawa pulang.

Perutnya mulai berteriak. Di depan sebuah depot bakmi yang hangat, ia berhenti. Aroma kuah mengepul dari dapur, seperti tangan lembut yang mengusap bahu dan berkata, “Pulanglah.” Tapi ia tetap berdiri kaku, memeluk lapar dan gengsi.

Pemilik depot, lelaki tua dengan mata yang letih tapi ramah, keluar dan menatapnya lama.
“Nak, kau ingin makan bakmi?”
Anak itu mengangguk kecil, hampir tak terdengar suaranya ketika ia berkata,
“Tapi… aku tidak punya uang.”

BACA JUGA:  Amplop Titipan Ustad

Lelaki tua itu tersenyum pelan, seakan telah memahami seluruh kisah hidupnya hanya dari satu tatapan.
“Tak apa. Makanlah. Aku traktir.”

Semangkuk bakmi panas disodorkan ke meja—sederhana, tapi terasa seperti keajaiban kecil. Saat suapan pertama menyentuh lidah, sesuatu yang selama ini keras dalam dirinya mulai retak. Air matanya jatuh satu-satu, lalu deras, seperti hujan yang akhirnya tak tahan lagi menahan langit.

“Ada apa, Nak?” tanya pemilik depot dengan lembut, seolah berbicara kepada putranya sendiri.

Anak itu mengusap matanya, namun air mata justru semakin ramai.
“Aku hanya… terharu. Engkau orang asing, tapi memberiku semangkuk bakmi. Sedangkan ibuku… ia mengusirku. Engkau peduli padaku, padahal baru kenal.”

Lelaki tua itu terdiam sebentar, lalu berkata pelan—kalimat yang begitu sederhana, tapi menembus sampai ke tulang:
“Nak, aku hanya memberimu semangkuk bakmi. Dan kau sudah begitu berterima kasih. Tapi ibumu… ia telah memasak untukmu puluhan ribu kali. Mengapa kau tak pernah memikirkan itu?”

Kata-kata itu jatuh seperti batu ke dalam hati anak itu—tenggelam pelan, menimbulkan riak-riak penyesalan yang menyakitkan.
Mengapa ia tidak berpikir tentang itu?
Mengapa ia begitu cepat tersinggung, begitu mudah lupa, begitu sering mengeluh… pada orang yang telah mencintainya sejak sebelum ia bisa berjalan?

Ia menelan sisa bakminya dengan perut penuh makanan, tapi hati penuh haru. Kemudian ia bangkit dan berlari pulang—mengejar sesuatu yang lebih penting dari harga diri: seorang ibu yang tidak pernah tidur nyenyak jika anaknya belum kembali.

Di ambang pintu, ia melihat ibunya. Wajah yang tadi dimarahi itu kini penuh cemas, matanya mencari-cari seperti lampu yang kehilangan kapal. Begitu melihat putranya, ia menarik napas lega yang panjang.

“Nak… kau pulang. Masuklah. Ibu sudah siapkan makan malam.”

Hanya itu. Tidak ada marah, tidak ada sindiran, tidak ada tuntutan maaf. Hanya kehangatan. Hanya cinta. Cinta yang tidak pernah meletakkan syarat.

Dan di saat itu—barulah anak itu benar-benar pecah. Ia jatuh memeluk ibunya, menangis tanpa bisa menahan apa pun lagi.
Bukan karena dimarahi… tapi karena dimaafkan.
Karena disambut.
Karena dicintai tanpa syarat, meski ia baru saja pergi dengan amarah.

BACA JUGA:  Rencana Beli Sapi dan Insya Allah

Kadang satu kesalahan membuat kita lupa pada ribuan kebaikan.
Kadang kita memuji orang asing hanya karena satu kebaikan kecil, tapi lupa berterima kasih kepada orang-orang yang setiap hari memberi, memberi, dan memberi—tanpa henti. Orang tua terutama… ibu kita.

Padahal hidup menjadi jauh lebih indah jika kita pandai bersyukur.
Lebih hangat jika kita tahu berterima kasih.
Lebih lembut jika kita mengingat… bahwa cinta paling tulus sering kali ada tepat di rumah yang pintunya selalu terbuka.

Allah telah berpesan:

“Janganlah kamu mengatakan ‘ah’ kepada mereka, dan ucapkanlah perkataan yang mulia…”
“…Wahai Tuhanku, kasihilah mereka sebagaimana mereka telah mendidikku sejak kecil.”
(QS Al-Isra: 23–24)

Karena tidak ada semangkuk bakmi mana pun di dunia yang bisa menandingi kasih seorang ibu. Tidak pernah. Tidak akan. []

SUMBER: PERCIKAN IMAN

___________

Kirim tulisan Anda ke Islampos. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Silakan kirim ke: [email protected], dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel.

___________

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *