SALAH satu pembahasan besar dalam akidah Islam adalah mengenai kemungkinan melihat Allah di dunia dengan mata kepala. Keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah telah tegak dan kokoh bahwa tidak ada seorang pun manusia—baik mukmin maupun kafir—yang dapat melihat Allah di dunia, sampai ia meninggal dunia. Keyakinan ini bersandar pada dalil-dalil yang shahih dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta dijelaskan oleh para ulama salaf.
Hadis Nabi tentang Mustahilnya Melihat Allah di Dunia
Dalam riwayat Muslim no. 169, Rasulullah ﷺ memperingatkan umatnya tentang fitnah Dajjal, dan beliau menegaskan:
“Ketahuilah, tidak ada seorang pun di antara kalian dapat melihat Tuhannya ‘Azza wa Jalla sampai ia meninggal dunia.”
Hadis ini adalah nash (teks tegas) yang menunjukkan bahwa ru’yah (melihat Allah) tidak mungkin terjadi selama manusia masih hidup di dunia. Karena itu, siapa pun yang mengaku melihat Allah ketika masih hidup, maka ia telah menolak sabda Rasulullah ﷺ yang paling jelas.
Kisah Musa ‘Alaihissalam: Bukti Akal dan Wahyu
Nabi Musa ‘alaihis salam, salah satu dari Ulul Azmi yang paling mulia, pernah memohon untuk melihat Allah. Allah Ta’ala mengabadikan kisah ini dalam firman-Nya:
قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَانِي
“Musa berkata: ‘Ya Rabbku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.’ Allah berfirman: ‘Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku.’” (QS. Al-A’raf: 143)
Allah kemudian memerintahkan Musa untuk melihat gunung, agar menjadi bukti tentang kelemahan makhluk:
فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا
“Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh, dan Musa pun jatuh pingsan.” (QS. Al-A’raf: 143)
Jika gunung yang begitu kokoh hancur luluh, bagaimana mungkin manusia yang lemah mampu melihat Allah di dunia?
Karena itulah, ulama salaf berkata:
Imam Al-Hafizh Ibn Katsir rahimahullah berkata: “Ini adalah dalil paling jelas bahwa melihat Allah di dunia adalah mustahil.”
Sementara Imam Al-Qurthubi rahimahullah menyatakan: “Ayat ini adalah nash yang menolak kemungkinan melihat Allah dengan mata kepala selama di dunia.”
Maka siapa pun yang mengaku melihat Allah di dunia, ia telah menyangka dirinya lebih mulia dan lebih tinggi kedudukannya dari Nabi Musa ‘alaihissalam, dan ini adalah klaim yang batil.
Penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Telah tetap dengan nash Al-Qur’an bahwa Musa dikatakan kepadanya: ‘Engkau tidak akan bisa melihat-Ku.’ Dan melihat Allah adalah perkara yang lebih agung daripada turunnya kitab dari langit.” (Majmu’ Fatawa 2/336)
Beliau menegaskan: “Semua orang yang mengaku melihat Tuhannya dengan kedua mata sebelum mati, maka pengakuannya itu batil menurut kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jamaah.” (Majmu’ Fatawa 3/389)
Dan beliau juga mengatakan: “Tidak ada seorang pun dari umat Islam dapat melihat Allah dengan kedua matanya di dunia. Perselisihan hanya terjadi pada Nabi Muhammad ﷺ secara khusus. Dan mayoritas ulama menyatakan bahwa Nabi ﷺ pun tidak melihat Allah dengan mata kepala.” (Majmu’ Fatawa 2/335)
Pandangan Ulama Salaf Lainnya
Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata tentang peristiwa Isra’ Mi’raj: “Beliau melihat-Nya dengan hati, bukan dengan mata.”
Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Barang siapa mengaku melihat Allah di dunia dengan matanya, maka ia telah kafir.”
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menegaskan: “Di dunia, manusia tidak akan mampu melihat-Nya. Akan tetapi di akhirat, orang beriman akan melihat Rabb mereka dengan mata kepala.”
Makna ini menjadi pembeda besar antara kebenaran Ahlus Sunnah dan kesesatan kaum sufi ekstrim atau batiniyah yang mengklaim mendapatkan ru’yah di dunia melalui mimpi, dzikir tertentu, atau penyaksian batin.
Melihat Allah di Akhirat: Nikmat Terbesar
Meskipun melihat Allah di dunia adalah mustahil, tetapi melihat Allah di akhirat adalah kenikmatan terbesar bagi penghuni surga, sebagaimana firman-Nya:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
“Pada hari itu wajah-wajah mereka berseri, mereka melihat kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Qiyamah: 22–23)
Dan sabda Nabi ﷺ: “Kalian pasti akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama tanpa terhalang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah puncak kenikmatan surga, melebihi seluruh kenikmatan lainnya.
Kesimpulan
Melihat Allah di dunia adalah mustahil berdasarkan dalil Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’ ulama.
Siapa pun yang mengaku melihat Allah ketika masih hidup, maka ia telah tersesat.
Melihat Allah adalah nikmat terbesar bagi ahli surga.
Seorang muslim wajib berpegang teguh pada akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan menjauhi keyakinan menyimpang. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

