DALAM Islam, larangan bukanlah belenggu, tetapi benteng. Rasulullah ﷺ memberikan sejumlah larangan bukan untuk mempersempit hidup manusia, tetapi untuk menjaga kehormatan, kesehatan jiwa, dan keselamatan dunia akhirat. Ulama salaf pun menaruh perhatian besar terhadap larangan-larangan ini, memberikan penjelasan agar umat tak hanya tahu apa yang dilarang, tetapi mengapa itu berbahaya.
Sahabat Islampos Media, berikut penjelasan dari beberapa larangan Rasulullah ﷺ yang penting kita jaga bersama.
1. Mengemis
Rasulullah ﷺ melarang umatnya meminta-minta tanpa kebutuhan darurat.
Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa mengemis merusak kehormatan jiwa dan menumbuhkan sifat malas, padahal Islam memerintahkan kerja dan kemandirian. Ia mengatakan: “Meminta-minta tanpa kebutuhan adalah kehinaan yang dicela syariat.”
Imam Ahmad juga menegaskan: “Orang yang mampu bekerja namun meminta-minta, maka ia telah membuka pintu kehinaan bagi dirinya.”
BACA JUGA: Istilah-Istilah Dasar dalam Ilmu Fiqh yang Berkaitan dengan Perintah dan Larangan
2. Tidur Setelah Subuh
Para ulama salaf memakruhkan tidur setelah Subuh.
Imam Ibnul Qayyim menyebut waktu setelah Subuh sebagai “waktu penuh berkah” yang semestinya digunakan untuk bekerja, belajar, atau berdzikir. Menurutnya, tidur pada waktu ini “menghilangkan rezeki” karena mengabaikan waktu yang diberkahi Allah.
3. Tidur Setelah Ashar
Larangan ini bukan haram, tetapi dianjurkan untuk dihindari. Banyak ulama salaf seperti Imam Sufyan Ats-Tsauri mengingatkan bahwa tidur setelah Ashar sering menyebabkan gangguan pikiran atau kepala pening. Mereka menilai tidur di waktu ini tidak membawa manfaat.
4. Berbuat Zalim
Zalim adalah kezaliman dalam bentuk apa pun.
Ibn Mas’ud berkata: “Zalim itu tiga: zalim yang tidak diampuni (syirik), zalim antara hamba dan Allah, dan zalim antar manusia.”
Imam Hasan Al-Bashri menegaskan: “Tidak ada dosa yang akibatnya lebih cepat menimpa pelakunya melebihi kezaliman kepada manusia.”
5. Ghibah atau Menggunjing
Imam Nawawi menegaskan bahwa ghibah adalah dosa besar berdasarkan nash Al-Qur’an dan hadits.
Imam Hasan Al-Bashri bahkan berkata: “Demi Allah, ghibah lebih berat bagi kami daripada memukul dengan pedang.”
Para ulama salaf memandang ghibah sebagai “pembunuhan karakter” yang meruntuhkan kehormatan saudara muslim.
6. Tertawa Terbahak-Bahak
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa tawa berlebihan mematikan hati dan menghilangkan wibawa.
Umar bin Khattab berkata: “Memperbanyak tertawa akan mematikan hati.”
Tertawa secukupnya dianjurkan, tetapi terbahak-bahak secara berlebihan dianggap merusak akhlak dan keseriusan jiwa.
7. Memotong Pembicaraan
Adab ini dijaga para ulama salaf dengan sangat ketat.
Imam Malik dikenal sangat menjaga adab ketika seseorang berbicara. Ia berkata: “Memotong pembicaraan adalah adab yang buruk, tidak dilakukan oleh orang yang menjaga lisannya.”
Rasulullah ﷺ sendiri sangat sabar mendengarkan setiap orang hingga selesai berbicara.
8. Makan dan Minum Sambil Berdiri
Larangan ini disebutkan dalam hadits shahih.
Ibnul Mubarak mengatakan bahwa makan dan minum sambil berdiri “lebih dekat kepada kemudharatan daripada kemanfaatan”.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hal ini termasuk adab, agar seseorang lebih tenang dan aman ketika makan maupun minum.
9. Shalat Saat Makanan Terhidang
Rasulullah ﷺ melarang shalat ketika makanan sudah tersaji.
Imam Ibnul Qayyim menegaskan: “Shalat tanpa kekhusyukan adalah kekurangan, dan makanan yang terhidang mengganggu kekhusyukan.”
Imam Malik juga memakruhkan shalat dalam keadaan lapar yang menyita fokus.
10. Memakan Harta Anak Yatim
Allah menyebutnya sebagai dosa besar.
Ibn Abbas mengatakan: “Mereka yang memakan harta anak yatim tanpa hak telah menggali lubang neraka bagi dirinya.”
Para ulama salaf memandang penjagaan harta anak yatim sebagai amanah besar yang tidak boleh dimainkan.
11. Menyentuh Lawan Jenis
Rasulullah ﷺ tidak pernah menyentuh wanita yang bukan mahram meskipun dalam baiat.
Imam Al-Qurthubi menafsirkan hadits-hadits tentang hal ini sebagai larangan tegas, karena dapat menjerumuskan pada fitnah.
Imam Ahmad juga berkata: “Tidak halal bagi laki-laki menyentuh wanita ajnabiyah meski tanpa syahwat.”
12. Memuji Secara Berlebihan
Imam Ibn Rajab menjelaskan bahwa pujian berlebihan bisa merusak jiwa orang yang dipuji.
Umar bin Khattab pernah melarang orang memuji-muji seseorang di depannya dan berkata: “Kalian telah mematahkan punggung saudara kalian.”
Para ulama salaf memandang pujian berlebihan sebagai “racun manis”.
BACA JUGA: 3 Larangan bagi Seorang Muslim
13. Mengambil Hak Orang Lain
Imam Ibn Taymiyyah menyebut mengambil hak orang lain sebagai bentuk kezaliman paling nyata.
Imam Hasan Al-Bashri berkata: “Tidak ada yang lebih aku takutkan bagi diriku daripada mengambil sesuatu yang bukan hakku meski sedikit.”
Rasulullah ﷺ memperingatkan keras bahwa siapa pun yang mengambil hak saudaranya akan menanggungnya di akhirat.
Penutup
Sahabat Islampos Media, larangan-larangan Rasulullah ﷺ ini bukan sekadar aturan, tetapi cahaya yang membimbing kehidupan kita. Ulama salaf memahaminya dengan kesungguhan, menegaskan bahwa setiap larangan memiliki hikmah besar, baik untuk memperbaiki akhlak, membersihkan hati, maupun menjaga hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia.
Semoga kita termasuk orang-orang yang memuliakan nasihat Nabi ﷺ dan menjadikannya pedoman dalam setiap langkah. Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap tunduk pada sunnah dan istiqamah dalam kebaikan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
