UKHUWAH bukan sekadar kata manis di mimbar. Bukan pula jargon persatuan yang ramai di spanduk. Dalam pandangan para ulama salaf, ukhuwah adalah amalan hati, diwujudkan dengan pengorbanan, kejujuran, dan kesetiaan dalam iman. Ukhuwah hidup dalam tindakan, bukan hanya dalam ucapan.
Imam Al-Auza’i rahimahullah berkata, “Bersabarlah di atas sunnah, berhentilah di mana kaum terdahulu berhenti, dan katakanlah sebagaimana mereka berkata.” Kalimat ini tidak hanya berbicara tentang manhaj, tetapi juga tentang kebersamaan. Ukhuwah menurut salaf dibangun di atas sunnah, bukan di atas kepentingan.
Para ulama salaf memandang ukhuwah sebagai konsekuensi iman. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10). Ayat ini tidak ditafsirkan secara teoritis oleh mereka, tetapi dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA: Hidup, Antara Merepotkan dan Direpotkan
Lihatlah contoh Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Ketika beliau dipenjara dan disiksa dalam peristiwa fitnah Al-Qur’an, banyak murid dan sahabatnya yang tetap setia mendukungnya. Mereka mengirim makanan, menyampaikan salam, dan mendoakan beliau secara sembunyi-sembunyi. Ukhuwah saat itu berarti keberanian berbagi risiko, bukan sekadar simpati dari jauh.
Contoh lain terlihat pada hubungan Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Meski berbeda usia dan latar belakang, keduanya saling mencintai karena Allah. Imam Syafi’i pernah berkata, “Aku keluar dari Baghdad dan tidak kutinggalkan seseorang yang lebih fakih, lebih wara’, dan lebih bertakwa daripada Ahmad bin Hanbal.” Pujian ini lahir dari hati yang bersih, tanpa iri, tanpa persaingan.
Ukhuwah salaf juga tampak dalam sikap mereka terhadap perbedaan. Perbedaan pendapat tidak memutuskan tali persaudaraan. Imam Malik rahimahullah pernah berbeda pendapat dengan murid-muridnya sendiri, namun tidak mencela mereka. Bahkan beliau berkata, “Setiap orang bisa diambil dan ditolak pendapatnya, kecuali penghuni kubur ini,” sambil menunjuk makam Nabi ﷺ. Ukhuwah bagi mereka lebih besar daripada ego keilmuan.
Dalam kehidupan sosial, para salaf saling menolong secara nyata. Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma sering memberikan makanan terbaiknya kepada tetangga dan saudara seiman, meskipun dirinya sendiri sederhana. Ukhuwah baginya adalah mendahulukan orang lain, bukan menumpuk untuk diri sendiri.
BACA JUGA: 5 Pembabakan Umat Islam Berdasarkan Hadist Nabi
Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata, “Saudaramu yang sejati adalah yang menegurmu ketika engkau salah, bukan yang membenarkan kesalahanmu.” Ini menunjukkan bahwa ukhuwah menurut salaf dibangun di atas nasihat, bukan basa-basi.
Ukhuwah ala salaf itu jujur. Kadang menyakitkan, tapi menyelamatkan. Kadang berat, tapi penuh berkah. Ia tidak runtuh oleh perbedaan, tidak rapuh oleh ujian, dan tidak mati oleh jarak.
Di zaman para ulama salaf, ukhuwah adalah napas perjuangan. Dan hingga hari ini, ia tetap menjadi kebutuhan umat. Bukan untuk dibicarakan semata, tetapi untuk dihidupkan kembali. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
