Apa Kata Para Sahabat dan Ulama Salaf tentang Ukhuwah?

Umar Faqih
3 Min Read
Olah Foto dari Freepik oleh Umar Faqih

UKHUWAH bukan sekadar istilah indah yang sering diulang di mimbar dan majelis. Ia adalah ruh yang menghidupkan persaudaraan kaum beriman, menguatkan langkah di jalan ketaatan, dan menjadi sebab turunnya rahmat Allah.

Para ulama salaf memandang ukhuwah sebagai kebutuhan iman, bukan pelengkap kehidupan. Karena itu, mereka sangat menjaga hubungan hati, saling menasihati dalam kebenaran, serta saling menolong dalam kebaikan dan takwa.

Dalam pandangan ulama salaf, ukhuwah lahir dari keikhlasan dan kesamaan tujuan menuju Allah, bukan dari kepentingan dunia, kelompok, atau fanatisme. Mereka menekankan bahwa rusaknya ukhuwah adalah tanda lemahnya iman, sementara kuatnya ukhuwah adalah bukti hidupnya hati.

Melalui perkataan dan teladan para sahabat dan ulama salaf, kita diajak memahami bahwa ukhuwah sejati menuntut pengorbanan, kelapangan dada, dan kesabaran—namun buahnya adalah manisnya iman dan kokohnya umat.

BACA JUGA:  8 Hal yang Merekatkan Ukhuwah

1. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu

“Saudaramu yang sejati adalah orang yang menolongmu, bukan yang memanfaatkanmu.”

(الأخ الحق من كان معك، ومن يضر نفسه لينفعك)

Perkataan ini menegaskan bahwa ukhuwah bukan sekadar kebersamaan lahiriah, tetapi pengorbanan dan ketulusan.

2. Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله

“Saudara-saudara kami lebih kami cintai daripada keluarga kami sendiri, karena keluarga mengingatkan kami pada dunia, sedangkan saudara mengingatkan kami pada akhirat.”

Ukhuwah karena iman menguatkan hati untuk tetap istiqamah menuju Allah.

3. Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله

“Jika engkau melihat saudaramu menyimpang, maka peganglah tangannya dan bawalah ia ke jalan yang benar.”

Ukhuwah bukan membiarkan kesalahan, tetapi saling menasihati dengan kasih sayang.

4. Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله

“Manusia lebih membutuhkan ukhuwah daripada makanan dan minuman.”

Karena makanan dibutuhkan sekali atau dua kali sehari, sedangkan ukhuwah dibutuhkan setiap waktu.

5. Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu

“Ukuran cinta seorang mukmin kepada saudaranya adalah sejauh mana ia membenci kemaksiatan yang dilakukan saudaranya itu.”

Cinta yang benar tidak merelakan saudaranya terjerumus dalam dosa.

6. Fudhail bin ‘Iyadh رحمه الله

“Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia jadikan baginya saudara-saudara yang menasihatinya.”

Nasihat yang jujur adalah tanda ukhuwah yang diberkahi.

7. Imam Asy-Syafi‘i رحمه الله

“Saudaramu yang jujur adalah yang menasihatimu secara diam-diam, bukan yang mempermalukanmu di hadapan manusia.”

Ukhuwah terjaga dengan adab dan kelembutan.

8. Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu

“Aku mencintai saudaraku dengan menyebut kebaikannya ketika ia tidak ada.”

Ini adalah tanda hati yang bersih dan persaudaraan yang tulus.

BACA JUGA: Ukhuwah Menurut Para Ulama Salaf: Ikatan Iman yang Dihidupi, Bukan Sekadar Diucapkan

9. Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu

“Janganlah engkau berprasangka buruk terhadap ucapan saudaramu, selama engkau masih bisa menafsirkannya dengan makna yang baik.”

Husnuzan adalah pondasi kuat bagi ukhuwah.

10. Imam Malik رحمه الله

“Tidaklah kebaikan umat ini terjaga kecuali dengan apa yang menjaga generasi awalnya.”

Ukhuwah salaf dibangun di atas akidah yang lurus dan akhlak yang benar. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *