Suami Tidak Mau Kerja, Maunya Diam Terus di Rumah, Istri Harus Bagaimana?

Dini Koswarini
3 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

PERTANYAAN: Suami saya sudah lama tidak bekerja. Sehari-hari hanya diam di rumah, tidak berusaha mencari nafkah, sementara kebutuhan keluarga terus berjalan. Saya lelah secara fisik dan batin. Dalam kondisi seperti ini, apa yang seharusnya saya lakukan istri menurut ajaran Islam dan juga ditinjau dari sisi psikologis?

JAWABAN:

Jawaban Secara Syar’i

Dalam Islam, nafkah adalah kewajiban suami, bukan istri. Allah Ta’ala berfirman:

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa: 34)

Diamnya suami Anda tanpa usaha, padahal mampu bekerja, bukanlah sikap yang dibenarkan secara syariat. Rasulullah ﷺ bahkan menyebut orang yang menelantarkan tanggung jawabnya sebagai bentuk kelalaian.

BACA JUGA: Suami Diam Istri Cari Nafkah, Bagaimana Pandangan Islam?

Namun, Islam juga tidak mengajarkan istri untuk bersikap kasar, merendahkan, atau mempermalukan suami. Langkah-langkah syar’i yang bisa ditempuh istri antara lain:

1- Menasihati dengan cara yang baik

Sampaikan kewajiban nafkah sebagai amanah, bukan sebagai tuduhan. Gunakan bahasa yang lembut namun tegas.

2- Mengajak bermuhasabah dan bertakwa

Ingatkan bahwa mencari nafkah halal adalah ibadah dan kehormatan seorang lelaki.

3- Memberi waktu untuk berubah, bukan membiarkan tanpa batas

Kesabaran dalam Islam bukan berarti membiarkan kemungkaran terus terjadi.

https://s.shopee.co.id/50ZGP5z2kN

4- Jika terus berlarut-larut, istri berhak mengadu dan mencari solusi

Istri boleh meminta bantuan keluarga, tokoh agama, atau bahkan mengajukan gugatan jika nafkah lahir benar-benar ditelantarkan.

Islam memuliakan perempuan. Istri tidak berdosa menuntut haknya.

Jawaban Secara Psikologis

Dari sisi psikologis, suami yang enggan bekerja dan memilih diam di rumah tidak selalu karena malas, bisa jadi karena:

  • Depresi
  • Merasa gagal dan kehilangan harga diri
  • Takut ditolak atau trauma kegagalan
  • Merasa tidak dihargai

Namun, memahami bukan berarti membenarkan.

Sikap istri yang disarankan secara psikologis:

1- Ajak bicara dari hati ke hati, bukan saat emosi

Tanyakan apa yang sebenarnya ia rasakan, bukan langsung menuntut hasil.

2- Pisahkan antara empati dan ketegasan

Istri boleh memahami luka batin suami, tapi tetap harus jelas: keluarga butuh kepastian.

3- Hindari terus-menerus “menyelamatkan” suami

Jika istri mengambil alih semua peran, suami bisa semakin tenggelam dalam pasifnya.

4- Dorong bantuan profesional jika perlu

Konselor keluarga atau psikolog bisa menjadi jalan keluar, bukan aib.

BACA JUGA: Kenapa Suami kalau Lagi Capek Sepulang Kerja, Maunya Jima sama Istri?

Penutup

Istri bukan pembantu, bukan pula korban yang harus diam.
Dan suami bukan anak kecil yang boleh lari dari tanggung jawab.

Islam dan psikologi bertemu pada satu titik:
Masalah rumah tangga harus dihadapi dengan kesadaran, komunikasi, dan keberanian untuk berubah.

Jika suami mau bangkit, istri dampingi.
Jika suami menolak bertanggung jawab, istri berhak menjaga dirinya dan masa depannya.

Karena rumah tangga dibangun untuk saling menguatkan,
bukan untuk saling melemahkan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *