INSYA-ALLAH.
Satu kata itu meluncur pelan dari bibir Cristiano Ronaldo.
Bukan sekadar penutup kalimat.
Bukan pula hiasan retorika.
Ia hadir di awal harapan, di pangkal ambisi, di titik temu antara rencana manusia dan kehendak langit.
Momen itu terjadi pada ajang Globe Soccer Awards 2025, Minggu (28/12/2025).
Di panggung megah Atlantis The Royal, Uni Emirat Arab, Ronaldo berdiri sebagai pemenang.
Bukan hanya sebagai legenda sepak bola dunia, tetapi juga sebagai simbol pergeseran zaman—ketika sepak bola, budaya, dan spiritualitas saling bersinggungan.
Megabintang Al Nassr itu dinobatkan sebagai Middle East Player of the Year.
Sebuah penghargaan yang menegaskan pengaruhnya di Timur Tengah, wilayah yang kini menjadi rumah baru dalam fase akhir kariernya.
CR7 mengungguli nama-nama besar: Karim Benzema, Riyad Mahrez, hingga Salem Al-Dawsari.
Nama-nama yang tak kecil.
Nama-nama yang lahir dan tumbuh dalam panas pasir dan sorak stadion Arab.
Namun malam itu bukan sekadar tentang trofi.
Bukan pula tentang kilau emas atau sorot kamera.
Sorotan justru tertuju pada satu kalimat pendek yang diucapkan Ronaldo saat menjawab pertanyaan tentang target pribadinya: 1.000 gol sepanjang karier.
“Saya pasti akan mencapai angka tersebut, jika tidak mengalami cedera, InsyaAllah.”
InsyaAllah.
Kata itu disambut tepuk tangan panjang.
Bukan hanya karena ambisinya.
Tetapi karena nuansa yang dibawanya.
Di usia 40 tahun, Cristiano Ronaldo masih berbicara tentang target besar.
Tentang angka yang nyaris mitologis.
Tentang tonggak sejarah yang hanya bisa didekati oleh segelintir manusia.
Namun kali ini, ia menyandarkan keyakinannya bukan hanya pada disiplin, latihan, dan fisik—tetapi juga pada izin Tuhan.
Sejak bergabung dengan Al Nassr dan menetap di Arab Saudi, Ronaldo memang kerap menunjukkan kedekatan dengan nuansa keislaman.
Ia tinggal di negeri yang ritme harinya ditandai oleh azan.
Negeri yang menghentikan aktivitas saat waktu salat tiba.
Negeri yang menjadikan kata InsyaAllah sebagai bagian dari percakapan sehari-hari.
Beberapa kali kamera menangkap Ronaldo menundukkan kepala dengan hormat saat azan berkumandang di stadion.
Ia juga dikenal menghormati bulan Ramadan, menyesuaikan jadwal latihan, dan menjaga sikap di ruang publik.
Media Saudi menyebutnya sebagai figur profesional yang cepat beradaptasi dengan nilai lokal, tanpa kehilangan jati diri.
Bagi banyak orang, kata InsyaAllah dari mulut Ronaldo mungkin terdengar sederhana.
Namun bagi publik Timur Tengah, itu adalah isyarat penghormatan.
Bahwa sebesar apa pun nama seseorang, ada kesadaran tentang keterbatasan manusia.
Bahwa di balik otot, rekor, dan statistik, ada pengakuan akan takdir.
BACA JUGA: Kenan Yıldız dan Penolakannya terhadap Tato
Cristiano Ronaldo kini telah melampaui 870 gol resmi sepanjang kariernya.
Angka 1.000 masih jauh, tetapi tidak mustahil.
Ia masih mencetak gol.
Masih menjadi tumpuan.
Masih menjaga tubuhnya dengan disiplin ekstrem.
Namun malam itu, yang paling diingat bukan hitungan matematis.
Melainkan satu kata yang lembut, namun berat makna.
InsyaAllah.
Di panggung gemerlap, di tengah dunia yang sering merasa bisa mengendalikan segalanya, seorang megabintang memilih bersandar.
Bukan pada kesombongan.
Tetapi pada harap.
Dan pada Tuhan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

