PERTANYAAN ini sering muncul.
Apalagi di zaman sekarang, murottal bisa diputar sambil kerja, nyetir, atau rebahan.
Lalu muncul rasa tenang.
Pahala dapat.
Tapi… apakah itu sudah sama dengan tilawah?
Mari kita luruskan pelan-pelan.
1. Apa Itu Tilawah Al-Qur’an?
Tilawah secara bahasa berarti membaca dengan mengikuti.
Dalam istilah syariat, tilawah adalah membaca Al-Qur’an dengan lisan, disertai tadabbur dan penghayatan.
Para ulama menjelaskan:
Tilawah mencakup lafaz, hati, dan amal.
Artinya:
- Dibaca dengan lisan
- Dihadirkan dengan hati
- Diamalkan dalam kehidupan
BACA JUGA: Bacalah Terus Al-Quran
Allah berfirman:
“Orang-orang yang Kami beri Kitab, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenar-benarnya.”
(QS. Al-Baqarah: 121)
Ayat ini oleh para ulama ditafsirkan:
bukan sekadar melihat tulisan, tapi melafalkan dan mengikuti maknanya.
2. Lalu Apa Itu Mendengarkan Murottal?
Mendengarkan murottal adalah istima’ (mendengar).
Ini amalan yang sangat dianjurkan.
Allah berfirman:
“Apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-A’raf: 204)
Ulama menjelaskan:
Mendengarkan Al-Qur’an dengan adab yang baik juga mendatangkan pahala dan rahmat.
Bahkan, banyak hati yang luluh bukan saat membaca,
tapi justru saat mendengar ayat-ayat Allah.
3. Apakah Mendengarkan Sama dengan Tilawah?
Jawabannya: tidak sama, tapi sama-sama bernilai ibadah.
Tilawah:
- Membaca dengan lisan
- Setiap huruf berpahala
“Alif satu pahala, Lam satu pahala, Mim satu pahala”
Mendengarkan murottal:
- Mendapat pahala mendengar
- Mendapat ketenangan dan rahmat
- Bisa menjadi sebab hidayah dan tadabbur
Ulama menegaskan:
Keutamaan pahala tilawah lebih besar,
karena ada usaha membaca, melafalkan, dan melatih lisan.
Namun mendengarkan bukan ibadah kelas dua.
Ia tetap ibadah mulia, terutama bagi:
- Orang yang belum lancar membaca
- Orang sakit
- Orang yang ingin menenangkan hati
4. Bolehkah Mengganti Tilawah dengan Murottal?
Kalau maksudnya menggantikan sepenuhnya, maka tidak ideal.
Para ulama menganjurkan:
- Tetap punya waktu membaca sendiri, walau sedikit
- Murottal dijadikan pendamping, bukan pengganti
Satu halaman dibaca sendiri.
Sisanya didengar.
Itu sudah sangat baik.
Ingat:
Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca, didengar, dan diamalkan.
BACA JUGA: Berapa Persen Umat Islam di Indonesia yang Bisa Membaca Al-Quran?
5. Kesimpulan
Mendengarkan murottal bukan tilawah,
tapi tetap ibadah yang berpahala.
Tilawah lebih utama karena ada bacaan lisan.
Murottal sangat bermanfaat untuk:
- Menenangkan hati
- Memperbaiki makhraj
- Menumbuhkan cinta pada Al-Qur’an
Idealnya?
Gabungkan keduanya.
Baca walau sedikit.
Dengar sesering mungkin.
Dan yang paling penting:
biarkan Al-Qur’an hidup dalam perilaku kita.
Semoga Allah menjadikan kita ahli Al-Qur’an,
yang membacanya, mendengarnya, dan mengamalkannya.
Aamiin. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

