SUATU hari, seorang ayah muda merekam anaknya yang baru belajar bicara. Kamera ponsel diarahkan dengan penuh harap. Senyum ditahan. Nafas dijaga.
“Ayo, Nak… bilang apa?”
“Ma… ma…”
Sorak kecil pun pecah. Video itu segera dibagikan. Caption-nya singkat namun penuh kebanggaan: “Kata pertama anakku.”
Di rumah lain, seorang ibu berjongkok di hadapan balitanya. Dengan nada riang ia mengeja,
“Ci… ci…”
“Ci…”
“Cinta mama…”
Ada pula yang mengajarkan,
“Papa… papa…”
“Atau: mobil… bola… susu…”
Tak ada yang salah. Semua itu wajar. Semua itu manusiawi. Orang tua ingin mendengar namanya disebut. Ingin menjadi kata pertama yang tinggal di ingatan anak.
BACA JUGA: Nabi ﷺ Menyapa Anak: Metode Menarik dan Menghidupkan Hati Anak dengan Ungkapan Lembut
Namun, di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan:
Apa kata pertama yang seharusnya menyentuh hati anak, sebelum dunia menyentuh lisannya?
Rasulullah ﷺ telah menjawabnya jauh sebelum kamera dan media sosial ada.
Dari Ibnu عباس radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ajarkan kepada anak-anak kalian pada permulaan bicaranya ucapan Laa Ilaaha Illallaah, dan ajarkan pula agar di akhir hayatnya mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah.”
Kalimat ini pendek. Namun di dalamnya terkandung peta kehidupan manusia—dari awal bicara hingga akhir nafas.
Bayangkan seorang anak yang baru belajar menggerakkan lidahnya. Kata-katanya masih terbata. Suaranya belum jelas. Namun di situlah hatinya masih bening, belum terisi hiruk-pikuk dunia.
Rasulullah ﷺ tidak memerintahkan untuk mengajarkan nama ayah terlebih dahulu.
Tidak pula menyebut harta, benda, atau simbol dunia.
Beliau menunjuk satu kalimat:
Laa Ilaaha Illallaah.
Kalimat tauhid.
Kalimat pembebasan.
Kalimat yang memutus ketergantungan pada selain Allah.
Mengapa harus di awal?
Karena apa yang pertama kali didengar, diucapkan, dan diingat oleh seorang anak, sering kali menjadi fondasi batinnya. Ia tumbuh bersama kata itu, bahkan sebelum ia memahami maknanya.
Tauhid tidak menunggu dewasa untuk ditanamkan.
Tauhid disemai sejak jiwa masih lunak.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Maka siapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah, Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam…”
(Al-An‘ām [6]:125)
Hidayah bukan hanya urusan usia dewasa. Ia adalah urusan dada. Dan dada itu mulai dibentuk sejak kecil—melalui kata, suara, dan pengulangan.
Kalimat tauhid yang terus diperdengarkan sejak dini adalah salah satu sebab Allah melapangkan dada seorang anak. Ia menjadi kalimat yang akrab. Tidak asing. Tidak berat.
Berbeda dengan anak yang pertama kali akrab dengan teriakan, umpatan, atau sekadar kata-kata kosong yang tak bernilai ruhani.
Di zaman ini, tanpa sadar, banyak orang tua mengajarkan hal lain sebagai “kata pertama”.
“Bilang: uang.”
“Bilang: HP.”
“Bilang: subscribe.”
Lidah anak dibimbing pada dunia sebelum dikenalkan kepada Tuhan.
Padahal Allah telah mengingatkan:
“Tidak ada satu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(Qāf [50]:18)
Setiap kata punya bobot.
Setiap lafaz meninggalkan jejak.
Jika demikian, betapa agungnya jika catatan awal lisan seorang anak diisi dengan kalimat tauhid.
Seorang ayah pernah berkata dengan nada menyesal,
“Anakku lancar bicara, tapi gagap menyebut nama Allah.”
Bukan karena anak itu bodoh.
Tetapi karena telinganya lebih dulu dibanjiri hal lain.
Anak belajar dari apa yang sering ia dengar.
Dan sering kali, yang paling sering terdengar bukan dzikir—melainkan suara dunia.
Mengajarkan Laa Ilaaha Illallaah bukan berarti memaksa anak memahami konsep teologis yang rumit. Tidak.
Ia cukup mendengarnya.
Menirukannya.
Menyebutnya dengan lugu.
Sebagaimana bayi belajar menyebut “ibu” tanpa memahami makna pengorbanan, anak belajar menyebut Laa Ilaaha Illallaah sebelum memahami makna ketuhanan.
Namun kata itu akan tumbuh bersamanya.
Kelak, ketika akalnya matang, kalimat itu tidak asing. Ia seperti pulang ke rumah yang sudah lama ia kenal.
Rasulullah ﷺ bukan hanya memerintahkan kalimat itu di awal bicara, tetapi juga di akhir hayat.
BACA JUGA: Cara Harun Al-Rasyid Mendidik Anaknya
Awal dan akhir disatukan oleh tauhid.
Seolah beliau berkata: “Jika awalmu lurus, akhir pun akan Allah jaga.”
Dan bukankah kita semua berharap akhir yang baik?
Barangkali inilah saatnya orang tua bertanya dengan jujur pada diri sendiri:
Apa kata yang paling sering kudiktekan pada anakku?
Apa suara yang paling sering ia dengar di rumah?
Apa kalimat yang ingin kuhadirkan dalam ingatannya yang paling awal?
Sebab anak tidak hanya mewarisi wajah dan nama keluarga.
Ia mewarisi kata-kata yang kita tanamkan.
Dan Rasulullah ﷺ telah menunjukkan pilihan terbaik:
Laa Ilaaha Illallaah.
Kalimat yang mengawali hidup.
Kalimat yang menutup usia.
Kalimat yang jika tertanam sejak dini, insyaAllah akan menjadi cahaya sepanjang jalan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

