17 Ramadhan 2 H: Malam dan Awal Badar

Nasrulloh Baksolahar
3 Min Read
Foto: Freepik

MALAM Jumat, 17 Ramadhan 2 H, Rasulullah ﷺ menyiapkan pasukan Muslimin menghadapi pertempuran yang akan menentukan arah sejarah. Dalam suasana hening itu, beliau menunjukkan satu per satu lokasi tempat para pemuka musyrik akan terbunuh.

Beliau menunjuk ke beberapa titik di tanah seraya bersabda, “Di sini si Fulan akan terbunuh besok, insya Allah. Di sini si Fulan.”

Riwayat dari Anas bin Malik menuturkan bahwa tidak seorang pun dari mereka yang meleset dari tempat yang telah ditunjukkan Rasulullah ﷺ. Penentuan itu menjadi tanda keyakinan dan keteguhan hati beliau sebelum pertempuran dimulai.

Malam itu, kaum Muslimin diliputi rasa kantuk yang menenangkan. Mereka tidur dengan pulas sehingga bangun dalam keadaan segar dan kuat. Al-Qur’an mengisyaratkan peristiwa ini sebagai bentuk ketenangan dari Allah sebelum pertempuran.

Sebaliknya, Rasulullah ﷺ tidak tidur sepanjang malam. Beliau berdiri dalam shalat dan doa hingga waktu fajar tiba. Setelah masuk waktu Subuh, beliau mengimami para sahabat dalam shalat, lalu kembali menyiapkan barisan.

https://s.shopee.co.id/70Djkx4cK3

Menjelang dimulainya pertempuran, Rasulullah ﷺ merapikan saf pasukan dan membangkitkan semangat mereka. Beliau bersabda:

“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, siapa yang berperang hari ini lalu terbunuh dalam keadaan sabar, mengharap ridha Allah, maju dan tidak mundur, maka Allah menjanjikan surga baginya.”

Ucapan itu meneguhkan tekad pasukan yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding musuh.

Beliau kemudian mengambil segenggam kerikil dan melemparkannya ke arah pasukan Quraisy seraya berkata, “Binasalah kalian!” Tindakan simbolik ini menjadi isyarat dimulainya konfrontasi.

Rasulullah ﷺ juga memerintahkan agar kaum Muslimin tidak menyerang orang-orang Quraisy yang dipaksa keluar dan bukan prajurit inti, menunjukkan bahwa pertempuran itu bukan sekadar pelampiasan dendam, melainkan konfrontasi yang terukur.

Pagi hari Jumat itu, kedua pasukan berdiri saling berhadapan. Dari barisan musyrik, keluar tiga tokoh utama: Utbah bin Rabi’ah, saudaranya Syaibah bin Rabi’ah, dan putranya Walid bin Utbah. Mereka menantang duel sebagai pembuka pertempuran.

BACA JUGA:  Malam-malam Puasa Ramadhan Rasulullah ﷺ di Badar

Beberapa pemuda Anshar maju memenuhi tantangan itu, namun ditolak oleh pihak Quraisy yang menghendaki lawan sepadan dari kalangan Quraisy juga.

Atas perintah Rasulullah ﷺ, maju tiga orang dari keluarga terdekat beliau: Hamzah bin Abdul Muthalib, Ubaidah bin al-Harits, dan Ali bin Abi Thalib.

Duel inilah yang menjadi pembuka resmi pertempuran Badar, sebelum kedua pasukan terlibat dalam pertempuran besar yang kemudian dikenal sebagai Yaumul Furqan—hari pembeda antara kebenaran dan kebatilan. []

Sumber: Nizar Abazhah, Perang Muhammad, Zaman, 2011

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *